FEATURE
Baca Juga: Lepas Ratusan Mahasiswa UNUSIDA KKN, Ini Pesan Bupati Sidoarjo Subandi
Oleh: Laura Diandra Salzabilla, Mahasiswi Semester 4 Politeknik Negeri Jakarta, Prodi Penerbitan.
2306321019
Penerbitan 4A
JAKARTA | B-news id - Aku punya kebiasaan yang tak lazim. Sejak di bangku SMP, aku selalu mencatat kebaikan orang asing. Bukan yang luar biasa besar atau heroik. Justru hal-hal yang kecil, terkesan remeh, kadang nyaris tak terlihat.
Dari ibu warung yang membantuku berputar balik menggunakan motor di jalan sempit, seorang wanita yang dengan senang hati memberikanku koneksi internetnya, hingga sekumpulan bapak-bapak yang merelakan kepergianku tanpa harus ganti rugi setelah kutabrak mobilnya. Kucatat satu per satu setiap uluran tangan yang tak pernah kuminta.
Meskipun nama mereka tak pernah kutahu, wajah-wajah dan kebaikan mereka terpatri dalam ingatanku. Kebaikan mereka seperti embun, datang diam-diam, pergi tanpa jejak, tapi menyisakan basah yang hangat di dada. Catatanku pun kian melaju, seiring berjalannya waktu.
Dari buku harian, hingga berpindah ke catatan digital yang lebih sunyi. Tapi tetap dengan isi yang sama: cerita-cerita kecil yang membuatku percaya bahwa hidup yang seringkali keras ini, masih menyisakan ruang untuk kelembutan yang tak berisik.
Orang-orang bilang, hidup itu seperti kereta. Kadang melambat, kadang melaju, kadang berhenti di stasiun yang tak pernah kita rencanakan. Tapi tak banyak yang mengingatkan bahwa kereta juga bisa membuat kita turun, di tengah gelap, tanpa tahu arah.
Aku pernah sampai di titik itu. Ketika semua tampak begitu besar dan aku begitu kecil. Ketika langkah tidak lagi ringan, dan pagi hanya berarti satu hal, hari baru yang harus dilewati, entah untuk apa.
Jauh di hatiku yang terdalam, aku seperti ruangan yang lampunya mati tapi tetap ditinggali. Terlalu banyak suara dari luar, dan hanya segelintir suara dari dalam yang kudengar. Mungkin kepergian sahabat terdekatku adalah penyebab utamanya, secara tiba-tiba. Hanya diam panjang yang tersisa antara aku dan hari-hariku seterusnya.
Baca Juga: Dari Mahasiswa, Nyala Lilin Itu Benderang
Dari kepergiannya, aku seperti dihadapkan pada ruang kosong yang tak bisa kututupi dengan alasan atau kesibukan. Aku bangun setiap pagi tanpa alasan. Langit tampak biasa-biasa saja, dan mataku tak lagi bisa melihat keindahan bahkan pada pohon yang dulu sering kupotret diam-diam.
Hingga suatu sore, ketika aku sedang singgah sejenak setelah meliput kekacauan sebuah aksi demonstrasi, kuhampiri seorang tukang es guna mengusir dahaga. Aku meminta segelas es tanpa campuran apapun, yang kemudian dibalas dengan senyum tipis dari sang Bapak.
“Kerja di mana, dek?,” tanya nya sambil menyiukan bongkahan es batu yang sudah tercacah.
“Mahasiswa, pak,” jawabku dengan tertawa kecil.
Tak ada jawaban lagi setelahnya, selain sodoran es batu bersamaan dengan kata-katanya: “Makasih ya dek, jangan kapok protesnya. Ini nggak usah dibayar.” Aku mematung sesaat, sebelum akhirnya memaksa untuk membayar. Tapi Bapak bersikeras menolak.
Baginya, mungkin aku adalah sebuah harapan. Mungkin aku adalah sosok yang ikut andil dalam keberlangsungan hidupnya. Yang bapak itu tidak ketahui, hidup bagiku adalah kematian itu sendiri. Tapi dari segelas es batu yang seiringan dengan harapan itu, kutemukan secercah kepercayaan yang seharusnya tak pernah lepas dariku.
Baca Juga: The Power of Positive Vibes
Aku sadar bahwa hidup dan dunia tak selalu menjawab lewat hal-hal besar. Ia berbisik melalui serpihan-serpihan kecil yang diam-diam memulihkan. Satu bab dari buku, satu bantuan dari orang asing, satu koneksi internet tanpa rasa pamrih, dan satu gelas es batu.
Refleksi, ternyata, bukan soal menjauh dari dunia. Tapi soal belajar mendekat, dengan cara baru. Bukan soal mencari jawaban, tapi mengenali kembali pertanyaan-pertanyaan lama yang pernah kita tinggalkan di jalan.
Mungkin tak ada satu pun orang dari catatan itu tahu, bahwa kebaikan mereka menyelamatkan seseorang. Sebagian besarnya mungkin lupa. Tapi, catatan ini adalah sebuah pengingat, setidaknya untukku. Dan dalam ingatan itu, aku membangun kembali alasan untuk bertahan.
Malam itu, aku pulang dan membuka kembali memo lama itu. Catatan-catatan kebaikan dari orang asing yang nyaris terlupakan. Kuarungi lagi momennya satu per satu, seperti menelusuri kembali bekas-bekas cahaya di lorong gelap yang sempat kutinggali terlalu lama.
Per hari ini, catatan itu masih berlanjut. Walaupun aku masih menjalani hari-hari yang tak selalu pasti, tapi setidaknya aku tahu, di tengah hidup yang terasa terlalu besar, ada cermin-cermin kecil yang menunjukkan bahwa aku masih ada. Bahwa aku masih bisa melangkah, meskipun pelan, meskipun penuh dengan keraguan.
Itu cukup, untuk diriku, untuk melangkah satu hari lagi.*
Editor : Zainul Arifin