TUBAN | B-news.id - Membaca gejala alam baik kosmos maupun mikrokosmos, sejak jaman nenek moyang kita dahulu sudah mempunyai hitungan dan dalam khazanah Jawa ada beragam kejadian yang ajan terjadi di muka bumi ini.
Semalam, langit Nusantara telah berlangsung gerhana bulan total, fase awal gerhana bulan penumbra dimulai 7 September 2025 pukul 22.28 WIB, pukul 23.267 WIB, awal gerhana bulan sebagian.
Baca Juga: Amankan 39 Oknum Pesilat Konvoi di Jalan, Polres Tuban Sekaligus Beri Edukasi
8 September 2025 pukul 00.30 WIB awal gerhana bulan total, pukul 01.11 WIB adalah moment puncak gerhana bulan total, pukul 01.52 WIB akhir gerhana bulan total, pukul 02.56 akhir gerhana bulan sebagian, dan pukul 03.55 moment akhir gerhana bulan penumbra.
Sejauh ini, ilmuwan muslim Indonesia yang berusaha menggunakan data astronomi untuk kepentingan ibadah umat Islam baru Prof. Sartono dari Muhammadiyah.
Salah seorang fotografer astrofisika (astrofotografer),yang sekaligus sering lelaku ilmu Jowo, Arik Wartono, memberi peringatan tentang penanda alam melalui foto langit malam, yang oleh leluhur Nusantara sebenarnya telah dijadikan "ilmu titen" selama ribuan tahun.
Baca Juga: Polres Tuban Ungkap Peredaran Uang Palsu, 2 Pria Diamankan
Sebagian besar pikiran manusia sudah jauh dari kemampuan menghubungkan antara mikro kosmos dan makro kosmos, terlebih mereka yang sekarang sudah banyak terkontaminasi ajaran anti nalar dalam beraqidah, tambah parah tidak mampu melakukan pemahaman ilmu di luar doktrin tekstual.
"Secara tradisional dari beberapa kitab klasik karya para pemangku pondok pesantren sudah bisa di ketahui akan terjadi gergana bulan atau gerhana manahari, mulai tanggal, jam, lokasi yang dilewati gerhana, bahkan dengan penghitungan menggunakan komputer bisa diketahui menit, detik nya," ujar Arik.
Para pujangga dan leluhur sudah memberikan " pepiling " yang meng isyaratkan kita sebagai mahluk dimuka bumi untuk lebih ekstra hati hati ketika diingatkan dengan adanya kejadian di alam raya.
"Contoh yang paling mudah dipahami adalah ketika kita berkendara di daerah yang tidak pernah kita lalui, ada rambu lalu lintas yang menyatakan jalan tikungan ganda dan tanjakan, sementara sebagai pengendara tidak meng indahkan rambu tersebut dan cenderung ngebut, tentu berakhir celaka", pungkas Arik. (")
Editor : Zainul Arifin