NGANJUK | B-news.id - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur menggelar acara Temu Lapang dan Pencanangan Penerapan Manajemen Tanaman Sehat (MTS) Bawang Merah Tahun 2024 di Kabupaten Nganjuk.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Akhmad Jazuli sekaligus membuka acara, Rabu (30 /10/2024).
Baca Juga: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov Jatim Mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda 2025
Jazuli menyampaikan, program MTS merupakan upaya peningkatan produk ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan penerapan strategi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), melalui pengelolaan agroekosistem atau ekosistem pertanian dalam suatu kawasan.
Metode ini dilakukan dengan pendekatan yang terencana, komprehensif, integral, dan berkelanjutan yang meliputi semua aspek ekologi, ekonomi, dan sosial.
Dalam penerapannya, MTS memperhatikan beberapa komponen dalam pertanian. Yakni, perencanaan tanaman, penggunaan pupuk organik, pengolahan tanah yang baik, benih berkualitas, pengelolaan air, pelestarian musuh alami seperti predator, parasitoid, dan agen antagonis, serta pengamatan dan pengendalian OPT.
Akhmad Jazuli mengatakan, program yang telah diterapkan di Kabupaten Nganjuk ini bisa menjadi referensi penerapan MTS di daerah lain. Karena, program yang meminimalisir penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen ini sudah membuahkan hasil yang maksimal.“Ini contoh penerapan MTS yang bisa dijadikan referensi bagi daerah-daerah dan provinsi-provinsi lainnya. Oleh karenanya tugas Pemerintah Kabupaten dan Desa sangat penting di sini,” ujarnya.
Suasana Pembukaan Temu Lapang dengan memukul kentongan. (ist)
Menurut Jazuli, pencanangan MTS menjadi solusi nyata untuk mengurangi ketergantungan pupuk dan pestisida kimia. Terlebih saat ini ketersediaan pupuk bersubsidi semakin berkurang. Tak hanya itu saja, bahan kimia juga berdampak pada berkurangnya unsur hara dalam lahan pertanian jika digunakan puluhan tahun.
“Jika ingin produktivitas tanaman tinggi, maka kita harus menambah banyak pemupukan karena unsur hara tanah makin berkurang. Sedangkan pupuk bersubsidi saat ini makin berkurang. Oleh karena itu pupuk organik makin dibutuhkan, selain bisa mengembalikan ekosistem lahan, tanaman yang dihasilkan juga sehat,” katanya.
Lebih lanjut Jazuli mengatakan, ilmu penerapan MTS yang telah berjalan selama satu musim tanam ini telah diserap dengan baik oleh petani. Sehingga diharapkan, diseminasi di berbagai daerah di Nganjuk dan daerah lain di Jatim bisa lebih masif. “Ini penting agar produktivitas pertanian dan perekonomian masyarakat juga lebih meningkat,” terangnya.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Sukses Pimpin Misi Dagang Jatim-Sulteng Transaksi Final Tembus Rp 1,542 Triliun
Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov Jatim Heru Suseno didampingi Sekretaris Mimin, foto bersama. (ist)
Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov Jatim, Heru Suseno mengatakan, sebelum diterapkan program MTS bernama Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sudah dilaksanakan mulai tahun 1989 dan telah disosialisasikan dan diterapkan di petani.
Seiring berjalannya waktu, lanjut Heru, PHT dianggap belum bisa menyelesaikan permasalahan yang ada dalam berbudidaya tanaman karena dianggap tidak bisa mengamankan produksi atau perannya tidak jelas, dianggap masih merupakan teori, masih dianggap sekolah lapangan yang artinya belajar boleh salah dan dianggap sebagai program pemberdayaan kualitas SDM saja.
Selain itu model penerapan PHT yang dikembangkan selama ini dianggap tidak populer. Adanya ketidak mampuan petani dalam menerapkan PHT untuk mengungguli praktek pertanian konvensional muncul banyak model penerapan PHT. Model penerapan PHT bisa berkembang menyesuaikan pada situasi dan kondisi, tetapi tetap merujuk pada konsep dan strategi PHT.
Di Jawa Timur, dikembangkan sebuah model penerapan PHT yaitu Manajemen Tanaman Sehat (MTS) dengan multistrategi. MTS didefinisikan sebagai pengelolaan agroekosistem dalam suatu kawasan/hamparan dengan pendekatan yang terrencana, komprehensif, integral dan berkelanjutan yang meliputi semua aspek baik ekologi, ekonomi dan sosial budaya.
Baca Juga: Pemprov Jatim Gelar Pasar Murah di Waru, Beras Premium Dijual Rp 11.000 Perkilo
MTS adalah suatu strategi untuk dapat menciptakan ekosistem pertanian yang sehat dan tahan terhadap resiko serangan OPT, dapat meningkatan produksi dan produktivitas pada taraf tinggi stabil, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan serta menciptakan petani-petani yang handal dalam menyelesaikan permasalahan di lahannya sendiri.
“Dengan penerapan MTS dapat menjadi layanan agroekosistem bernuansa ekologis, kelayakan ekonomi, sosial budaya, meningkatkan kualitas hidup, menjaga kelestarian SDA sehingga menjadi better environment, better farming, better living yang berkelanjutan,” pungkas mantas Kepala Dinas Perkebunan Jatim ini. (za)
Editor : Zainul Arifin