Sedekah Bumi Plandirejo: Doa yang Menyatu dengan Tanah, Jejak Leluhur yang Menjadi Wisata Jiwa

Reporter : Sunyoto

BLITAR | B-News.id - Di kaki perbukitan pesisir selatan Blitar, Desa Plandirejo berdiri tenang seperti kitab tua yang halaman-halamannya masih dibaca dengan penuh khidmat. Di desa inilah tradisi Sedekah Bumi terus hidup, bukan sekadar ritual, melainkan doa panjang manusia kepada Tuhan, alam, dan leluhur yang telah membuka jalan kehidupan.

Setiap tahun, pada Jum’at Pon di bulan November, langkah-langkah warga mengarah ke satu titik sakral: Punden Mbah Bronto Kusumo. Di tempat itulah Sedekah Bumi digelar, menyatukan laku spiritual, budaya Jawa, dan kebersamaan sosial dalam satu tarikan napas panjang peradaban.
“Ini bukan tradisi biasa, melainkan warisan spiritual yang kami jaga turun-temurun,” tutur Sekretaris Desa Plandirejo, Jarno, kepada wartawa Selasa ( 23/12/2025). 

Baca juga: Pemkab Blitar Akan Serahkan SK kepada 1.720 P3K Paruh Waktu pada 19 Desember 2025

Baginya, Sedekah Bumi adalah cara masyarakat menyampaikan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki, kesehatan, keselamatan, dan ketentraman hidup.
Dalam balutan kesederhanaan, warga membawa hasil bumi, doa, dan harapan. Tidak ada kemewahan, yang ada hanya ketulusan. Dari tangan-tangan petani, bumi dikembalikan kepada Sang Pencipta sebagai simbol rasa terima kasih atas kehidupan yang terus mengalir.

Lebih jauh, Sedekah Bumi juga menjadi penghormatan kepada leluhur, khususnya Mbah Bronto Kusumo—sosok yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Desa Plandirejo. Nama itu tak sekadar dikenang, tetapi dihidupkan kembali lewat doa, cerita, dan laku budaya.
Punden Mbah Bronto Kusumo pada hari itu berubah menjadi panggung sejarah dan spiritual. Asap dupa perlahan naik ke udara, berpadu dengan lantunan kidung suci yang mengalir pelan, menenangkan jiwa siapa pun yang hadir.
Pentas budaya menjadi bagian tak terpisahkan. Kuda Lumping atau Jaranan ditampilkan bukan semata hiburan, tetapi simbol relasi manusia dengan alam dan kekuatan batin. Gerak penarinya yang ritmis seakan menggambarkan perjuangan hidup yang penuh dinamika.
Iringan musik Jedor, gendang, ketipung, dan terbangan mengalun seperti doa yang diberi nada. Alat-alat musik tradisional ini dahulu mengiringi selapanan bayi dan mitoni—menandai bahwa sejak lahir hingga dewasa, kehidupan masyarakat Jawa selalu dipeluk budaya.

Baca juga: DPUPR Kabupaten Blitar Dorong Proyek Infrastruktur Tepat Waktu dan Berkelanjutan

Sejarah Desa Plandirejo sendiri berakar dari masa getir pasca Perang Diponegoro (1825–1830). Ketika perang usai dan kekalahan memaksa banyak prajurit mengasingkan diri, seorang di antaranya memilih pesisir selatan Blitar sebagai tempat bertahan hidup.
Prajurit itu dikenal dengan nama samaran Bronto Kusumo. Ia bersembunyi di hutan belantara, menyamar sebagai rakyat biasa, menjauh dari kejaran penjajah. Hutan yang sunyi perlahan berubah menjadi ruang harapan bagi para pelarian lain.

Tahun demi tahun berlalu, pemukiman kecil itu tumbuh. Orang-orang datang, menetap, dan membangun kehidupan baru. Di sanalah sejarah Plandirejo mulai ditulis, bukan dengan tinta, melainkan dengan kerja keras dan kebersamaan.
Nama Plandirejo dipercaya berasal dari kisah sederhana namun bermakna. Ketika para penghuni awal membuat pagar pemukiman dari kayu pohon mlanding yang disusun berbentuk plang bersilang, tempat itu pun dikenal sebagai Plandirejo—nama yang bertahan hingga kini.

Baca juga: Tragis, Seorang Bocah Hilang Terseret Arus Sungai Saat Bermain Layang-layang di Blitar

Kini, Desa Plandirejo terus berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya. Tiga dusun—Wonorejo, Sidorejo, dan Ngadirejo—menjadi saksi bagaimana tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan.
Tak hanya bernilai spiritual, Sedekah Bumi Plandirejo juga menyimpan potensi besar sebagai wisata budaya dan wisata religi. 

Tradisi ini menghadirkan pengalaman autentik bagi siapa pun yang ingin mengenal Jawa dari sisi paling jujur: doa, tanah, dan manusia.
Dari Karjontono sebagai kepala desa pertama hingga Agus Prawito sebagai kepala desa ke-16, estafet kepemimpinan terus berjalan. Namun satu hal tak pernah berubah: Sedekah Bumi tetap dijaga, karena di sanalah Plandirejo menemukan jiwanya—sebuah desa yang maju tanpa melupakan asal-usulnya.

Editor : Redaksi

Daerah
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru