BLITAR | B-news.id - Suasana Balai Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, pada Senin malam (4/8/2025) tampak semarak dan penuh kebersamaan.
Ratusan warga berkumpul dengan membawa aneka hasil bumi, makanan tradisional, serta doa syukur. Mereka hadir untuk mengikuti tradisi Sedekah Bumi, sebuah ritual adat Jawa yang sejak lama diwariskan oleh leluhur.
Baca Juga: Ormas BIDIK Demo Soroti Ketimpangan Wilayah di Kabupaten Blitar
Tradisi sedekah bumi bagi masyarakat Jawa bukan sekadar acara seremonial, melainkan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki berupa kesuburan tanah, hasil panen, serta kehidupan yang tenteram.
Begitu pula yang dilakukan masyarakat Desa Krenceng, yang setiap tahunnya menggelar ritual ini dengan penuh makna.
Acara dibuka dengan kirab tumpeng agung yang dibawa menuju Balai Desa. Tumpeng berukuran besar tersebut dihiasi aneka lauk pauk dan sayuran hasil bumi, simbol kemakmuran serta doa agar masyarakat Krenceng selalu mendapat keberkahan. Kehadiran tumpeng agung menjadi pusat perhatian sekaligus ikon dari sedekah bumi tahun ini.
Kepala Desa Krenceng, Amsori, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi sedekah bumi bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Jawa yang harus terus dijaga.
"Sedekah bumi ini dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat nikmat yang telah diberikan. Kita sebagai generasi penerus wajib melestarikan tradisi nenek moyang," ungkapnya.
Suasana khidmat terasa ketika doa bersama dipanjatkan. Warga duduk bersila, menundukkan kepala, dan mengikuti lantunan doa yang dipimpin tokoh agama setempat. Doa dipanjatkan untuk keselamatan, kesehatan, serta kesejahteraan seluruh warga Desa Krenceng.
Momen ini menjadi simbol kebersamaan, di mana seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan usia, profesi, atau status sosial turut larut dalam doa.
Usai doa bersama, warga kemudian menikmati hidangan dari tumpeng agung secara bergotong royong. Hidangan tersebut tidak hanya dinikmati sebagai santapan, tetapi juga dipercaya sebagai berkah yang membawa kebaikan bagi yang memakannya.
Suasana hangat penuh kekeluargaan tercipta, mencerminkan nilai luhur gotong royong yang masih dijaga masyarakat Krenceng.
Baca Juga: ADD 2026 Menurun, Kades dan Perangkat Desa se-Blitar Gelar Hearing dengan DPRD
Suasana kegiatan sedekah bumi Desa Krenceng Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, dengan membawa hasil bumi yang telah di panen. (ist)
Menariknya, pelaksanaan sedekah bumi tahun ini bertepatan dengan Hari Jadi Blitar ke-701. Hal ini membuat acara semakin istimewa karena memiliki dua makna: pertama, bentuk syukur masyarakat Krenceng atas nikmat Tuhan; kedua, penghormatan terhadap sejarah panjang Kabupaten Blitar yang kini telah memasuki usia tujuh abad lebih.
"Jadi ada dua agenda dalam kegiatan ini. Pertama, kita mengadakan sedekah bumi, kedua memperingati Hari Jadi Blitar ke-701. Semoga dengan acara ini masyarakat Desa Krenceng diberi keberkahan, hidup sehat, aman tenteram, dan lebih sejahtera," papar Amsori.
Dalam sejarahnya, sedekah bumi erat kaitannya dengan budaya agraris Jawa. Masyarakat dahulu percaya bahwa bumi dan alam memiliki ruh yang harus dijaga keseimbangannya.
Dengan memberikan "sedekah" berupa doa dan hasil bumi, manusia menunjukkan rasa hormat kepada alam serta Sang Pencipta. Nilai inilah yang terus dipertahankan di Desa Krenceng hingga kini.
Baca Juga: Lansia Tewas Tertabrak KA di Garum Blitar
Selain doa dan makan bersama, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan pakaian kesenian tradisional. Warga menampilkan ciri khas budaya Jawa, menambah suasana syahdu sekaligus mengingatkan generasi muda akan kekayaan budaya yang mereka miliki.
Bagi generasi muda, sedekah bumi menjadi sarana pembelajaran penting tentang kearifan lokal. Mereka bisa memahami bahwa tradisi bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga pedoman moral untuk masa kini dan masa depan. Melalui tradisi ini, anak-anak diajak mengenal akar budaya mereka sendiri agar tidak tercerabut oleh arus modernisasi.
Warga Desa Krenceng meyakini bahwa menjaga tradisi sama artinya dengan menjaga jati diri. Oleh karena itu, setiap tahunnya mereka berusaha semaksimal mungkin agar acara sedekah bumi tetap berjalan. Keterlibatan aktif masyarakat juga menunjukkan betapa tradisi ini masih sangat relevan di tengah perkembangan zaman.
Acara sedekah bumi pun ditutup dengan doa keselamatan dan harapan agar Desa Krenceng selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan penuh syukur, warga pulang membawa semangat baru untuk terus menjaga kerukunan, gotong royong, dan kelestarian budaya.
Tradisi sedekah bumi di Desa Krenceng menjadi bukti bahwa budaya Jawa masih berdenyut kuat di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar ritual, ia adalah perekat sosial, pengingat sejarah, sekaligus doa yang dipanjatkan bersama agar kehidupan selalu diberkahi.(*)
Editor : Zainul Arifin