Apa Jadinya jika Hubungan Muda Terbang Terlalu Tinggi karena Nyaman Semata

avatar Redaksi
Foto Ilustrasi. (Dok : Viva)
Foto Ilustrasi. (Dok : Viva)

Feature

Meta Description : Cinta remaja sering terasa indah dan penuh harapan. Tapi cukupkah rasa nyaman dan cocok untuk membangun masa depan? Mari renungkan dengan realistis.

Baca Juga: Lepas Ratusan Mahasiswa UNUSIDA KKN, Ini Pesan Bupati Sidoarjo Subandi 

Oleh: Faryal Maharani, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta. 

JAKARTA | B-news.id -  "Aku nyaman banget sama dia. Kayaknya, dia orang yang tepat. Kita cocok, punya mimpi yang sama, dan aku yakin bisa jalanin hidup bareng,"

Kalimat ini tidak asing bagi banyak orang yang sedang jatuh cinta, terutama pada masa remaja. Rasanya baru beberapa bulan mengenal seseorang, tapi sudah tumbuh keyakinan besar tentang menikah, punya rumah sendiri, membahagiakan orang tua, bahkan hidup sederhana dan bahagia.

Tidak ada yang salah dengan harapan seperti itu. Semua orang berhak bermimpi. Tetapi pertanyaannya adalah apakah hanya dengan cinta dan rasa nyaman, kehidupan bersama bisa dibangun?

Tulisa ini tidak datang untuk menggurui atau menghakimi. Justru sebaliknya, ini adalah ruang untuk merenung bersama tentang bagaimana cinta bisa membawa kita terbang tinggi, tapi juga bagaimana kita bisa tetap menjejak tanah.

Cinta pertama selalu terasa spesial. Bukan hanya karena orangnya, tapi karena pengalaman itu sendiri adalah sesuatu yang baru dan penuh warna.

Kita merasa dilihat, dipahami, dan diterima. Semua terasa tulus dan murni. Ini adalah masa ketika cinta belum bercampur dengan luka masa lalu atau trauma hubungan.

Psikolog perkembangan menyebut fenomena ini sebagai bagian dari idealized romantic beliefs, yaitu keyakinan bahwa cinta sejati itu bisa mengatasi semua masalah dan menjadi pondasi utama kehidupan.

Dalam jurnal Adolescent Romantic Relationships and Developmental Pathways (Collins, 2003), disebutkan bahwa remaja sering kali menilai cinta sebagai “identitas diri sosial” cara untuk merasa cukup, merasa eksis, dan merasa berharga di mata orang lain.

Di fase ini, perasaan sangat dominan. Logika belum menjadi penyeimbang utama. Bukan karena remaja tidak mampu berpikir kritis, tapi karena secara biologis, bagian otak yang mengatur logika jangka panjang (prefrontal cortex) masih terus berkembang hingga usia 25 tahun (Steinberg, 2005).

Itu sebabnya, banyak keputusan emosional diambil dengan keyakinan penuh, meskipun belum dipikirkan konsekuensinya secara mendalam.

Nyaman dan Cocok Apakah Itu Cukup?

Rasa nyaman bisa muncul dari banyak hal sederhana obrolan yang nyambung, selera humor yang sama, atau sekadar merasa bebas jadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Cocok bisa terasa saat sama-sama suka kopi susu, nonton film horor bareng, atau punya cara pandang yang mirip soal hidup.

Dan jujur saja, saat dua orang merasa “klop” seperti itu, rasanya dunia milik berdua. Kita jadi ingin cepat-cepat meyakini “Kalau sudah senyaman ini, pasti dia orangnya.”

Tapi, sayangnya, kenyamanan dan kecocokan saja tidak selalu cukup untuk membangun hubungan jangka panjang. Karena dalam perjalanan hidup, kita tidak hanya butuh teman ngobrol, tapi juga teman bertumbuh.

Banyak orang mengira bahwa hubungan yang baik adalah hubungan yang mulus, tanpa banyak konflik. Padahal, justru perbedaan-perbedaan yang muncul itulah yang akan menguji seberapa kuat fondasi hubungan kita.

Kamu suka jalan-jalan, dia tipe yang lebih suka rebahan. Kamu terbiasa mengungkapkan isi hati, dia lebih sering memendam. Kamu tumbuh dalam keluarga yang sangat terbuka, dia besar dalam lingkungan yang kaku dan penuh batas. Semua itu bisa menjadi jembatan tetapi perlu waktu, perlu diskusi, dan sering kali, perlu kompromi.

“Nyaman” itu penting, tapi bukan segalanya. Karena dalam hidup bersama, akan ada banyak hal yang tidak selalu nyaman. Akan ada hari-hari di mana komunikasi tidak semudah biasanya. Akan ada fase-fase di mana pekerjaan, keluarga, kelelahan, dan tekanan hidup membuat kita tidak bisa selalu jadi versi terbaik diri kita.

