SURABAYA | B-newa.id - Anak butuh iman dan keteladan agar anak tak kehilangan arah, dan sekolah rakyat jadi benteng anak dari dampak Cyberbullying. Demikian, kata dr. Zuhrorul Mar’ah ketika ditanya wartawan B-news.id
Gagasan pembentukan Sekolah Rakyat jadi benteng anak dari dampak dari Cyberbullying terutama menimpa bagi anak-anak terlantar dan keluarga kurang mampu di Surabaya.
Baca Juga: Kasus Anak di Bawah Umur di Cafe Black Owl, Ketua Komisi D DPRD Surabaya Minta Dibentuk Tim Gabungan
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Zuhrorul Mar’ah, menilai program ini bisa menjadi terobosan nyata dalam menjawab masalah pendidikan sekaligus krisis karakter di kalangan anak-anak perkotaan.
Menurutnya, konsep sekolah rakyat perlu diarahkan bukan sekadar memberi akses belajar, tetapi juga menjadi tempat pembentukan iman, moral, dan keteladanan.
“Sekolah Rakyat sangat penting untuk anak-anak yang tidak punya kesempatan atau bimbingan keluarga yang baik. Kita bisa mengadopsi sistem seperti di pondok pesantren, di mana anak tidak hanya mendapat ilmu pengetahuan, tapi juga penanaman iman dan akhlak. Karena dari situlah karakter mereka dibangun,” ujar Zuhrorul saat ditemui di ruang Komisi D DPRD Kota Surabaya, Rabu (29/10/205) kemarin.
Ia menegaskan, pendidikan utama anak tetap berasal dari lingkungan keluarga. Orang tua adalah guru pertama dalam kehidupan, yang seharusnya mendidik, membimbing, serta menjadi suri teladan bagi anak-anaknya. Namun, tidak semua anak beruntung lahir di keluarga yang utuh dan harmonis.
“Ada yang ditinggal ayah, ada yang ibunya harus bekerja seharian, bahkan ada yang tumbuh tanpa kasih sayang keluarga besar. Di sinilah negara dan masyarakat harus hadir,” imbuhnya.
Selain keluarga, lanjut Zuhrorul, lingkungan masyarakat juga berperan penting dalam pembentukan kepribadian anak. Lingkungan yang sehat akan menumbuhkan solidaritas dan empati, namun di sisi lain, banyak anak justru tumbuh di lingkungan yang abai dan tidak memberi arah moral.
“Lingkungan bisa jadi benteng, tapi bisa juga jadi jebakan. Kalau masyarakatnya tidak peduli, anak-anak yang lemah akan mudah terseret ke hal-hal negatif,” katanya.
Ia menambahkan, lingkungan sekolah sejatinya berfungsi sebagai penguat dari pendidikan keluarga dan masyarakat.
Baca Juga: Dua Proyek Mangkrak Diputus Kontrak, Komisi D Tekankan BPJS Ketenagakerjaan
Namun realitas di lapangan menunjukkan, banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak dapat bersekolah karena biaya dan keterbatasan fasilitas.
“Sekolah mestinya jadi tempat anak-anak mendapatkan dukungan moral dan pengetahuan, tapi kalau biaya jadi hambatan, anak-anak justru kehilangan kesempatan untuk tumbuh,” tegasnya.
Menanggapi maraknya kasus bullying dan perundungan di sekolah, Zuhrorul menilai hal itu menjadi tantangan serius di era digital. Bullying, menurutnya, dapat mencabut akar kepribadian anak yang sudah ditanamkan sejak dini.
“Anak yang sudah terbentuk karakternya pun bisa goyah karena perundungan. Terlebih bagi anak-anak dari keluarga broken home atau lingkungan yang lemah. Mereka butuh penguatan dari pendidikan berbasis iman,” jelasnya.
Untuk itu, ia mendorong agar kurikulum Sekolah Rakyat ke depan mengadopsi nilai-nilai pendidikan pesantren sebagai alternatif pembentukan karakter.
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Gresik Mulai Dibangun, Sekda Achmad Washil Optimis Selesai Tepat Waktu
Di pesantren, kata Zuhrorul, anak-anak diajarkan disiplin, kejujuran, kesabaran, dan empati — nilai-nilai yang kini mulai memudar di sekolah umum.
“Kalau anak dibekali ilmu sekaligus iman, dia akan punya kekuatan moral menghadapi tekanan sosial. Itulah yang kita butuhkan untuk masa depan,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Zuhrorul mendesak Pemerintah Kota Surabaya segera merealisasikan Sekolah Rakyat sebagai bagian dari solusi sosial bagi anak-anak marginal.
Ia meyakini, dengan desain yang adaptif dan nilai spiritual yang kuat, sekolah rakyat bisa menjadi rumah kedua bagi anak-anak yang kehilangan arah.
“Ini bukan sekadar proyek pendidikan, tapi upaya menjaga generasi. Kalau anak-anak kita kuat dalam iman dan akhlak, Surabaya akan punya masa depan yang lebih beradab,” tutupnya.(rizal)
Editor : Zainul Arifin