Jawa Timur Waspada Ancaman Fenomena El Nino, Ini Antisipasi dan Kesigapan BPBD Jatim

avatar b-news.id
Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BPBD Prov Jatim Satriyo. (foto: zainul/B-news.id)
Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BPBD Prov Jatim Satriyo. (foto: zainul/B-news.id)

SIDOARJO | B-news.id -  Fenomena el nino mulai diantisipasi di Jawa Timur. Untuk menghadapi itu, BPBD Prov Jatim menyiapkan segala langkah dan antisipasi melalui berbagai sarana pra sarana agar tidak berdampak pada kelangsungan hidup masyarakat.

El Nino merupakan sebuah fenomena alam yang terjadi ketika suhu permukaan laut (SPL) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, mengalami peningkatan yang signifikan melebihi kondisi normal.

Fenomena ini dapat memengaruhi iklim dan memiliki dampak yang luas terhadap pola cuaca di berbagai wilayah di seluruh dunia.

Dampaknya, potensi pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik tengah, sehingga mengurangi curah hujan di Indonesia.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim Gatot Soebroto melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Satriyo, mengatakan, bahwa fenomena El Nino merupakan siklus yang ada di setiap tahun. 

"Fenomena El Nino merupakan siklus yang terjadi setiap tahun dan jangan dibuat polemik dan dianggap sesuatu yang wah serta menyeramkan. Karena iklim di Indonesia ada dua musim, Kalau di musim kemarau terjadi kekeringan dan itu namanya El Nino dan kalau musim hujan El Nina," kata Satriyo, Kabid Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Prov Jamtim saat dikonfirmasi B-news.id di ruang kerjanya, Kamis (3/8/2023.

Sebagai langkah antisipasi, menurut pria kelahiran Madiun itu mengatakan bahwa, BPBD Jatim sudah menyiapkan langkah-langkah, baik secara preventif maupun menyiapkan segala administratif, termasuk logistik jika diperlukan sewaktu-waktu. 

Dikatakan Satriyo, memang saat ini ada beberapa wilayah di kabupaten yang dilanda kekeringan seperti lahan pertanian maupun yang menyangkut soal sosial yakni kekurangan air bersih karena debit airnya mengalami penurunan yang semula debit airnya secara normal 200 mili liter perdetik menjadi 50 mili liter perdetik. 

"Jadi tugas Kami di BPBD sesuai arahan Ibu Gubernur adalan membantu teman-teman di Kabupaten / Kota menyediakan atau droping air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan, selain memberikan bantuan logistik berupa tandon, terpal untuk penampungan air," kata, Satriyo. 

Selain itu, BPBD Jatim juga melakukan sosialisasi melalui media sosial, baik Facebook, instagram, twitter, maupun nelalui media siber untuk  menyampaikan infiormasi kepada masyarakat agar selalu hemat air saat musim hujan. 

Lebih lanjut Satriyo mengatakan, bahwa di BPBD jenis kekeringan terhadap sosial ekonomi ada tiga macam, yaitu kering lanka, langka terbatas dan kering kritis.

"Di Jawa Timur pemetaannya semua wilayah rawan kekeringan dan saat ini sedang terjadi di 29 Kabupaten. Hal ini disebakabkan karena menurunnya debit air dan tidak ada hujan, " terang Satriyo.

Untuk mengatasi itu, pemkab maupun pemprov membuat SK Darurat sebagai dasar hukum pelaksanaannya.

"Kalau di Jawa Timur itu potensinya ada 27 Kab/ Kota yang terdiri dari 1.617 Dusun, 844 Desa, 221 kecamatan itu potensi. Sampai sekarang ada 4 kabupaten yang tanggap darurat dan ada 9 kabupaten yang siaga darurat dan saat ini sudah ada sekitar 11 kabupten yang sudah droping'," papar Satriyo. 

Sedangkan kabupaten yang digunakan droping air bersih antara lain kabupaten Lamongan, Bojonegoro, Blitar, Mojokerto, Nganjuk, Pasuruan, Bangkalan, Situbondo, dan Jember. Ini data kemarin yang terdata, kemungkinan masih ada yang menyusul karena kekeringan diprediksi puncaknya mulai Agustus - September 2023. (zainul) 

Berita Terbaru