Dari Instruksi Kapolri, Hingga Bantahan Harimau Blambangan Atas Tudingan Terlibat Aksi Premanisme

Reporter : Trawan
Melalui Surat Telegram Nomor : STR/1081/IV/OPS.1.3./20, Kapolri instruksikan pada jajarannya untuk menggelar operasi pekat Kewilayahan, serentak per 1 Mei 2025 guna memberantas praktik premanisme. (ist)

BANYUWANGI| B-news.id - Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo melalui Surat Telegram Nomor : STR/1081/IV/OPS.1.3./20., menginstruksikan pada jajarannya menggelar operasi kepolisian secara serentak untuk berantas praktik premanisme yang kian marak dan meresahkan masyarakat.

Operasi Pekat Kewilayahan yang digelar serentak per 1 Mei 2025 yang lalu itu ditujukan sebagai tindak lanjut dari perintah Presiden RI untuk menindak tegas setiap tindakan aksi premanisme yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di masyarakat serta menghambat iklim investasi nasional.

Baca juga: Trauma Healing Polri, Dukungan Psikologis bagi Anak Korban Banjir Bandang di Padang Pariaman

Senada dengan hal itu, Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Putra segera melakukan sosialisasi berkenaan dengan instruksi Kapolri tersebut, guna mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berani melaporkan dan menolak segala bentuk praktik premanisme, terlebih aksi premanisme yang berbalut organisasi kemasyarakatan (Ormas).

Dalam sebuah sesi bincang-bincang dengan Reporter Jawa pos Radar Blambangan, Kombes Pol. Rama berharap peran seluruh warga masyarakat Banyuwangi khususnya ormas-ormas maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk turut andil menjaga kondusifitas agar tidak berdampak pada stabilitas ekonomi dan sosial di masyarakat.

"Ormas maupun organisasi kelembagaan non Pemerintah saya harap dapat berperan aktif menjaga kondusifitas wilayah di Kabupaten Banyuwangi, dan tidak bertindak seenaknya sendiri yang berpotensi meresahkan masyarakat," ujarnya, pada Senin (5/5/2025) waktu setempat.

Dewasa ini aksi premanisme selalu di identikan dengan tindak kekerasan dan intimidasi, sebagaimana insiden yang terjadi di sebuah kantor koperasi simpan pinjam (KSP) di wilayah Kecamatan Purwoharjo pada Senin awal pekan ini, sorotan publik Banyuwangi pun tertuju pada sosok yang terlibat dalam insiden adu jotos tersebut, yakni M. Yunus Wahyudi, Ketua Komunitas Pejuang Jalanan (KPJ) Laskar Putih.

Keresahan masyarakat akan kegiatan M. Yunus Cs dalam memerangi mafia rente di bumi Blambangan dinilai berlebihan, menyulut banyak pihak untuk mendorong agar aparat keamanan segera mengambil tindakan tegas, mengingat aparat berkewajiban menjaga dan memelihara ketertiban umum.

Baca juga: Polri Bantu Kuras Air Yang Merendam Kompi Senapan A Yonif 111 / Aceh Tamiang

Atas tudingan tersebut M. Yunus membantah bila setiap kegiatannya selalu identik dengan tindakan kekerasan dan intimidasi Dirinya berdalih bahwa kekerasan yang sempat terjadi tak lepas dari nalurinya sebagai mantan petarung, kendati demikian dirinya sangat sesalkan insiden yang telah terjadi.

"Tidak harus, kami tidak selalu gunakan cara-cara kekerasan seperti itu kok, memang saya menyesalkan kejadian itu, namun semua itu bermula akibat saya terprovokasi, hingga insting naluriah saya sebagai mantan petarung pun muncul, bentuk pertahanan diri saat menerima serangan dari lawan," dalihnya.

Lebih lanjut Yunus menegaskan, bahwa narasi yang beredar saat ini adalah upaya dari pihak-pihak lain yang menginginkan citra Harimau Blambangan menjadi cemar, seraya mengembalikan stigma buruk yang dilekatkan pada dirinya pada masyarakat.

"Namanya juga orang nggak suka, apapun pasti akan dilakukan mas, namun semua saya kembalikan lagi kepada masyarakat, yang penting saya ikhlas. Kalau keras kepala dan tak mau menyerah mungkin iya, tapi kalau kekerasan tidak," tegas aktivis Banyuwangi yang menjuluki dirinya sebagai Harimau Blambangan.

Baca juga: Kapolri Pimpin Apel Kebangsaan Banser, Perkuat Sinergi Pengamanan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Yunus enggan berkomentar perihal ia dilaporkan ke Mapolresta Banyuwangi atas 2 peristiwa berbeda di hari yang sama atas tindakan arogansi yang melibatkan dirinya beserta kelompoknya. Pria paruh baya itu justru mengajak publik Banyuwangi untuk menyelami kehidupannya sehari-hari.

"Kalau saya dicap sebagai orang yang arogan, apakah sudah dilakukan pendalaman kepada anak istri saya, tetangga saya, maupun rekan se-alumni saya, apakah benar saya ini orang yang kasar, arogan dan suka main kekerasan fisik," pungkasnya.

Dalam catatan B-news.id, sejak awal tahun 2025, M. Yunus getol melakukan advokasi kepada emak-emak yang terlilit hutang pada bank harian, atau yang lebih dikenal dengan sebutan bank plecit atau rentenir, namun sayang terkadang niat mulia itu tidak dilakukan dengan cara-cara yang lebih elegan, hingga harus menuai kritik dari dalam maupun luar Banyuwangi, bahkan tak sedikit yang mengidentikan kegiatannya tersebut dengan aksi premanisme. (irw)

Editor : Zainul Arifin

Daerah
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru