Kemarau di Desa Tambakrejo Tetap Tanam Padi ke 3

avatar Ali Sugiarto
Kades Tambakrejo, Latip menunggui desel memindahkan air. (ist)
Kades Tambakrejo, Latip menunggui desel memindahkan air. (ist)

GRESIK | B-news.id - Hampir semua wilayah ketika puncak musim kemarau di bulan September - Oktober dipastikan tanah pertanian sudah kering dan retak, tentu saja tanaman susah untuk tumbuh.

Berbeda dengan Desa Tambakrejo, Kecamatan Duduksampeyan, hamparan sawah sekitar 380 hektar tampak hijau padi, dan sebagian berupa minapolitan ( perpaduan tanam padi dan tabur benih ikan ).

Baca Juga: Matematika Jadi Pelajaran Menyenangkan, Peningkatan Guru Dalam Penyajian

Desa Tambakrejo memiliki 3 dusun diantaranya : Gumining, Klampisan, dan Kaliombo,

Didukung ada embung seluas 60 hektar, meski di beberapa bagian terjadi pendangkalan dan perlu dilakukan rehabilitasi dengan mengeruk bagian embung dangkal dengan menggunakan alat berat, dan direncanakan segera di mulai.

Embung Sumengko yang terletak disebelah desa menjadi tumpuan dan kebetulan ada jaringan primer dan jaringan tersier, serta pintu air, sehingga pompa air berupa diesel tetap di perlukan untuk menaikkan air dari jaringan tersier menuju ke sawah masing masing.

Air dialirkan lewat pipa menuju ke sawah. (ist)

Baca Juga: Kawasan Kota Lama Gresik Menarik Wisatawan Mancanegara

Kades Tambakrejo, Latip yang baru menjabat 4 tahun yang lalu merasa senang bisa berkhidmat bagi warga masyarakat.

"Bagi kami pribadi, bisa menjadikan warga masyarakat semakin sejahtera adalah kebahagiaan kami, dan sebelum kami menjabat sebagai kepala desa, Kami sudah mempunyai pendapatan yang cukup untuk biaya hidup keluarga," teang Latip.

Lebih lanjut dikatakan , sekitar 70% penduduknya adalah bertani, dan sisanya adalah pekerja baik di pabrik dan bidang jasa, untuk pemilik sawah, meski harus mempekerjakan orang lain, ( buruh, preman.red) hasil panen tetap untung asal tidak ada hama yang parah.

Baca Juga: Sekda Gresik Dorong Industrialisasi Pertanian Berbasis Teknologi

"Ongkos kerja disawah yang disebut preman, sehari Rp 200 ribu, panen pakai alat, dan gabah langsung di jual sawah, itu tetap masih ada keuntungan," terangnya.

Salah satu petani Desa Tambakrejo, Hadi merasa beruntung dengan kepemimpinan dari Kades Latip, pasalnya jalanan menuju sawah sudah di keraskan dan bisa dilewati motor meski musim hujan.

"Dengan jalan menuju sawah yang sudah dikeraskan, maka arus transportasi menuju dan dari sawah, semakin lancar serta semakin mudah dalam membawa hasil panen ", ungkap Hadi. (*)

Berita Terbaru