BANGKALAN | B-news.id - Kejadian memilukan kembali terjadi pada mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura Bangkalan, sebelumnya seorang siswi menjadi korban penganiayaan brutal yang dilakukan oleh orang dekat atau kekasihnya.
Deretan kejadian selalu berawal terjadinya jalinan kisah cinta buta, antara sepasang remaja yang menjalin kekasih, dimana seharusnya menimba ilmu demi masa depannya,namun justru menimba asmara yang ujung akhirnya membawa malapetaka.
Baca Juga: Diduga Lambat Urus SHM, Aset Pemkab Bangkalan Tuai Polemik
Kisah pilu kini terulang kembali pada mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura berinisial EJ, berusia 20 tahun, hidupnya terenggut secara sadis oleh seseorang yang seharusnya mengasihi – pacarnya sendiri, MAI.
Kejadian di Desa Banjar di Kecamatan Galis, Bangkalan ini menjadi catatan hitam sejarah lokal terjadinya pembunuhan sadis tanpa perikemanusiaan di sebuah gudang kosong bekas tempat pemotongan kayu menjadi saksi misteri kehancuran seorang siswi perempuan yang diduga mengandung bayi hamil dua bulan dibunuh lalu dibakar.
Konflik asmara sepasang remaja ini bermula dari sekadar percekcokan biasa berubah menjadi tragedi mengerikan. MAI, dengan dinginnya, membunuh EJ menggunakan calok – sebilah senjata tajam yang biasa dibawanya.
Bukan cukup dengan membunuh, pelaku bahkan memutilasi dan membakar jasad korban, seolah-olah ingin menghapus jejak perbuatannya.
Kisah ini membuka pertanyaan yang lebih dalam: Mengapa kekerasan dalam hubungan kekasih bisa terjadi? Bagaimana seorang manusia sampai tega melakukan tindakan sedemikian biadab terhadap pasangannya sendiri?
Baca Juga: HMI Bangkalan Kecam Keras Kasus Pembunuhan Trunojoyo
Setiap detail dalam kronologi peristiwa ini menggambarkan rapuhnya struktur moral dan etika dalam relasi personal jiwa seorang anak remaja.
Meski proses hukum akan dihadapi MAI dengan dijerat pasal 338 KUHP, ancaman hukuman 20 tahun penjara atau hukum seumur hidup '
Namun, hukuman penjara tak akan pernah bisa mengembalikan nyawa EJ atau menghapus trauma mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Baca Juga: Berantas Judi Online, Pemkab Bangkalan - Forkopimda Tandatangani Pakta Integritas
Tragedi ini mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan Agama , terutama tentang resolusi jiwa agar tidak mudah terpengaruh pada emosi sesaat dan kewajiban bersama dalam menjaga martabat wanita.
Setiap nyawa manusia tentu memiliki nilai yang tak terhingga dan tidak seorang pun berhak mencabutnya, terlebih dengan cara yang begitu sadis dan biadab.
Selamat tinggal, EJ. Semoga Allah mengampunimu dan arwahmu mendapatkan keadilan dan kedamaian disisinya bersama bayi dalam kandungannya ( clis)
Editor : Zainul Arifin