Dana Bansos BLT DD dan BPNT di Desa Rejoagung Diduga Diselewengkan

avatar b-news.id
Suasana kantor desa Rejoagung, Jl. Jendral Sudirman - Srono, Banyuwangi, Rabu (05/04/2023). (foto: R. Irawan/B-newsid)
Suasana kantor desa Rejoagung, Jl. Jendral Sudirman - Srono, Banyuwangi, Rabu (05/04/2023). (foto: R. Irawan/B-newsid)

BANYUWANGI | B-news.id - Penerima Bantuan Sosial (Bansos) Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) di Desa Rejoagung menjerit. pasalnya diduga dipaksa untuk membeli beras oleh pihak pemerintah Desa Rejoagung.

Seperti di tuturkan oleh RA (38) dan SA (39) Keluarga Penerima Manfaat (KPM) BPNT dan NA (38) KPM BLT DD warga Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, pada jurnalis B-news.id Rabu (05/04/2023).

Menurut RA dan SA mereka mendapatkan Bansos BPNT pada hari senin 02 April 2023 senilai Rp.600.000 namun mereka berdua mengaku hanya menerima Rp.250.000 dan sisanya berupa beras kemasan jenis medium bermerk Bunga Sejati bergambar bunga mawar. 

"Intinya yang Rp.350.000 itu buat beli beras, katanya khawatir uangnya buat yang lain-lain selain kebutuhan pokok, jadi kata petugas desa harus dibelikan beras," ungkapnya.

Lebih lanjut RA dan SA menerangkan bahwa setelah mereka menerima uang bantuan BPNT kemudian oleh petugas Desa diarahkan untuk membeli beras kemasan seberat 25 kilo gram menggunakan kupon dengan harga Rp.350.000 yang telah disediakan oleh pihak pemerintah Desa.

"Saya menerima uang Rp.600.000 kemudian diberi kupon untuk ambil beras kemasan 25 kilo gram dan disuruh membayar sebesar Rp.350.000 oleh pihak Desa," terangnya.

Berbeda dengan NA, dirinya mengaku mewakili orang tuanya untuk melakukan pengambilan BLT DD di tanggal 16 maret 2023 di kantor Desa Rejoagung. sebab orang tuanya yang baru setahun belakangan menjadi penerima manfaat Bansos menderita sakit menahun.

Menurut pengakuannya, orang tuanya mendapatkan BLT DD senilai Rp.900.000, namun kenyataannya NA hanya menerima Rp.500.000 dan sisanya dipotong untuk membayar beras kemasan seberat 35 kilo gram dengan jenis medium dan bermerk bunga sejati bergambar bunga mawar.

Bukti beras dan undangan pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa Rejoagung. (Foto: R. Irawan/ B-news.id) 

"Dapetnya Rp.900.000 tapi yang Rp.400.000 dirupakan beras, jadi yang kita terima hanya Rp.500.000," ungkapnya.

Saat ditanya mengapa mereka tidak menolak saat diarahkan untuk membeli beras yang disediakan oleh pihak Desa, ketiganya kompak menjawab bahwa mereka tidak berani menolak sebab khawatir dicoret dari daftar penerima bantuan.

Sekdes Rejoagung, Sigit saat ditemui awak media berdalih bahwa pihak pemerintah Desa khawatir dari total 907 warganya yang tercatat sebagai penerima bantuan akan menyalahgunakan uang bantuan tunai tersebut untuk keperluan diluar kebutuhan pokok. 

"Khawatirnya dipergunakan diluar kebutuhan pokok mas, oleh karenanya kebijakan pak kades karena ini tentang ketahanan pangan ya sudah suruh beli beras saja," dalihnya menirukan instruksi kepala Desa Rejoagung.

Saat ditanya lebih lanjut tentang mekanisme penyaluran bantuan langsung tunai, Sigit mengelak bahwa dirinya hanya menjalankan tugas dan semua atas kebijakan kepala Desa Rejoagung. 

"Namun kita hanya melaksanakan tugas untuk lebih jelasnya mungkin bisa langsung ke pak Kades," ujarnya.

Namun sayang sekali saat akan dimintai keterangan, Kepala Desa Rejoagung Sonhaji sedang tidak berada di tempat. 

Tak sampai disitu saja, awak media B-news.id coba melakukan penelusuran ke berbagai penjual beras eceran maupun grosir dengan berbekal merk dan bentuk kemasannya, di dapati harga eceran tertinggi (HET) beras tersebut rata-rata adalah Rp.11.000/kilo gram nya. (irw) 

Berita Terbaru