Jamasan Pusaka Wayang Kayu Mbah Bonto, Warisan Budaya Non Benda yang Diakui UNESCO

avatar Sunyoto
Jamasan Pusaka Wayang Kayu Mbah Bonto, Warisan Budaya Non Benda yang Diakui UNESCO
Jamasan Pusaka Wayang Kayu Mbah Bonto, Warisan Budaya Non Benda yang Diakui UNESCO

BLITAR | B-news.id - Langit pagi yang cerah menyambut masyarakat Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, pada Sabtu (6/9/2025).

Angin semilir menerpa dedaunan seakan turut menyaksikan upacara sakral yang telah ratusan tahun diwariskan secara turun-temurun, yakni Jamasan Pusaka Wayang Kayu Kyai Bonto, peninggalan era Kerajaan Mataram abad ke-17.

Baca Juga: Ormas BIDIK Demo Soroti Ketimpangan Wilayah di  Kabupaten Blitar 

Upacara ini bukan sekadar ritual adat, melainkan juga perwujudan rasa syukur dan penghormatan terhadap pusaka sakral yang diyakini memiliki tuah serta nilai sejarah tinggi.

Wayang Kayu Kyai Bonto kini telah diakui dunia sebagai bagian dari warisan budaya tak benda UNESCO, menjadikannya salah satu kebanggaan masyarakat Blitar.

Sejarah Wayang Kayu Mbah Bonto bermula dari kisah Sunan Amangkurat III atau yang dikenal pula sebagai Sunan Prabu. Pada masanya, beliau terlibat konflik sengit dengan keluarga Kerajaan Surakarta yang bersekutu dengan Belanda.

Kekalahan politik membuat Sunan Prabu tersingkir, hingga akhirnya memilih mengasingkan diri dalam pelarian panjang penuh penderitaan.

Dalam pengembaraan itu, Sunan Prabu ditemani permaisuri dan abdi setianya. Ia membawa dua pusaka penting, yakni Gong Kyai Pradah dan Wayang Kayu Kyai Bonto. Kedua benda ini diyakini memiliki nilai spiritual dan menjadi saksi perjalanan tragis seorang raja yang harus menyingkir dari singgasananya.

Diceritakan, perjalanan Sunan Prabu sampai ke Banyumas, di mana ia bertemu dengan sang guru, Kyai Tunggul Manik. Dari sana, ia terus mengembara ke arah timur.

Dalam perjalanannya, sang permaisuri kerap memberi nama pada tempat-tempat yang mereka singgahi, yang hingga kini masih dikenal masyarakat sekitar.

Salah satunya adalah Bukit Gelung. Konon, permaisuri yang kala itu merasa gerah dengan rambut panjangnya menggelung rambutnya di tempat itu. Gelung dalam bahasa Jawa berarti ikal rambut yang disanggul, sehingga bukit tersebut dikenal hingga kini dengan nama Bukit Gelung.

Perjalanan berlanjut ke arah selatan. Di sebuah tempat, sang permaisuri melihat pohon berbuah. Setelah buah itu dimakan, ternyata rasanya asam atau kecut.

Sejak saat itu, daerah tersebut diberi nama Dusun Pakel, sebuah nama yang masih lestari hingga sekarang.

Namun penderitaan belum berhenti. Dalam pengembaraan, permaisuri Sunan Prabu yang sedang hamil tiba-tiba melahirkan seorang putri secara prematur.

Bayi mungil itu hanya bertahan sehari dan kemudian wafat. Jenazahnya dimakamkan di Dusun Pakel, dengan nama Raden Roro Suwartiningsih.

Hingga kini, makam keramatnya masih menjadi bagian penting dari ritual budaya masyarakat Kebonsari.

Sebelum melanjutkan pengembaraannya, Sunan Prabu mewariskan pusaka Wayang Kayu Kyai Bonto kepada penduduk setempat.

Baca Juga: ADD 2026 Menurun, Kades dan Perangkat Desa se-Blitar Gelar Hearing dengan DPRD

Ia berpesan, setiap tanggal 12 bulan Maulid pusaka tersebut harus dimandikan atau dijamas menggunakan kembang setaman. Wasiat itu terus dijaga masyarakat hingga ratusan tahun kemudian.

Ritual jamasan pusaka pun dilaksanakan dengan khidmat. Air siraman dicampur bunga setaman, sementara doa-doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan simbol permohonan keselamatan.

Suasana mistis menyelimuti prosesi, ditambah dengan malam tirakatan yang dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah.

Kepala Desa Kebonsari, Subakri, mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme masyarakat.

Menurutnya, ribuan orang hadir pada malam tirakatan sebelum prosesi jamasan, termasuk Bupati Blitar Rijanto dan anggota DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono.

Kehadiran pejabat tersebut menambah khidmat dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.

Subakri juga menuturkan, sejumlah kepala desa dari kecamatan lain turut hadir, di antaranya dari Ngerjo dan Wonotirto.

"Alhandulillah beberapa Kepala Desa dari Kecamatan lain juga hadir turut memeriahkan acara ini," kata Kades Subakri.

Baca Juga: Lansia Tewas Tertabrak KA di Garum Blitar

Prosesi ritual jamasan pusaka Wayang Kayu Mbah Bonto meriah. (ist(

Ia berharap tahun depan lebih banyak perwakilan desa yang bisa hadir, sehingga upacara jamasan ini semakin dikenal luas sebagai tradisi budaya yang bernilai sejarah tinggi.

Selain ritual jamasan, masyarakat juga menggelar tirakatan dengan doa bersama. Tahun depan, menurut rencana, Dinas Pariwisata akan menghadirkan pertunjukan wayang kulit sebagai bagian dari hiburan sekaligus penguatan nilai budaya. Hal ini menjadi salah satu langkah melestarikan tradisi yang sarat makna.

Namun demikian, kondisi lokasi ritual, termasuk makam keramat Raden Roro Suwartiningsih, masih membutuhkan perbaikan.

Kepala Desa Kebonsari berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun provinsi untuk merenovasi makam tersebut pada tahun 2026 atau 2027.

Anggota DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme masyarakat.

Ia menilai tradisi jamasan pusaka Mbah Bonto memiliki nilai budaya, sejarah, sekaligus spiritual yang penting untuk dilestarikan. Apalagi, ritual ini sudah diakui dunia melalui UNESCO sebagai warisan budaya non benda.

Dengan kehadiran Forkopimcam, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta undangan dari berbagai daerah, jamasan Wayang Kayu Kyai Bonto di Kebonsari semakin meneguhkan posisinya sebagai tradisi yang bukan hanya milik warga Blitar, melainkan juga bagian dari kekayaan budaya bangsa.(*)

Berita Terbaru