Disnaker Kab Blitar Gelar Pelatihan Barbershop  Bagi Pencari Kerja Muda

avatar Sunyoto
Disnaker Kabupaten Blitar gelar pelatihan tukang cukur bagi pencari kerja muda. (Ist)
Disnaker Kabupaten Blitar gelar pelatihan tukang cukur bagi pencari kerja muda. (Ist)

BLITAR | B-news.id - Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di berbagai bidang kehidupan, profesi barber atau tukang cukur justru mendapat tantangan sekaligus peluang baru.

Menyadari hal itu, Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Tenaga Kerja mengambil langkah strategis dengan menyelenggarakan pelatihan barbershop yang diikuti oleh para pencari kerja muda.

Baca Juga: Ormas BIDIK Demo Soroti Ketimpangan Wilayah di  Kabupaten Blitar 

Bertempat di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Smart Junior, Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, pelatihan ini menjadi bagian dari program unggulan SANG KAPTEN (Sertifikasi Angkatan Kerja Kompeten) yang bertujuan meningkatkan kualitas SDM Blitar agar siap bersaing di dunia kerja.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Blitar, Nanang Adi.

Dalam sambutannya, Nanang menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan merupakan upaya konkret untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang memiliki sertifikat kompetensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

“Ini adalah bentuk keseriusan pemerintah dalam membangun SDM unggul, sesuai visi Bupati Blitar dalam RPJMD 2025–2029,” ujarnya.

Pelatihan barbershop ini dikemas dalam pola 3 in 1, yang terdiri dari tiga tahapan penting: pelatihan vokasi, uji kompetensi BNSP, dan magang di dunia usaha dan industri (DUDI).

Selama sembilan hari pertama, peserta mengikuti pelatihan intensif di LPK Smart Junior. Setelah itu, mereka akan menjalani uji kompetensi oleh LSP PARAS – Surabaya. Terakhir, peserta magang langsung di barbershop profesional.

Mengapa sertifikasi BNSP penting bagi seorang barber? Di era AI, konsumen semakin selektif. Mereka tidak hanya melihat hasil cukuran, tapi juga mempertimbangkan standar layanan, kebersihan, dan bahkan rating online yang bisa diakses lewat aplikasi.

Sertifikasi menjadi bukti nyata bahwa barber tersebut telah memenuhi standar profesional nasional.

Lebih dari itu, sertifikasi membuat seorang barber lebih siap menghadapi teknologi yang makin canggih. Kini, sudah muncul alat-alat pemotong rambut pintar, aplikasi desain gaya rambut berbasis AI, hingga sistem pemesanan otomatis.

Baca Juga: ADD 2026 Menurun, Kades dan Perangkat Desa se-Blitar Gelar Hearing dengan DPRD

Seorang barber bersertifikat memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dengan semua perkembangan tersebut.

Tak hanya sebagai pekerja, sertifikasi BNSP juga membuka jalan wirausaha. Seorang barber bersertifikat lebih mudah mendapatkan izin usaha, akses pembiayaan UMKM, hingga menjalin kerja sama dengan barbershop modern. Bahkan, di tingkat global, sertifikat ini bisa menjadi batu loncatan untuk mendapat pengakuan internasional.

Menurut data Indonesia Barbershop Association, industri barbershop di Indonesia tumbuh rata-rata 20–30 persen per tahun sejak 2017. Artinya, peluang kerja dan usaha masih sangat terbuka.

Namun, hanya barber yang punya keunggulan kompetensi dan bisa mengimbangi perkembangan teknologi yang akan bertahan dan berkembang.

Pelatihan ini juga memberikan nilai tambah bagi peserta dari daerah-daerah. Banyak barber dari desa yang sebelumnya belum tersentuh pelatihan formal, kini bisa belajar teknik cukur modern, penggunaan alat digital, hingga strategi pelayanan pelanggan berbasis teknologi.

Baca Juga: Lansia Tewas Tertabrak KA di Garum Blitar

Selain teknis, aspek manusiawi tetap menjadi kekuatan utama profesi barber. AI mungkin bisa merekomendasikan gaya rambut, tapi tidak bisa menggantikan sentuhan personal saat konsultasi atau pendekatan emosional dengan pelanggan. Di sinilah keunggulan barber bersertifikat: punya kompetensi teknis dan kemampuan interpersonal.

Nanang Adi juga menambahkan bahwa sertifikasi ini bagian dari langkah jangka panjang pemerintah daerah dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

"Kita ingin generasi muda Blitar tidak hanya jadi penonton, tapi pelaku utama di era digital. Profesi apapun, termasuk barber, harus adaptif terhadap teknologi," ungkapnya.

Dengan berakhirnya pelatihan ini pada pertengahan Agustus nanti, para peserta diharapkan tak hanya siap bekerja atau membuka usaha, tapi juga menjadi agen perubahan di lingkungannya. Mereka akan menjadi contoh nyata bahwa profesi barber bukan sekadar pekerjaan, tapi juga peluang masa depan yang cerah.

Dan dengan sertifikasi BNSP di tangan, mereka siap menapaki era baru—era di mana manusia dan teknologi berjalan beriringan, bukan bersaing. Sertifikasi bukan hanya lembaran kertas, tetapi tiket menuju dunia kerja profesional yang lebih luas, lebih digital, dan lebih manusiawi.(*) 

Berita Terbaru