BLiTAR | B-news id - Bagi siapa pun yang berkunjung ke Kota Blitar untuk berziarah ke Makam Sang Proklamator, Ir. Soekarno, perjalanan spiritual itu hampir selalu beriringan dengan perjalanan rasa.
Di kawasan PIPP (Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan), pengunjung akan disambut sederet warung kopi dan kuliner sederhana yang berjajar rapi di bawah naungan pohon beringin tua yang menjulang gagah, seolah menjadi penjaga setia denyut kehidupan di kawasan bersejarah itu.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Forkopimda Blitar Panen Raya Jagung Kuartal III
Pohon beringin tersebut bukan sekadar peneduh fisik. Ia menghadirkan ketenangan batin. Daunnya yang rimbun menahan terik matahari, sementara angin semilir yang berembus di sela-sela rantingnya terasa seperti belaian alam bagi siapa saja yang singgah.
Di bawah dekapannya, obrolan mengalir, tawa bersahutan, dan cangkir-cangkir kopi mengepulkan aroma yang mengundang.
Deretan warung kopi di kawasan ini memang tidak menawarkan kemewahan ala kafe modern. Tak ada lampu temaram artistik atau interior bergaya industrial. Namun justru di situlah letak pesonanya. Kesederhanaan menjadi kekuatan, menghadirkan suasana akrab yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di antara beberapa warung yang berjejer, ada satu nama yang kerap disebut para pengunjung: Warung Kopi dan Es Degan Mbah Jan. Warung kecil ini tampak biasa saja dari luar, namun memiliki daya tarik tersendiri yang mampu menjadi magnet bagi siapa pun yang melintas.
Daya tarik itu bukan semata soal kopi atau es degan yang segar, melainkan tentang suasana dan sosok yang melayani dengan ketulusan. Warung Mbah Jan menjadi ruang singgah yang menghadirkan rasa “Damai”, meski bagi pengunjung yang baru pertama kali datang.
Sosok tersebut adalah Farida, pelayan warung yang dikenal ramah dan bersahaja. Di usianya yang masih 28 tahun, Farida menghadirkan energi positif yang terasa sejak sapaan pertama. Senyumnya tulus, tutur katanya santun, dan caranya melayani mencerminkan penghormatan pada setiap tamu yang datang.
Kecantikan Farida memang mudah menarik perhatian, namun bukan kecantikan yang dibuat-buat atau ditonjolkan berlebihan. Ia hadir alami, berpadu dengan keramahan yang menjadikan siapa pun merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar pembeli.
Banyak pengunjung mengaku betah berlama-lama di Warung Kopi Mbah Jan. Bukan karena fasilitas, melainkan karena suasana hangat yang tercipta dari interaksi sederhana antara penjual dan pembeli, ditemani kopi hitam panas dan es degan segar khas pesisir Kota Blitar.
Baca Juga: Polres Blitar Kota Bongkar Ladang Ganja Terbesar di Blitar, Berawal dari Penangkapan Massa Rusuh
Andik, salah satu jurnalis senior di Blitar, mengungkapkan kesannya saat ditemui Jumat (16/1/2026). Ia mengaku sering singgah bersama rekan-rekannya untuk sekadar ngopi dan berdiskusi ringan.
“Kami betah ngopi di sini. Pelayanannya sepenuh hati, ramah, dan suasananya nyaman,” ujarnya.
Menurut Andik, Warung Kopi Mbah Jan bukan hanya tempat minum kopi, tetapi juga ruang bertukar cerita. Dari obrolan santai hingga diskusi serius, semua mengalir tanpa sekat, ditemani angin sepoi-sepoi di bawah beringin tua yang seolah ikut menyimak.
Namun, pesona yang ditawarkan warung ini patut dimaknai secara dewasa. Keramahan dan kecantikan bukan untuk disalahartikan. Farida, seperti perempuan lainnya, memiliki batasan yang harus dihormati, baik dalam sikap maupun tutur kata.
Di Warung Kopi Mbah Jan, nilai kesopanan dijunjung tinggi. Pengunjung yang datang dengan niat baik akan disambut dengan senyum dan pelayanan hangat.
Baca Juga: Kapolres Blitar Kota dan Forkopimda Gelar Patroli Skala Besar Jaga Kondusifitas Wilayah
Sebaliknya, perilaku kurang pantas tidak mendapat tempat di sini. Kehormatan dan martabat manusia tetap menjadi garis tegas yang dijaga.
Justru di situlah nilai edukatifnya. Warung kecil ini mengajarkan bahwa ruang publik bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua, selama saling menghormati. Pesona sejati bukan terletak pada rupa semata, melainkan pada sikap dan adab.
Kehadiran Warung Kopi Mbah Jan turut memperkaya wajah wisata Kota Blitar. Ia menjadi pelengkap perjalanan ziarah, menawarkan jeda untuk merenung, menyeruput kopi, dan menikmati kesederhanaan yang jujur.
Di tengah menjamurnya kafe modern, warung kopi tradisional seperti ini tetap bertahan dengan caranya sendiri. Mengandalkan kehangatan, ketulusan, dan nilai-nilai lokal yang melekat kuat dalam keseharian masyarakat Blitar.
Pada akhirnya, pesona Warung Kopi di PIPP Kota Blitar bukan hanya soal rasa kopi atau segarnya es degan, melainkan tentang perjumpaan manusia dengan manusia, di bawah teduhnya beringin tua, dalam suasana yang sederhana namun penuh makna.(*)
Editor : Redaksi