KABUPATEN BLITAR | B-news.id - Seorang remaja bernama Andika Bayu Saputra (18), warga Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, ditemukan tak bernyawa di sungai irigasi saluran sekunder pada Jumat, 4 Oktober 2024.
Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 12.30 WIB di perbatasan antara Kelurahan Jegu dan Kelurahan Jingglong, Kecamatan Sutojayan. Andika yang belum bekerja, dilaporkan terjatuh dan tenggelam di sungai oleh saksi-saksi yang ada di tempat kejadian.
Baca Juga: Sedekah Bumi Plandirejo: Doa yang Menyatu dengan Tanah, Jejak Leluhur yang Menjadi Wisata Jiwa
Laporan terkait kejadian ini diterima dari Mujianto, seorang petani sekaligus petugas HIPA (Himpunan Petani Pemakai Air) yang juga menjabat sebagai Ketua RW05 Kelurahan Jingglong. Mujianto melaporkan bahwa Andika bersama dua rekannya, Bagas Saputra (16) dan Muhammad Rizky Aldiansyah (7), mendatangi lokasi irigasi menggunakan sepeda motor milik korban. Sepeda motor Honda Revo dengan nomor polisi AG 6775 OCC tersebut ditinggalkan di tepi sungai saat mereka tiba.
Menurut keterangan saksi, Andika, Bagas, dan Rizky awalnya berniat bermain air di irigasi tersebut. Namun, saat Andika melompat ke pusaran air dengan kedalaman sekitar tiga meter, hal tak terduga terjadi.Tubuh Andika tiba-tiba muncul di permukaan air dengan posisi terbalik, kaki di atas dan kepala di bawah.
Melihat hal tersebut, Bagas segera berusaha menolong Andika dengan menarik celananya, namun celana tersebut sobek. Bagas akhirnya berhasil menarik tubuh Andika ke tepi sungai.
Setelah Andika ditarik ke daratan, Bagas mencoba memeriksa kondisi temannya tersebut. Namun, Andika sudah tidak bergerak, dengan mulut yang mengeluarkan busa.
Bagas kemudian bergegas pulang untuk memberi tahu ibunya, Ika Faroka Nurfifah (35), tentang kejadian yang menimpa Andika. Ika bersama beberapa kerabat dan tetangga korban, termasuk Imam Mudori (60) dan Tukiran (55), segera menuju lokasi kejadian.
Baca Juga: Pemkab Blitar Akan Serahkan SK kepada 1.720 P3K Paruh Waktu pada 19 Desember 2025
Petugas kepolisian dari Polsek Lodoyo Timur bersama tim medis dari Puskesmas Sutojayan datang ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan medis menyebutkan bahwa tubuh Andika tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan serius.
Hanya ditemukan memar di bagian pelipis kanan dan pipi kiri, serta mata yang tampak memerah. Petugas menduga bahwa korban meninggal akibat benturan dengan benda tumpul di dalam air saat terjun ke pusaran air.
Diperkirakan, Andika sudah meninggal satu hingga dua jam sebelum jasadnya ditemukan. Tidak ada luka serius pada tubuh korban selain memar di wajah. Tubuhnya juga tidak menunjukkan tanda-tanda benturan berat lainnya. Berdasarkan pemeriksaan medis, air dan busa yang keluar dari hidung korban menandakan bahwa ia meninggal karena tenggelam.
Baca Juga: DPUPR Kabupaten Blitar Dorong Proyek Infrastruktur Tepat Waktu dan Berkelanjutan
Pihak keluarga Andika menyatakan tidak menghendaki autopsi dan menerima kematian Andika sebagai musibah. Mereka telah membuat surat pernyataan resmi yang ditandatangani di atas materai dan diketahui oleh kepala kelurahan setempat. Keluarga korban tampaknya sudah ikhlas dan tidak ingin memperpanjang kasus ini.
Hingga kini, pihak kepolisian tetap mendalami peristiwa ini untuk memastikan tidak ada unsur kelalaian atau kekerasan lain yang mungkin terjadi. Sementara itu, warga sekitar berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, mengingat daerah irigasi sering dijadikan tempat bermain oleh anak-anak dan remaja setempat.
IPDA Putut Siswahyudi, Kasubsi PIDM Sihumas Polres Blitar, mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan mengawasi anak-anak mereka, terutama di sekitar area yang berisiko seperti irigasi atau sungai dengan pusaran air yang dalam. (sms)
Editor : Zainul Arifin