BANYUWANGI | B-news.id - Dua hari pasca insiden tewasnya tiga bocah di kubangan galian C Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Banyuwangi nampak lengang tak ada aktivitas pertambangan, Rabu (19/04/2023).
Tak ada tanda-tanda keberadaan pekerja pertambangan, hanya di sudut areal penempatan alat berat nampak terdapat bekas pekerjaan mekanik mesin.
Nampak sejumlah alat berat dengan berbagai ukuran masih berjajar di posisi semula tanpa ada garis polisi, yang artinya masih boleh di operasikan.
Cuaca panas berdebu, sesekali pita kuning police line meliuk-liuk diterpa angin dipinggiran kubangan galian tambang yang merenggut nyawa ketiga gadis mungil.
Tak hanya satu, pantauan jurnalis B-news.id mencatat terdapat 2 lubang bekas berukuran besar dan 3 lubang bekas galian berukuran sedang yang salah satunya menjadi tempat diketemukan nya ketiga jasad gadis mungil.
Sebelumya diberitakan diperbagai media cetak maupun online yang memuat kisah tragis seorang ibu meraung-raung mendapati gadis mungilnya mengapung tak bernyawa di kubangan galian tambang yang tidak direklamasi atau ditutup kembali.
Ketiga gadis kecil malang itu adalah SF (5), AQL (7), dan SBL (8) ketiganya merupakan anak gadis dari warga Dusun Resomulyo, Desa Genteng wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Senin sore itu 17 April 2023 menjadi hari naas bagi ketiganya, dimana salah satunya diketemukan langsung oleh kedua orang tuanya diduga penyebab kematiannya akibat kehabisan oksigen karena terlalu banyak air yang masuk ke rongga paru-parunya.
Malam itu juga ketiganya dimakamkan secara berjajar di areal pemakaman TPU Resomulyo, setelah sebelumnya pihak keluarga menolak untuk dilakukan autopsi oleh pihak kepolisian.
AKP Karyadi, Kapolsek Sempu dalam keterangannya menyatakan diarea penemuan jenazah ditemukan sandal dari ketiganya dan salah satu korban sudah mengapung.
"Berdasarkan keterangan saksi-saksi, kita dapati bahwa ketiga korban nampak bermain di areal pertambangan sejak sehari sebelumnya, untuk status tambang ini berstatus Aktif," ungkap AKP Karyadi.

Beberapa excavator dibiarkan tidak digaris polisi dan ada yang sudah beralih posisi. (Irw)
Sementara, tokoh masyarakat yang juga kerabat dari keluarga duka, Sujawi (61) kepada B-news.id mengungkapkan ini bukan kali pertama insiden ini terjadi namun insiden pertama korban terselamatkan.
Sujawi juga mengungkapkan sehari pasca kejadian ada upaya dari mediasi dari pihak pengusaha tambang yang akan memberikan santunan namun pihaknya menyatakan belum siap untuk membahas hal itu.
"ini sudah kedua kalinya terjadi kejadian serupa namun yang pertama korban masih bisa diselamatkan," ujar Sujawi.
"Jangan hanya sebatas santunan saja, tapi bagaimana upaya pihak tambang agar kasus serupa tidak terjadi lagi," imbuhnya.
Berbagai elemen masyarakat dan aktivis lingkungan hidup menyerukan agar hukum dapat ditegakkan sebab hilangnya nyawa disebabkan oleh kelalaian pihak tambang yang diduga juga tak mengantongi izin tambang. (irw)
Editor : Zainul Arifin