Dari Mahasiswa, Nyala Lilin Itu Benderang

avatar Redaksi
Sesi wawancara dengan Direktur PNJ (Foto: Laura Diandra Salsabilla) 
Sesi wawancara dengan Direktur PNJ (Foto: Laura Diandra Salsabilla) 

FEATURE

 

Baca Juga: Lepas Ratusan Mahasiswa UNUSIDA KKN, Ini Pesan Bupati Sidoarjo Subandi 

Penulis: Debby Alifah Maulida, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

 

JAKARTA | B-news.id - Yang mengevaluasi ragamu, hanya dirimu sendiri. Sepenggal lirik yang ternyata bukan sekadar lagu, tapi pesan tersirat untuk muda-mudi yang terbakar distopia negeri. Seolah terlalu banyak hal yang perlu dinilai, seolah teramat padat derita manusia yang perlu dikomentar, tapi enggan menerima kebodohan diri sendiri. 

Muda-mudi yang dirajai oleh amarah dan benci. Berkelana mencari jati diri, pamer eksistensi sana sini. Pungkasnya hidup cuma sekali, tapi hanya diisi dengan hal-hal duniawi. “NKRI Harga Mati!”, seru mahasiswa yang katanya berjuang untuk tanah air. Mirisnya, mereka lupa, diri sendiri juga hampir mati. 

Mahasiswa, cikal bakal bangsa, calon penguasa negara. Sudah bukan masanya beretorika, mahasiswa harus mampu menciptakan kemajuan dan melahirkan peradaban. Kontribusinya dinanti oleh negeri. Tangan kasarnya dibutuhkan untuk menopang Indonesia. 

Namun, bagaimana bisa tangan itu meraih singgasana kedaulatan bila menjait lubang pada diri sendiri saja tak mampu. Dirinya harus utuh, sehancur apa pun cerminnya, ia harus tetap berkaca pada dirinya sendiri. Mahasiswa harus tahu, kapan sepatunya harus melangkah, dan kapan alas itu perlu diperbaiki karena sudah terlalu tua. 

“Dimanapun berada (mahasiswa) harus bisa berkontribusi dan memajukan” tutur Syamsurizal, Direktur Politeknik Negeri Jakarta. 

Di kota, di desa, di antah berantah mana pun mahasiswa ditunggu pengabdiannya. Ribuan denyut nadi dan harap menggantungkan nasibnya pada mahasiswa. Siapa lagi yang boleh berbicara kalau bukan mahasiswa? Rintihan kecil itu samar terdengar, katanya hanya yang berkuasa, bertahta, dan berpendidikan yang boleh berpendapat. 

Baca Juga: Cermin Kecil di Tengah Hidup yang Besar

Maka dari itu, peran mahasiswa sangat penting. Mahasiswa tak boleh jatuh pada jurang yang salah. Sekali salah melangkah, patah harapan rakyat. Bercerminlah pada diri sendiri, belajarlah dimulai dari diri sendiri. 

“Mengupgrade diri artinya kita menyesuaikan apa yang terjadi dan bagaimana menghadapi masa depan,” tutur Syamsurizal.

Mahasiswa harus mampu mengembangkan dirinya. Tak ada lagi mahasiswa yang jalan di tempat. Semuanya harus bergerak maju dan siap menghadapi hiruk-pikuk zaman yang kian berubah. Konsistensi memang bagus, tapi berkaca pada situasi yang tengah terjadi juga salah satu cara bertahan untuk tetap hidup.

Jangan mau mati di tengah peradaban, lahirkanlah peradaban dari karya-karya mahasiswa. Buang yang kotor, bersihkan yang ternoda, dan bangun peradaban yang suci abadi di seluruh penjuru negeri. 

“Nyalakanlah lilin-lilin itu dari desa-desa sehingga dia akan menjadi besar dan Indonesia akan maju,” terang Syamsurizal. 

Baca Juga: The Power of Positive Vibes

Jangan padamkan mimpi itu, biarlah lilin-lilin itu abadi dalam kehidupan. Biarlah mimpi-mimpi itu perlahan terwujud. Dan dari mahasiswa, semua itu dipertaruhkan, dari mahasiswa, nyala lilin itu benderang. Dari mahasiswa untuk seluruh rakyat Indonesia. 

Mahasiswa bukan perwakilan satu atau dua orang. Mahasiswa tak mewakili wajah penguasa, tak juga kepentingan pribadi. Arogansi hanya akan memakan bangkai sendiri. Lapangkan jiwa, luaskan isi pikiran, bisikkan pada hati, untuk siapa seruan itu diperjuangkan. 

“Indonesia dibangun mulai dari desa, jadi tidak mendorong orang desa ke kota, tapi orang kota mau ke desa,” ucap Syamsurizal. 

Refleksikan diri, lihat pada diri sendiri. Mahasiswa tak boleh berdiri di bawah kaki nepotisme. Turun ke jalan, turun ke lapangan, tapakkanlah kaki di tanah yang butuh andil dan kemampuan mahasiswa. *

Berita Terbaru