Luncurkan SITALAS, Babak baru Pemerintahan Kota Surabaya

avatar Redaksi
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat peluncuran program SiTALAS
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat peluncuran program SiTALAS

SURABAYA | B-news.id - Babak baru pemerintahan Kota Surabaya, lewat platform Surabaya digital bernama SITALAS (Sistim cerdas Pendukung Kebijakan Ramah Anak, dengan demikian ke depan seluruh data, program dan kebijakan berkaitan dengan menjadi terintegrasi dalam sistem daring.

Dengan demikian terkait kebijakan guru, tenaga kesehatan, hingga pekerja sosial lebih terdeteksi lebih awal.

Baca Juga: APBD Surabaya 2026 Disahkan, Mampukah Target Ambisius Pemkot Tercapai?

Kebijakan tersebut menjadi tonggak penting untuk kota yang bersungguh sungguh ramah bagi anak.

Sistem ini memungkinkan perencana kebijakan, guru, tenaga kesehatan, hingga pekerja sosial melihat data real-time tentang kondisi anak di setiap kelurahan,  mulai dari gizi, pendidikan, hingga perlindungan sosial.

“Dulu, data anak tersebar di banyak dinas. Sekarang kita satukan, agar keputusan bisa lebih cepat dan tepat,” kata Eri Cahyadi usai peluncuran sistem tersebut di Balai Kota, Senin (13/10/25).

Program yang dikembangkan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Surabaya, bekerja sama dengan Dinas Kominfo, sistem ini memanfaatkan dashboard analitik dan artificial intelligence sederhana untuk membaca trend masalah anak dari laporan lapangan.

Data yang masuk berasal dari berbagai sumber: Posyandu, sekolah, kelurahan, hingga lembaga layanan masyarakat. Tiap laporan akan langsung terhubung dengan sistem pengambilan keputusan di tingkat kota.

SITALAS bukan sekadar proyek digitalisasi, bagi Pemkot, tetapi cara baru berpikir tentang anak — bahwa perlindungan dan kesejahteraan anak tak bisa ditangani dengan pendekatan sektoral. “Anak bukan urusan satu dinas. Ini urusan seluruh kota,” kata Eri.

Menurut para pengamat bahwa kebijakan itu merupakan terobosan menegaskan arah baru birokrasi Surabaya yang semakin menonjolkan inovasi berbasis data dan empati sosial. Namun tantangannya jelas: keberlanjutan sistem dan konsistensi pengisian data di lapangan.

Untuk Eri, tantangan itu bagian dari perjalanan. “Teknologi bukan tujuan, tapi jembatan. Tujuan kita tetap: memastikan anak-anak Surabaya tumbuh dalam kota yang melindungi mereka,” ujar para pengamat

Baca Juga: Interupsi Setelah APBD Disahkan: Anggota DPRD Soroti Izin Rumah Kos dan Aset Pemkot yang Menganggur

Kebijakan Pemkot itu sejalan dengan ura kepala badan perencanaan pembagunan daerah, penelitian dan pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad, pada kesempatan yang sama, pada Senin  (13/10/25) Irvan menuturkan platform ini juga memungkinkan Pemkot surabaya mengambil keputusan berbasis bukti evidence basid plolicy making untuk memastikan setiap kebijakan benar- benar berpihak pada anak lewat dukungan tehnologi artificial Intelligence (AI) Sitalas juga mampu merekomendasikan kebijakan adaptif dan predektif membantu pemerintah dalam mengidentifikasi permasalahan secara dini dan merumuskan solusi yang tepat serta terukur.

Selanjutnya Irvan mengatakan, Proses pengambilan keputusan data yang dikelola dalam Sitalas, terdiri dari dua jenis yakni data kuantitatif dan kualitatif. Yang pertama kuantitatif mencakup berbagai indikator numerik yang menggambarkan capaian program dan kegiatan kota layak anak(KLA) dan Child Friendly Cities Initiative(CFCL) di Kota Surabaya..

Jenis data ini memberikan gambaran obyektif, terukur dan terstandar mengenai kondisi anak anaksekaligus menjadi dasardalam analiscapaian dan evaluasi.(rizal)

 

 

Baca Juga: Pemkot Surabaya Alokasikan Rp50 Miliar untuk Pembinaan Generasi Muda

 

 

 

 

 

Berita Terbaru