Unisma Menanam Bibit Tanaman Al Quran di Bantaran Sungai Amprong

avatar b-news.id
Unisma melalui program GNRM menanam bibit tanaman Al Quran untuk mencegah erosi, banjir dan isu global warming. (Ist)
Unisma melalui program GNRM menanam bibit tanaman Al Quran untuk mencegah erosi, banjir dan isu global warming. (Ist)

Oleh Dr. Sama’ Iradat Tito S.Si.

MALANG | B-news.id – Universitas Islam Malang (Unisma) tanam tiga jenis bibit pohon yang  tercantum dalam Al Qur'an (pohon Zaitun, Kurma dan Tin). Gerakan tanam pohon ini sebagai sebagai aksi nyata gerakan revolusi mental, 

Unisma, melaksanakan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Tahun 2022 yang bekerja sama dengan Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). 

Salah satu inisiasi aksi nyata GNRM, yaitu melalui Gerakan Penanaman Sepuluh Juta Pohon. 

Penanaman sepuluh juta pohon ini, dimaksudkan untuk mendorong gerakan masyarakat terkait pencegahan tanah longsor dan banjir serta, kemandirian ekonomi masyarakat.

Upaya reboisasi secara luas, telah diuji sebagai cara pasti untuk mengurangi perubahan iklim, mengurangi hilangnya habitat dan melindungi keanekaragaman hayati.

Tapi faktanya, tidak sesederhana menancapkan tanaman baru di tanah. Adanya pemilihan tanaman yang tepat sangat dibutuhkan untuk tujuan yang diharapkan di masa yang akan datang.

Pembudidayaan tanaman/bibit pohon buah, telah lama dikembangkan di Universitas Islam Malang, memilih 3 tanaman utama yaitu Zaitun, Kurma dan Tin. 

Hasil budidaya ini berasal dari Laboratorium Taman Al Quran UNISMA, yang merupakan hasil budidaya dosen dan mahasiswa FMIPA. 

Tanaman ini banyak disebutkan di dalam kita suci Al Quran selain beberapa tanaman lainnya. 

Penempatan penanaman bibit tanaman AL Qur’an itu ada di 3 tempat, yaitu lahan rencana pembangunan Unisma Madyopuro, bantaran Sungai Amprong, dan DAM Rolak Kedungkandang. 

Mahasiswa Unisma saat melakukan kegiatan tanam pohon untuk mencegah erosi dan banjir di bantaran sungai. (Ist) 

Pelaksanaan dari Univeritas Islam Malang diwakili oleh Dr. Sama’ Iradat Tito SSi MSi, selanjutnya Dr Zuhkhriyan Zakaria MPd dan full team UKM Mahasiswa Pecinta Alam, Ranti Pager Aji (RPA) Unisma, dan Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). 

Unisma bergotong-royong menanam, bersama warga RW 4 Kelurahan Madyopuro, masyarakat area DAM Rolak Kedungkandang, serta Pengelola Pintu Air Rolak. 

Adapun target dari penanaman tanaman meliputi 2 fungsi yaitu fungsi secara ekologi dan fungsi secara ekonomi. 

Selain tanaman Al Qur’an, turut ditaman bibit buah alpukat, nangka, dan durian hasil budidaya dari laboratorium Fakultas Pertanian UNISMA. 

Sembari melakukan penanaman mereka juga mengadakan edukasi cara merawat dan membudidayakan tanaman tersebut.

Ini merupakan jawaban atas laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan sebanyak 1.945 kali bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang 2022.

Adapun kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 756 kali, tanah longsor 377 kali, cuaca ektrem 694 kali. Pemanasan global telah mengubah laju lingkungan.

Zaitun memiliki keutamaan, yaitu merupakan salah satu spesies tanaman yang paling tidak membutuhkan air. Sekitar 80% kebun zaitun dunia dibudidayakan dalam kondisi kering untuk penghidupan dan produksi. 

Berkat toleransinya terhadap kekeringan, dan fleksibilitas adaptasinya terhadap fluktuasi kondisi iklim, budidaya zaitun dapat dilakukan di bawah rezim air berkisar antara 100 dan 800mm / tahun sehingga tidak diperlukan perawatan yang intensif.

Unisma bersama warga adakan gerakan revolusi mental melalui tanam bibit pohon di bantaran sungai. (Ist) 

Distribusi geografis spesies ini pun tidak dibatasi oleh sifat tanah serta iklim sehingga disebut dengan 'vegetasi yang kaya dari tanah yang miskin'.

Tanaman zaitun tidak pernah sepenuhnya kehilangan daunnya meski di musim kering seperti tanaman yang lain karena daun baru diperbarui rata-rata selama 3 tahun.

Sehingga dapat dengan persisten dalam kapasitasnya untuk menyerap karbon CO2, memecah butiran hujan deras serta melawan erosi karena memfasilitasi limpasan dan peresapan air ke dalam tanah. 

Secara ekonomi, zaitun dapat mulai berbuah saat berusia 5 tahun dan pohon zaitun bisa menghasilkan buah 15-20 kg per tahun. 

