GRESIK | B-news.id - Sebagai penyanggah kota metropolitan Surabaya, Gresik diharapkan bisa ber prestasi dalam bidang olahraga pada peringkat 5 besar, bahkan di 3 besar Jawa Timur.
Kenyataan pada Pekan Olahraga Propinsi Jatim tahun 2022 di Jember, peringkat Gresik berada pada nomer 7, demikian juga saat Porprop Jatim tahun 2023 di Mojokerto, peringkat sudah mulai naik namun hingga saat penutupan tetap bertengger di peringkat ke 7 Jatim.
Ditengah keterbatasan KONI Gresik berkomitmen untuk terus meningkatkan prestasi para atlet, seperti anggaran minim hingga fasilitas olahraga yang belum merata di seluruh wilayah.
Ketua KONI Gresik dr Anis Ambiyo Putri mengatakan pihaknya berharap ke depan ada peningkatan anggaran dari pemerintah.
"Anggaran kami memang termasuk kecil dibandingkan kota-kota sekitar. Tahun ini kami hanya dapat anggaran Rp 5 miliar. Anggaran kami kalah dari Lamongan maupun Sidoarjo," ujarnya. Senin (28/10).
Padahal, jumlah cabang olahraga (cabor) yang ada di bawah naungan KONI Gresik terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada 2021 lalu, jumlah cabor kami hanya 40. Saat ini, tahun 2024 sudah mencapai 51 cabor.
Baca Juga: Kurash Gresik Berkibar di Kejurda Beach Kurash Banyuwangi
"Dengan jumlah cabor yang begitu banyak, namun anggarannya sangat minim. Jadi kami berharap ke depan anggaran dari pemerintah bisa ditingkatkan," tandasnya.
Sekretaris KONI Gresik Imam Junaidi menambahkan, pembahasan APBD 2025, anggaran KONI Gresik kembali mengalami penurunan.
"Dari pengajuan kami Rp 12 miliar hanya disetujui Rp 2 miliar," tandasnya.
Di tengah minimnya anggaran, KONI Gresik mencoba membuat berbagai terobosan. Yakni, dengan menggandeng berbagai pihak untuk membantu pembinaan
Baca Juga: Ketua KONI Jatim M Nabil Dampingi Menpora Erick Tohir Meresmikan Laboratorium Unesa
Mulai dengan menggandeng instansi, perusahaan hingga sekolah untuk menjadi bapak asuh pengembangan cabang olahraga.
"Alhamdulillah banyak yang bersedia, dan dengan di gelar nya Porkab pada akhir Agustus kemarin banyak muncul atlet dari wilayah yang jauh dari kota," ungkapnya.
Selain persoalan anggaran yang minim, fasilitas olahraga hingga saat ini memang belum merata. Sehingga kebanyakan atlet berasal dari kota. ( (ali)
Editor : Zainul Arifin