CINEMAS: Saat Siswa SDN Nglegok 02 Jadi Sutradara Cilik dan Animator Edukasi

avatar Sunyoto
CINEMAS: Saat Siswa SDN Nglegok 02 Jadi Sutradara Cilik dan Animator Edukasi. (ist)
CINEMAS: Saat Siswa SDN Nglegok 02 Jadi Sutradara Cilik dan Animator Edukasi. (ist)

BLITAR | B-news.id - Dunia pendidikan terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Di tengah tuntutan literasi digital dan berkembangnya teknologi kreatif, SDN Nglegok 02 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, menghadirkan sebuah gebrakan yang mulai menarik perhatian banyak pihak.

Program inovatif bernama CINEMAS (Cipta Inovasi Animasi Siswa SDN Nglegok 02) menjadi terobosan yang mengubah cara belajar siswa—dari metode konvensional menuju pembelajaran berbasis kreasi digital.

Baca Juga: Ormas BIDIK Demo Soroti Ketimpangan Wilayah di  Kabupaten Blitar 

Di sekolah ini, siswa tidak lagi hanya menjadi penonton materi pembelajaran melalui animasi. Sebaliknya, mereka justru didorong menjadi kreator yang memproduksi animasi edukatif mereka sendiri.

Paradigma baru ini menempatkan siswa sebagai subjek utama, bukan sekadar konsumen. Hasilnya, proses belajar menjadi lebih hidup, interaktif, dan penuh tantangan kreatif.

Konsep dasarnya sederhana namun visioner: siswa membuat media pembelajaran berupa animasi dari awal hingga akhir. Mulai dari menulis cerita yang disesuaikan dengan materi pelajaran, menggambar karakter dan latar, mengisi suara, hingga menyunting dan merilis produk akhir dalam bentuk video animasi. Semua tahapan dijalankan dalam kerangka Project Based Learning yang menekankan praktik langsung.

Inisiatif ini berkembang dan mendapatkan pondasi kuat berkat kepemimpinan Kepala Sekolah, D. Puguh Santoso, S.Pd. Ia melihat peluang besar untuk mengubah cara belajar generasi muda dengan memanfaatkan teknologi yang sudah semakin lekat dalam keseharian anak-anak masa kini. Dukungan perangkat sekolah dan semangat guru turut menjadi bahan bakar keberhasilan program ini.

“Kami ingin siswa tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menciptakan nilai edukatif,” ujar Puguh Santoso.

“CINEMAS adalah jembatan bagi mereka untuk menjadi sutradara masa depan, dimulai hari ini.” Optimisme itu tercermin dari antusiasme siswa yang tanpa ragu masuk ke dunia produksi kreatif.

Visi tersebut juga selaras dengan arah pendidikan nasional yang mendorong penguatan literasi digital, kreativitas, dan pembelajaran berbasis proyek.

CINEMAS menjadi contoh konkret bagaimana sekolah dasar mampu menerapkan gagasan besar itu secara aplikatif dan relevan. Bahkan, beberapa hasil karya siswa sudah diputar sebagai media belajar di kelas lain.

Di dalam proses produksi, suasana kelas berubah layaknya studio animasi mini. Ada yang sibuk merancang storyboard, menggambar tokoh dengan tablet grafis, berdiskusi tentang warna latar, hingga berlatih intonasi untuk voice over.

Anak-anak belajar tentang kerja tim, manajemen waktu, komunikasi, dan tentu saja—ketelitian dalam mengeksekusi ide.

Baca Juga: ADD 2026 Menurun, Kades dan Perangkat Desa se-Blitar Gelar Hearing dengan DPRD

Program ini juga mencetak dampak positif di aspek psikologis siswa. Siswa yang sebelumnya pemalu mulai berani tampil menjadi pengisi suara.

Mereka yang gemar menggambar kini memiliki medium baru untuk berkarya. Sementara siswa yang tertarik teknologi dapat mengasah kemampuan penyuntingan visual dan audio. Semua bakat dirangkul dan diberdayakan.

Lebih dari itu, CINEMAS memberi siswa ruang untuk berimajinasi sekaligus berpikir kritis. Mereka harus memahami materi pelajaran, mengubahnya menjadi cerita, lalu mengemasnya menjadi visual yang mudah dipahami teman-temannya.

Proses ini menuntut kreativitas, analisis, dan kemampuan menyederhanakan informasi tanpa kehilangan makna.

Guru pun mendapatkan pengalaman baru sebagai fasilitator kreatif. Alih-alih hanya mengajar melalui ceramah atau buku, guru kini bertindak sebagai mentor produksi.

Mereka mengarahkan, memberi masukan teknis, sekaligus menjaga agar jalannya proses tetap relevan dengan tujuan pendidikan. Kolaborasi guru-siswa menjadi lebih kuat dan setara.

Baca Juga: Lansia Tewas Tertabrak KA di Garum Blitar

Menurut pihak sekolah, CINEMAS juga merupakan langkah strategis dalam memanfaatkan fasilitas teknologi yang dimiliki sekolah. Banyak perangkat yang sebelumnya hanya digunakan sebatas dasar kini dimaksimalkan untuk produksi kreatif.

Hasil animasi yang diproduksi siswa pun menjadikan sekolah memiliki media pembelajaran orisinal yang terus bisa digunakan sepanjang tahun.

Secara lebih luas, CINEMAS membantu menciptakan profil pelajar yang diharapkan dalam Kurikulum Merdeka: kreatif, bernalar kritis, mampu berkolaborasi, serta memiliki keterampilan abad 21.

Program ini juga menjadi wadah pembentukan karakter, karena proses produksi menuntut kedisiplinan, kesabaran, dan tanggung jawab dalam menyelesaikan proyek bersama.

Antusiasme siswa semakin menambah keyakinan sekolah bahwa program ini layak dikembangkan lebih jauh. Tidak menutup kemungkinan, CINEMAS dapat melahirkan kompetisi internal, festival karya animasi, atau bahkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Blitar maupun skala nasional. Potensi ekspansinya sangat besar.

Pada akhirnya, SDN Nglegok 02 membuktikan bahwa kreativitas dan teknologi bisa menjadi pintu perubahan dalam pendidikan. Melalui CINEMAS, sekolah ini menanamkan keberanian pada siswa untuk belajar secara aktif, memimpin proses kreatif, dan menciptakan karya nyata. Sebuah langkah kecil dari daerah, namun mencerminkan masa depan pendidikan Indonesia yang lebih maju dan berkarakter.(*)

Berita Terbaru