OPINI
SIDOARJO | B-news.id - Public private partnership (PPP) adalah sebuah bentuk kerja sama antara pemerintah (sektor publik) dengan perusahaan swasta. Tujuannya adalah untuk membangun atau mengelola infrastruktur dan layanan publik secara bersama-sama. Dalam skema ini, kedua belah pihak saling melengkapi dan saling menguntungkan.
Baca juga: Assosiasi UTJ Sidoarjo Peduli Emak-emak dan Janda, Beri Pelatihan Kerajinan Sandal Cantik
Dilihat dari berbagai aspek maka PPP banyak memberikan dampak positif seperti : 1. Efisiensi dimana perusahaan swasta biasanya lebih efisien dalam pengelolaan karena termotivasi oleh profit. Hal ini dapat mempercepat penyelesaian proyek dan mengurangi biaya. 2. Inovasi dilakukan perusahaan swasta seringkali membawa teknologi dan inovasi baru yang dapat meningkatkan kualitas layanan publik. 3. Pembiayaan proyek infrastruktur besar membutuhkan dana yang sangat besar. PPP dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah. 4. Risiko yang Terbagi: Risiko proyek dibagi antara pemerintah dan swasta, sehingga mengurangi beban masing-masing pihak.
Salah satu bentuk penerapan PPP dalam Sistem Pengelolaan Sampah di Desa Sidomojo Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo yaitu menggunakan Kerjasama dengan swasta dengan mengadopsi teknologo tepat guna dalam pengelolaan sampah berupa alat Incenerator.
Kerjasama yang terjalin dengan pihak swasta adalah pemerintah desa bekerja sama dengan swasta untuk membantu desa membuat alat incinerator dan biaya dari pembuatan alat tersebut bersember dari Dana Desa.
Tantangan dalam PPP yaitu kontrak yang kompleks dalam membuat kontrak yang adil dan mengikat antara kedua belah pihak adalah tantangan tersendiri.
Transparansi dalam proses pengambilan keputusan dalam PPP harus transparan untuk menghindari korupsi dan konflik kepentingan. Dalam pelaksanaan PPP harus sesuai dengan regulasi dan pemerintah perlu memiliki regulasi yang jelas dan konsisten untuk menjamin keberhasilan PPP.
Kemitraan Publik-Swasta (PPP) dalam pengelolaan sampah merupakan kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan swasta untuk mengatasi masalah sampah yang semakin kompleks.
Salah satu kunci keberhasilan PPP adalah pemilihan teknologi yang tepat guna. Teknologi tepat guna adalah teknologi yang sesuai dengan kondisi lokal, mudah diadopsi, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Peran teknologi tepat guna dalam PPP pengelolaan sampah efisiensi pengelolaan. Teknologi dapat meningkatkan efisiensi proses pengumpulan, pengolahan, dan pembuangan sampah.
Pengurangan dampak lingkungan teknologi dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pengolahan sampah organik menjadi kompos atau energi, serta daur ulang bahan-bahan yang dapat didaur ulang.
Peningkatan kapasitas lokal teknologi yang mudah dioperasikan dan dipelihara dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dan tenaga kerja lokal dalam mengelola sampah. Penyediaan teknologi tepat guna dalam PPP pengelolaan sampah merupakan langkah strategis untuk mencapai pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Dengan pemilihan teknologi yang tepat dan dukungan kebijakan yang kuat, PPP dapat memberikan solusi yang efektif bagi permasalahan sampah di Indonesia.
Penggunaan Incinerator dalam Pengelolaan Sampah. Incinerator adalah teknologi pengolahan sampah dengan cara membakar sampah pada suhu yang sangat tinggi.
Proses pembakaran ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah secara signifikan dan mengubahnya menjadi abu yang lebih mudah dikelola. Keuntungan Penggunaan Incinerator Pengurangan Volume Sampah, Incinerator dapat mengurangi volume sampah hingga 90% atau lebih, sehingga mengurangi kebutuhan lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA).
Pemusnahan Patogen, Proses pembakaran pada suhu tinggi dapat membunuh berbagai jenis patogen dan mikroorganisme berbahaya yang terdapat dalam sampah. Produksi Energi Panas yang dihasilkan dari proses pembakaran dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau uap, sehingga incinerator dapat menjadi sumber energi alternatif. Pengolahan Limbah B3 Beberapa jenis incinerator dapat digunakan untuk mengolah limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dengan aman.
Kerugian Penggunaan Incinerator adalah Emisi Gas Rumah Kaca dari Proses pembakaran sampah menghasilkan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2) dan dioksin, yang dapat berkontribusi terhadap perubahan iklim dan masalah kesehatan.
