Ketoprak Surya Budaya Berusaha Eksis di Tengah Suramnya Wajah Seni Tradisional

b-news.id
Seni tradisional Ketoprak Tobong Surya Budaya berusaha bangkit lagi. (Ist)

KEDIRI |B-news.id - Kesenian Ketoprak merupakan seni tradisional yang bisa dibilang hampir punah pada saat ini. Dulu di era 80 an ke bawah sering ada pertunjukan baik digelar di gedung ataupun di alam terbuka di kota ataupun desa desa namun pada saat ini seakan akan ketoprak hilang keberadaannya. 

Kelompok kelompok masih ada namun hanya dapat dihitung dengan jari. Meskipun ada mereka tidak menemukan ruang untuk menunjukkan eksistensi mereka di tengah majunya dunia seni modern sekarang ini.

Hilangnya eksistensi seni pertunjukan Ketoprak ini bukanlah tanpa sebab. Ada beberapa ancaman yang membuat eksistensi Ketoprak semakin turun di masyarakat. Semakin maju dan berkembangnya teknologi membuat budaya-budaya asing semakin mudah masuk ke Indonesia.

Generasi muda yang merasa bahwa budaya asing ini lebih sesuai dengan selera mereka akan lebih menyukai budaya asing dibandingkan dengan budayanya. Hal ini menyebabkan budaya lokal tersingkirkan dan bahkan dilupakan. Tidak jarang generasi muda kita menganggap bahwa budaya lokal itu kuno dan kampungan.

Ketoprak Tobong Suryo Budoyo yang tadi malam pentas di Plataran Candi Tegowangi salah satu Kelompok yang mencoba bangkit dari kelesuan selama ini apalagi diperparah dengan adanya covid-19 selama 2 tahun melanda negeri ini. 

Acara yang diprakarsai oleh Khusnul Arifin anggota DPRD dari Fraksi Nasdem Kabupaten Kediri dalam program Pokirnya memberikan sedikit hawa segar bagi kelompok tersebut. 

Banyak harapan harapan dari pemain ketoprak yang disampaikan kepada pemerintah melalui Pria yang biasa dipanggil Mas Pipin ini.

Menurut salah satu pemeran ketoprak Galuh Condro Kirono mengatakan senang dengan kegiatan ketoprak yang bangkit lagi. "Saya sangat senang sekali dengan adanya acara ini , dan berharap akan sering ada acara seperti ini " kata Lailatul Fauziyah ditemui disela sela acara kemarin malam.

Ibu putra satu anak menuturkan bahwa dia baru pertama ini bergabung dengan ketoprak Tobong. "Saya sangat suka dengan sesi dagelan dan cerita sejarah atau legenda, sekarang ini banyak dari anak-anak muda yang lebih suka seni modern seperti seni suara dan drama atau sinetron dan sedikit sekali yang minat di seni tradisional, "imbuh Ibu muda yang kesehariannya berprofesi sebagai perias.

Dalam pentas kali ini pemain pemain didominasi pemain pemain baru dan masih muda muda. Seperti Mas Doni yang masih 20 tahun berperan sebagai Joko Brojo jelmaan Pusako Brojo Luwuk dan Ria yang berperan sebagai emban berumur 29 tahun. 

Ria mengatakan kesukaannya dalam dunia seni meskipun baru pertama main ketoprak dia sudah jatuh cinta dengan ketoprak Tobong. Tidak heran Ria sudah menggeluti dunia seni campur sari tergabung dalam group campursari Puspo Srinanjoyo dari Kalipang Grogol.

Sambutan penonton sangat luar biasa pada acara ini. Meskipun duduk beralaskan plastik tak menghalangi antusias penonton dalam menyaksikan ketoprak Tobong ini. 

Begitulah potret seni Ketoprak yang meskipun hampir punah masih ada beberapa anak muda yang ingin membangkitkan kembali dan bisa diterima dan dicintai bangsanya sendiri. (siswo bs)

Editor : Redaksi

Daerah
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru