B-news.id - Malam itu sekitar jam 20, dan Roni (45) yang berprofesi sebagai sales salah satu perusahaan nasional bergerak di bidang jasa keuangan baru pulang dari " canvasing" yang dalam beberapa bulan dengan hasil minim, tabungan juga menipis.
Saat baru masuk rumah, dia menerima telepon GSM dari seseorang yang sok akrab sok dekat, mengaku teman sekolah dan saat ini lagi bekerja di pertambangan di pulau Kalimantan.
Baca juga: Sales Kayu, Tipu Beberapa Pengusaha Bahan Bangunan
Karena dari intonasi dan juga gaya bicara mirip teman semasa SD dan SMP, dan memang saat ini berada di Kalimantan Timur bekerja sebagai PNS, dalam telpon dia bercerita berada di tengah hutan, dengan 200 sopir yang malam itu juga mesti harus menjalankan truk tambang.
"Karena nomer HP beli di Jawa, sehingga kalau mengisi di konter di Kalimantan masuknya lama beberapa jam, apalagi saat ini ditengah hutan pada areal tambang yang tidak ada penjual pulsa," papar seseorang yang mengaku teman sekolah tadi.
Karena minta tolong, si penelepon juga akan memberi keuntungan dengan memberi tambahan dari harga pulsa yang di pesan, untuk 200 nomer HP, si penelepon akan mengirim secara transfer sebesar Rp 27 juta lewat salah satu bank swasta, untuk pulsa @ 100.000,- an.
Roni yang didesak oleh si penelepon lewat GSM ini menjawab, bahwa di Jawa untuk mengisi 200 nomer @100 ribuan itu mesti ke distributor besar, dan dia juga bilang kalau tidak punya uang sebesar tersebut, sehingga minta kiriman uang untuk di belikan pulsa.
Si penelepon juga untuk memastikan Roni pasti membelikan pulsa, adalah dengan meminta kiriman pulsa 3 nomer dulu, @ 100 ribuan, dan benar di belikan untuk 3 nomer tersebut.
Hanya selang 3 detik setelah nilai pulsa masuk pada 3 nomer, si penelepon ngotot minta segera mengisikan 200 nomer HP milik sopir truk tambang yang sudah dikirimkan.
Roni minta transfer uang, setelah menunggu sekitar 35 menit, katanya si penelepon perlu mendatangi kantor cabang pembantu terdekat, dan mengirim foto bukti transfer sebesar Rp 27 juta.
Baca juga: Berlagak Susah Keluar Dari RS, Ternyata Modus Cari Sumbangan
"Segera kirim pada 200 nomer ini mas, cepat karena sopir siap berangkat dan HP mereka mesti ON dengan sudah terisi pulsa untuk pantau lokasi perjalanan," perintah penelepon yang memaksa dan meneror.
Roni yang merasa bahagia karena seolah menerima transfer uang, segera membawa motor menuju ATM mengecek transfer tadi, jarak rumah ke ATM sekitar 15 menit, itupun 4 kali di telpon oleh seseorang yang mengaku dari Kalimantan.
Begitu di chek saldo di rekening bank swasta , dan tetap masih tidak ber gerak di angka Rp 250.000,- saldo pribadi, Roni mulai goyah.
HP kembali dihubungi penelepon untuk segera mengirimkan pulsa, karena penelepon merasa sudah men transfer uang.
"Ini uang transfer belum masuk, aku gak bisa belikan pulsa," teriak Roni di GSM.
Penelepon tetap menekan untuk segera mengirimkan pulsa yang dipesan untuk 200 nomer kartu GSM, dan dengan tambahan bahwa uang transfer akan masuk bertahap beberapa kali.
Hingga 1 jam Roni menunggu di sekitar ATM, dan ketika di periksa saldo rekening tetap di angka awal milik sendiri, telpon dari orang yang mengaku teman di Kalimantan ini tidak di angkat.
"Niatku sih untuk menolong membelikan pulsa dan juga mencari selisih harga, eh ternyata malah hilang 300 ribu", papar Roni mengenai modus penipuan. (*)
Editor : Zainul Arifin