Jadi, kalau kamu sekarang sedang merasa nyaman dan cocok dengan seseorang itu hal baik. Nikmati perasaan itu. Tapi juga beri waktu untuk mengenal lebih dalam. Bukan cuma tentang hal-hal yang bikin kalian tertawa bersama, tapi juga tentang bagaimana kalian menyikapi perbedaan. Karena rumah tidak dibangun dari sofa yang empuk saja, tapi dari fondasi yang kuat di bawahnya.

Baca Juga: Dari Mahasiswa, Nyala Lilin Itu Benderang

Dan fondasi itu, pelan-pelan, bisa kalian bangun asal kalian mau berjalan, bukan hanya melayang.

Rencana yang Masih Kabur

Banyak pasangan muda yang mengaku sangat yakin ingin menikah muda, punya anak, bekerja keras, punya rumah sendiri, dan membuat orang tua bangga. Ini adalah impian yang sangat mulia. Tetapi, dalam banyak kasus, impian ini belum disertai dengan langkah konkret. Tidak ada rencana jelas, tidak ada strategi, bahkan tidak ada tabungan.

Kadang semangat dan rasa cinta dijadikan bahan bakar utama. Kalimat seperti, “Yang penting kita saling cinta, nanti juga bisa jalanin bareng,” terdengar indah. Namun kenyataan hidup tidak selalu sejalan dengan rasa cinta yang besar.

Psikolog klinis Lisa Damour menulis dalam bukunya Untangled (2016), bahwa banyak remaja dan dewasa muda tidak kekurangan niat baik atau semangat, tapi mereka belum diajarkan cara menyusun rencana hidup dengan realistis. Impian tanpa struktur sering kali menjadi beban mental, bukan sumber kekuatan.

Seseorang bisa memiliki gambaran besar rumah, karier, keluarga Bahagia tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ia bisa merasa yakin bahwa hubungan ini akan berhasil, tapi belum pernah belajar menghadapi tekanan ekonomi, konflik keluarga besar, atau perbedaan visi spiritual. Dan itu bukan karena ia tidak serius. Kadang, ia hanya belum siap.

Perhatian kecil dalam hubungan juga bisa terasa luar biasa besar. Seseorang yang bertanya, “Sudah makan belum?” atau mengingat ulang tahun kita bisa langsung kita anggap “berbeda dari yang lain.” Dan ya, perhatian itu penting.

Tapi dalam beberapa kasus, perhatian kecil bisa terlalu cepat dimaknai sebagai cinta besar. Apalagi jika seseorang sedang merasa kesepian, rentan, atau punya luka masa lalu yang belum sembuh.

Ini bukan hal buruk. Ini manusiawi. Tapi menyadari kecenderungan itu bisa membantu kita melihat lebih jernih jika perhatian itu benar-benar mencerminkan hubungan yang dalam, atau hanya efek dari kebutuhan emosional yang sedang tinggi?

Membiarkan Diri Jatuh Cinta, Tanpa Lupa Berpikir

Romantisme adalah bagian indah dari hidup. Siapa pun berhak jatuh cinta, berharap, dan membayangkan masa depan bersama orang tercinta. Tetapi cinta yang terlalu cepat dipenuhi harapan besar bisa berisiko membuat kita lupa berpikir.

Baca Juga: Cermin Kecil di Tengah Hidup yang Besar

Cinta bukan musuh akal sehat. Justru cinta yang sehat memberi ruang untuk berdialog, bertumbuh, dan menyusun rencana nyata. Saat kita merasa terlalu cepat yakin bahwa hubungan akan berhasil, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya 

Sudahkah aku mengenal dia lebih dalam, termasuk sisi-sisi sulitnya?  

Apakah kami bisa menyelesaikan konflik tanpa saling menyakiti?  

Apakah visi hidup kami sejalan dalam karier, keluarga, nilai-nilai?  

Apakah aku sedang jatuh cinta pada dia, atau pada ide tentang dia?

Tulisan ini tidak ditujukan untuk memadamkan rasa cinta siapa pun. Cinta tetaplah sesuatu yang luar biasa. Tapi cinta juga pantas ditemani dengan kesadaran.

Kita boleh berharap, tapi juga boleh belajar menyusun langkah. 

Kita boleh percaya pada pasangan, tapi juga perlu percaya bahwa waktu dan proses itu penting. 

Kita boleh punya impian besar, tapi jangan lupa membuat peta kecil untuk sampai ke sana.

Cinta bisa dibangun, dirawat, dan dikuatkan kalau dua orang memang sama-sama mau belajar. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah cinta yang paling realistis cinta yang tidak hanya membuat kita terbang, tapi juga mengajari kita cara mendarat.*

Berita Terbaru