Warga Desa Plandirejo Gelar Ritual Tradisi Budaya Larung Sesaji di Pantai Molang

avatar Sunyoto
Warga Desa Plandirejo Gelar Ritual Tradisi Budaya Larung Sesaji di Pantai Molang.(ist)
Warga Desa Plandirejo Gelar Ritual Tradisi Budaya Larung Sesaji di Pantai Molang.(ist)

BLITAR | B-news.id - , Desa Plandirejo, yang terletak di Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar, Jawa Timur, kembali menggelar tradisi budaya tahunan Larung Sesaji di Pantai Molang.

Acara ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur, yang diyakini sebagai penjaga harmoni kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Sedekah Bumi Plandirejo: Doa yang Menyatu dengan Tanah, Jejak Leluhur yang Menjadi Wisata Jiwa

Ritual ini, yang berlangsung pada setiap bulan Suro dalam kalender Jawa, selalu menjadi momen spesial bagi warga setempat dan menarik minat wisatawan dari luar daerah.

Pantai Molang dipilih sebagai tempat pelaksanaan tradisi ini karena diyakini memiliki energi spiritual yang kuat. Pantai ini juga menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam.

Warga Desa Plandirejo percaya bahwa dengan melaksanakan ritual Larung Sesaji, mereka dapat menjaga hubungan harmonis dengan alam serta mendapatkan berkah dan keselamatan bagi desa.

Selain itu, ritual ini dianggap sebagai upaya untuk menolak bala dan melindungi desa dari bencana.

Kepala desa bersama forkopimcam. (ist)

Kepala Desa Plandirejo Agus Prawito mengatakan, "Persiapan untuk ritual ini dimulai jauh-jauh hari. Warga desa bekerja sama dengan Pemerintah Desa untuk menyiapkan berbagai sesaji yang akan dilarung atau dihanyutkan ke laut," kata Kepala Desa Agus Prawito.

Sesaji tersebut terdiri dari hasil bumi seperti padi, jagung, buah-buahan, dan beragam makanan tradisional, yang semuanya diatur dengan rapi dalam sebuah tampah besar.

Di dalam tampah ini juga diletakkan dupa dan bunga-bunga sebagai simbol pengharapan agar leluhur serta penjaga laut memberikan keselamatan kepada masyarakat.

Pada hari pelaksanaan, warga mengenakan pakaian tradisional, seperti kebaya bagi para perempuan dan baju surjan bagi para laki-laki. Suasana di sekitar pantai menjadi semakin sakral dengan alunan musik gamelan yang mengiringi jalannya ritual.

Gamelan dimainkan oleh para seniman lokal yang telah terlatih, dan mereka percaya bahwa musik tradisional ini mampu menciptakan suasana yang lebih khidmat dan mendukung proses penyatuan dengan alam.

'Ritual dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa atau tokoh spiritual. Doa tersebut ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta para leluhur yang diyakini menjaga keselamatan desa," Agus Prawito.

Dalam doa itu, warga memohon keberkahan untuk desa serta dijauhkan dari segala musibah. Setelah doa selesai, sesaji kemudian dibawa ke tepi pantai untuk dilarung ke laut.

Ritual larung sesaji desa Plandirejo. (ist)

Baca Juga: Pemkab Blitar Akan Serahkan SK kepada 1.720 P3K Paruh Waktu pada 19 Desember 2025

Proses larung sesaji ini dilakukan secara hati-hati dan penuh makna. Sesaji dibawa menuju bibir pantai oleh sejumlah warga yang memiliki peran khusus dalam ritual ini.

Sesampainya di tepi pantai, sesaji diletakkan di perahu kecil atau rakit yang sudah dipersiapkan, lalu dihanyutkan ke laut. Warga percaya bahwa sesaji yang dilarung ini akan membawa pesan ke alam gaib dan memberikan perlindungan bagi desa.

Tradisi Larung Sesaji ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi warga Desa Plandirejo. Masyarakat berkumpul, baik yang tua maupun muda, untuk mengikuti jalannya ritual ini.

Selain itu, banyak juga perantau asal desa yang pulang khusus untuk menghadiri acara ini, memperkuat rasa persaudaraan di antara warga desa. Mereka meyakini bahwa kehadiran mereka akan semakin memperkuat ikatan spiritual dengan leluhur.

Agus Prawito menegaskan Selain sebagai upaya pelestarian tradisi, Larung Sesaji di Pantai Molang ini juga menjadi daya tarik wisata budaya. Banyak wisatawan, baik lokal maupun dari luar daerah, yang datang untuk menyaksikan ritual ini," tegasnya.

 Mereka tertarik untuk melihat keunikan budaya yang jarang dijumpai di tempat lain, serta ingin merasakan suasana sakral yang tercipta selama ritual berlangsung.

Para pengunjung yang hadir pun diberi kesempatan untuk mengikuti rangkaian ritual secara terbatas. Mereka diajak untuk turut serta dalam doa bersama dan memahami filosofi di balik Larung Sesaji.

Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda dan menjaga agar tradisi ini tetap hidup di masa depan. Pemerintah daerah juga mendukung pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.

Baca Juga: DPUPR Kabupaten Blitar Dorong Proyek Infrastruktur Tepat Waktu dan Berkelanjutan

Bagi masyarakat Desa Plandirejo, Larung Sesaji tidak hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan oleh leluhur.

Dengan melaksanakan ritual ini, mereka berharap agar generasi berikutnya tetap mengenal dan mencintai tradisi budaya yang ada.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, tradisi Larung Sesaji ini menjadi simbol dari kekuatan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya.

Warga desa menyadari bahwa tradisi ini adalah bagian dari identitas mereka. Oleh karena itu, mereka terus berupaya melestarikannya agar tidak tergerus oleh arus modernisasi.

Tradisi Larung Sesaji di Pantai Molang menunjukkan betapa eratnya hubungan antara masyarakat dan alam di Desa Plandirejo. 

Kepala Desa berharap Melalui ritual ini, masyarakat mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya menjaga keseimbangan dengan alam serta menghargai warisan budaya.

"Harapannya, tradisi ini akan terus dilestarikan dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat di masa depan,"pungkasnya. (sunyoto)

Berita Terbaru