Baca juga: Forum RPS Berikan Apresiasi Kepada Tokoh Berdedikasi
Pencemaran Udara dari Emisi incinerator dapat mencemari udara dan menyebabkan masalah kesehatan pada masyarakat sekitar, seperti penyakit pernapasan. Biaya Operasional Tinggi dari Pembangunan dan pengoperasian incinerator membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Produksi Abu Beracun: Abu hasil pembakaran dapat mengandung zat berbahaya yang sulit dikelola dan membutuhkan penanganan khusus.
Pertimbangan Penggunaan Incinerator Penggunaan incinerator perlu dipertimbangkan dengan hati-hati dan harus memenuhi standar lingkungan yang ketat.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain: Jenis Sampah: Tidak semua jenis sampah cocok untuk dibakar. Sampah yang mengandung bahan berbahaya atau beracun perlu diolah secara khusus. Teknologi: Penggunaan teknologi incinerator yang modern dan efisien dapat meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Regulasi: Pemerintah perlu membuat regulasi yang ketat terkait pembangunan dan pengoperasian incinerator untuk memastikan keamanan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Banyaknya sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Sidomojo dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah secara mandiri dan himbauan dari pemerintah daerah bahwa sampah harus selesai di desa masing-masing dan tidak dibuang di TPA.
Hal tersebut yang menginisiasi pemerintah desa untuk segera menyelesaikan persoalan sampah dengan cepat yaitu dengan menbuat alat incinerator. Kita tahu bahwa incinerator memiliki dampak positif dan negative namun semua diputuskan dengan musyawarah dengan Lembaga terkait dengan hal itu diputuskan untuk memmbangun incinerator.
Pembangunan incinerator dikerjakasamakan dengan pihak swasta yang lebih kompeten dibidangnya. Pemerintah desa hanya memanfaatkan inovasi dan teknologi tepat guna dari pihak swasta untuk membantu dalam pelayanan public dibidang pengelolaan sampah.
Proses pemilihan pihak swasta dengan diadakannya lelang oleh pemdes dan setelah dilakukan lelang maka pemenang dari pihak swasta langsung melakukan MOU dengan Pemdes dalam pelaksanaan pembangunan Incenerator.
Pihak swasta memberikan rancangan desain dan RAB yang sesuai dengan kebutuhan pemerintah desa. Incinerator merupakan salah satu teknologi pengelolaan sampah yang memiliki kelebihan dan kekurangan.
Baca juga: Sidoarjo Borong Dua Penghargaan Dari Menko Perekonomian RI
Penggunaan incinerator perlu dipertimbangkan secara matang dan harus diimbangi dengan upaya untuk mengurangi produksi sampah dan meningkatkan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Idealnya, pengelolaan sampah harus dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan berbagai metode, termasuk incinerator, pengomposan, daur ulang, dan upaya-upaya lainnya.
Pembangunan incinerator di Desa Sidomojo sudah memiliki desain yang ramah lingkungan. Incinerator Ramah Lingkungan: Solusi Modern untuk Pengelolaan Sampah
Meskipun incinerator sering dikaitkan dengan dampak negatif terhadap lingkungan, perkembangan teknologi telah memungkinkan terciptanya incinerator yang lebih ramah lingkungan. Incinerator modern ini dirancang untuk meminimalkan emisi gas berbahaya dan memaksimalkan pemanfaatan energi.
Karakteristik Incinerator Ramah Lingkungan Sistem Pembakaran yang Efisien: Incinerator modern menggunakan sistem pembakaran yang sangat efisien, memastikan suhu pembakaran mencapai tingkat yang optimal untuk menghancurkan bahan organik dan mengurangi emisi berbahaya.
Teknologi Pengendalian Emisi: Dilengkapi dengan teknologi canggih untuk menangkap dan menetralisir berbagai jenis polutan, seperti dioksin, furan, dan partikulat. Pemanfaatan Energi: Panas yang dihasilkan dari proses pembakaran dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau uap, sehingga mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil. Pengelolaan Abu: Abu hasil pembakaran diolah secara khusus untuk meminimalkan kandungan zat berbahaya dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bangunan atau bahan baku industri.
Teknologi yang Mendukung Incinerator Ramah Lingkungan Sistem Scrubber: Menyerap gas asam dan partikulat halus dari gas buang. Filter Benda Padat: Menangkap partikel debu dan abu halus. Injeksi Bahan Kimia: Menetralisir gas asam dan senyawa organik volatil. Katalis: Mengubah senyawa berbahaya menjadi senyawa yang lebih stabil. Incinerator modern telah mengalami perkembangan yang signifikan dan dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Namun, penggunaan incinerator harus diimbangi dengan upaya untuk mengurangi produksi sampah dan meningkatkan pengelolaan sampah secara terpadu.(*)
Penulis: Churil Fauziah, Program Studi Administrasi Publik Fakultas FBHIS Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Editor : Redaksi