Gotong Royong sebagai Inti Pancasila, Wali Kota Blitar: Membangun Masyarakat Harus Dilakukan Bersama-sama

avatar Sunyoto
Gotong Royong sebagai Inti Pancasila, Wali Kota Blitar: Membangun Masyarakat Harus Dilakukan Bersama-sama. (ist)
Gotong Royong sebagai Inti Pancasila, Wali Kota Blitar: Membangun Masyarakat Harus Dilakukan Bersama-sama. (ist)

BLITAR | B-news.id - Wali Kota Blitar, Sauqul Muhibin atau yang akrab disapa Mas Ibin, menegaskan bahwa gotong royong merupakan inti dari Pancasila yang harus terus dijaga dan diamalkan oleh seluruh elemen masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat menyambut Tim Penilaian Lomba Gotong Royong dari Provinsi Jawa Timur di Balai Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, pada Selasa, 27 Mei 2025.

Baca Juga: Wali Kota Blitar Syauqul Muhibin Pimpin Rakor Percepatan Pembangunan Gerai dan Gudang KKMP di 21 Kelurahan

“Alhamdulillah, pada pagi hari ini kita bisa bersama-sama mengikuti kegiatan klarifikasi lapangan pelaksanaan gotong royong oleh Provinsi Jawa Timur,” ujar Mas Ibin dalam sambutannya.

Ia menyambut hangat kehadiran Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Jawa Timur, Ir. Budi Sarwoto, beserta tim penilai provinsi yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Mas Ibin mengungkapkan rasa bangganya terhadap Blitar yang dikenal sebagai daerah para patriot. Ia menyebutkan bahwa sejak masa penjajahan Belanda, Blitar telah melahirkan banyak tokoh pejuang seperti Pangeran Aryo Blitar yang sudah berani melawan kolonial. “Blitar adalah darah para patriotik,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan tentang sejarah pemberontakan tentara PETA yang satu-satunya terjadi di Blitar pada tahun 1945, dipimpin oleh Supriyadi. “Satu-satunya tentara PETA yang memberontak kepada Jepang itu terjadi di Kota Blitar,” ujarnya, sambil menekankan bahwa semangat perjuangan ini masih hidup hingga kini dalam bentuk semangat gotong royong.“Gotong royong adalah intisari dari Pancasila,” kata Mas Ibin.

Ia menuturkan bahwa gotong royong dapat dimaknai sebagai ‘mengangkat bersama’ atau ‘memikul bersama-sama’ suatu beban, sehingga apa yang berat akan menjadi ringan bila dilakukan secara kolektif.

Baca Juga: Wali Kota Blitar Syauqul Muhibin: Hari Pahlawan Harus Menyalakan Semangat Muda Menghadapi Tantangan Zaman

Namun, menurutnya, gotong royong dewasa ini semakin sulit dipraktikkan, terutama di wilayah perkotaan. “Di kota-kota besar, antar warga tidak saling kenal, tidak peduli, dan tidak pernah melakukan kegiatan bersama. Ini adalah bentuk dari egoisme,” kritiknya.

Mas Ibin pun memberikan apresiasi kepada warga Kelurahan Pakunden yang dinilainya masih menjaga semangat gotong royong. Ia mengatakan bahwa masyarakat Pakunden rutin melakukan berbagai kegiatan bersama seperti ronda malam, kerja bakti kebersihan, dan kegiatan keagamaan.

“Kegiatan-kegiatan ini menunjukkan bahwa warga Pakunden masih punya semangat untuk membangun wilayahnya secara bersama-sama,” ungkapnya. Menurutnya, gotong royong juga menjadi jalan untuk menyatukan berbagai kepentingan pribadi menjadi kepentingan bersama yang lebih besar.

Lebih lanjut, Mas Ibin berharap tim penilai dari provinsi dapat melihat langsung bahwa semangat gotong royong benar-benar diterapkan oleh warga Kelurahan Pakunden. “Saya yakin tim akan bisa menilai secara objektif bagaimana semangat gotong royong itu hidup di tengah masyarakat Pakunden,” katanya.

Baca Juga: Tenaga Medis Tolak Rencana Wali Kota Blitar Pangkas Jasa Medis RSUD Mardi Waluyo: Jangan Ulangi Gejolak 10 Tahun Lalu!

Ia menegaskan bahwa tujuan dari lomba ini bukan sekadar meraih peringkat atau prestasi, tetapi lebih dari itu, sebagai upaya menanamkan kembali nilai-nilai luhur gotong royong di tengah masyarakat. “Ini bukan tentang siapa juara, tapi tentang bagaimana kita bisa meneladani dan mengamalkan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Mas Ibin mengingatkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun di atas semangat gotong royong. “Inilah yang harus menjadi pegangan warga Pakunden. Membangun kelurahan dan masyarakat harus dilakukan bersama-sama,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penilai dari Provinsi Jawa Timur, Tri Yuwono, turut menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dan kesiapan warga Kelurahan Pakunden. Ia menyatakan bahwa penilaian akan dilakukan secara menyeluruh untuk melihat apakah gotong royong benar-benar menjadi budaya hidup di masyarakat. (sun/adv)

Berita Terbaru