Daun dan buah zaitun dapat dimanfaatkan untuk obat, kesehatan dan makanan. Buah diolah dan diambil minyaknya untuk meningkatkan kesehatan, mencegah kanker, memperbaiki kesehatan tulang, melawan infeksi, meningkatkan kesehatan jantung, obat diet, dan obat pengawet. 

Sedangkan ekstrak daunnya dijadikan obat tradisional sebagai penurun panas, mengobati infeksi malaria, menurunkan tensi darah, dan obat diabetes tipe 2. 

Untuk tanaman kedua adalah tanaman kurma. Tanaman kurma telah digunakan sebagai sumber makanan, membangun rumah, dan lansekap. Tanaman ini telah dibudidayakan di sepanjang sungai, mata air, dan di mana pun air tersedia. 

Tanaman kurma toleran terhadap garam dan kekeringan, selain dampaknya dalam memerangi penggurunan. Sehingga tanaman kurma bisa menjadi solusi alternatif atas salinisasi tanah yang terjadi di Indonesia. 

Salinitas, adalah salah satu cekaman abiotik yang mengakibatkan berkurangnya hasil dan produktivitas tanaman pertanian dan merupakan proses peningkatan kadar garam mudah larut di dalam tanah sehingga terbentuk lahan salin. 

Mahasiswa Unisma melakukan gerakan tanam bibit pohon Zaitun, Kurna dan Tin yang ada di dalam Al Quran. (Ist) 

Diperkirakan, lahan dekat pantai dan sungai yang rentan mengalami salinitas seluas 12,020 juta ha atau 6,20�ri total daratan Indonesia. 

Problem salinitas pada pertanian beririgasi sering terkait dengan muka air tanah. Peningkatan kapilaritas dari muka air tanah dangkal akan membawa kembali garam-garam masuk ke daerah perakaran dan menjadi suatu sumber garam berkelanjutan. 

Setiap tahun, luas lahan sawah yang ditinggalkan petani akibat mengalami salinisasi terus meningkat. Di Indonesia salinitas umumnya terjadi di lahan pertanian dekat pantai atau sungai yang disebabkan karena kenaikan permukaan air akibat perubahan iklim. 

Menanam pohon kurma juga akan mengarah pada perbaikan iklim lebih lanjut dengan mempertimbangkan tingkat transpirasi pohon yang rendah karena lapisan lilin yang cukup banyak melapisi permukaan daun. 

Dalam desain lanskap kontemporer, pohon kurma juga telah diperkenalkan sebagai desain taman dan dapat dikolaborasikan dengan gedung-gedung tinggi sehingga cocok ditumbuhkan dalam lingkungan kampus.

Tanaman ketiga adalah tanaman tin. Tanaman tin dikenal tanaman tahan banting dan mampu tumbuh subur baik dalam kondisi rawan banjir maupun kekeringan. 

International Association for Bridge and Structural Engineering (2015) mengutarakan bahwa akar tanaman tin dapat membentang 15 kaki hingga 250 kaki sehingga diestimasi dapat menjadi solusi atas banjir dan longsor yang terjadi saat ini. 

Dalam penelitian lain, yang dilakukan di Ethiopia, tanaman tin menempati urutan pertama di antara 10 spesies pohon teratas untuk ketahanan iklim baik bagi manusia ataupun hewan. Buah tin tumbuh sangat cepat dan menghasilkan buah hanya dalam kurun waktu satu atau dua tahun. 

Tanaman tin telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan hingga pengobatan tradisional. Berbagai bagian tanaman tin bermanfaat dan memiliki senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan. 

Beberapa penelitian, baik secara in vitro maupun in vivo telah membuktikan bahwa tanaman tin memiliki pengaruh sebagai antioksidan, antiinflamasi, antikanker, serta penyakit lain seperti gangguan pernapasan dan pencernaan.

Rektor Unisma, Prof Maskuri Bakri mengungkapkan "Revolusi mental merupakan gerakan untuk mengubah cara pikir, cara kerja, dan cara hidup pada masyarakat baik akademik maupun non akademik”. tegas dia.

Dengan demikian, sentuhan baru dibutuhkan dalam memberikan impact positif kepada masyarakat. Melalui program Etos Kerja Gotong Royong, dan Integritas atau yang disingkat EGOIS.

Dari program tersebut, telah dilakukan sebelumnya berupa aksi clean up, pelatihan wirausaha perempuan, festival EGOIS, publikasi konten anti intoleransi, kekerasan seksual dan perundungan, serta program penaman pohon.

Harapan mendatang, adalah tanaman-tanaman ini dapat membantu untuk mengatasi tantangan abad ke-21 — mulai dari melestarikan keanekaragaman hayati hingga memulihkan kondisi alam. 

Sebuah pepatah mengatakan bahwa 'Look after plant and they will look after you (Jagalah tanaman dan mereka akan menjagamu)'. Jadi mari bersatu untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. (adv/editor: doi nuri) 

Berita Terbaru