Peringati HUT Polri, Banyak Pihak Cemaskan Gaya Kepemimpinan Kapolresta Banyuwangi

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Nanang Haryono, SH, S.I.K, Msi, tengah memimpin upacara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Banyuwangi. (Irw/B-news)
Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Nanang Haryono, SH, S.I.K, Msi, tengah memimpin upacara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Banyuwangi. (Irw/B-news)
b-news.id leaderboard

BANYUWANGI | B-news.id - 1 Juli 2024 menjadi puncak peringatan HUT ke-78 Korps Bhayangkara Tahun ini, dengan mengambil tema "Polri Presisi Mendukung Percepatan Transformasi Ekonomi Yang Inklusif dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas," Polri berkomitmen mendukung program pemerintah pulihkan ekonomi nasional.

Guna mewujudkan visi Indonesia emas 2045 tersebut, dalam tubuh Polri dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, lebih dari sekedar penegakkan hukum, mengingat Polri dituntut berperan aktif dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi di tanah air pasca pandemi COVID-19.

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo terus mengkampanyekan transformasi Polri melalui semboyan Polri Presisi, yakni Kepolisian yang Prediktif, Responsif, Transparan, dan Berkeadilan guna meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri. Tak hanya melalui penegakan hukum yang profesional, transparan, dan akuntabel saja, Kapolri gencar Polri yang lebih profesional, modern, dan terpercaya.

Berbicara tentang transformasi besar-besar Korps Bhayangkara, Polresta Banyuwangi rupanya tak luput dari perhatian Kapolri, dibuktikan dengan mengutus Kombes Pol Nanang Haryono, SH, S.I.K, M.Si., perwira menengah terbaik Polri untuk menahkodai pucuk pimpinan Korps Bhayangkara di Bhumi Blambangan, terhitung sejak pertengahan Januari 2024, tak ayal perubahan besar pun terjadi berkat gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Nanang Haryono.

Spesial memperingati hari jadi Bhayangkara, Redaksi Tabloid "B-News Today's" coba mengupas tuntas gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Kapolresta Banyuwangi, hingga dampak transformasi Polri tak hanya dirasakan oleh jajarannya, bahkan mampu dirasakan oleh jajaran lintas sektoral utamanya oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Banyuwangi, sebagaimana pengalaman yang dialami langsung oleh Jurnalis B-News koresponden Banyuwangi, R. Irawan.

Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam rangka memberikan pengaruh kepada anggotanya maupun kepada pihak lain diluar jajaran institusi, sebab gaya kepemimpinan menjadi penentu keberhasilan atau bahkan kegagalan terhadap institusi yang dipimpinnya tersebut.

Kapolresta Banyuwangi tengah memberikan arahan kepada bawahan selayaknya menjadi mentor dan fasilitator bagi anggota keluarga yang lebih muda.( irw/B-news) 

Fakta di lapangan menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan tak hanya berpengaruh terhadap kinerja dan motivasi anggotanya saja, namun berpengaruh pula pada budaya kerja serta memotivasi kinerja anggotanya, dengan tujuan melahirkan lingkungan kerja yang nyaman serta efisien dalam memberikan pelayanan.

Lantas, gaya kepemimpinan seperti apa yang diterapkan oleh Nanang Haryono pada semester pertamanya menjadi orang nomor satu di Mapolresta Banyuwangi..?

Catatan hasil pengamatan Jurnalis B-News menyebutkan, gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Kapolresta Banyuwangi dalam ilmu psikologi dikenal dengan sebutan "Servant Leadership" atau kepemimpinan yang menekankan pelayanan dan pengabdian kepada bawahan, meski terdapat kata "pelayanan" bukan berarti pemimpin akan melayani seperti pembantu, bukan seperti itu konsepnya.

Gaya kepemimpinan Servant Leadership, lebih menitik beratkan pada tumbuh kembang potensi yang dimiliki oleh bawahannya, dimana mantan pembasmi bandar narkoba terbaik yang dimiliki Polri ini, tak jarang menampakkan hubungan erat yang terjalin antara pimpinan dan bawahan selayaknya memperlakukan anggota keluarga yang lebih muda dari dirinya.

Beberapa moment sempat terabadikan camera Jurnalis B-News, seperti saat puluhan jurnalis Banyuwangi tengah bersantai duduk di lantai (Ngemper) pelataran mapolresta tanpa alas menunggu press release ungkap kasus, namun tak ada yang sempat menduga tiba-tiba Ia turun dari ruang kerjanya dan turut Ngemper dan tak jarang terlibat diskusi bareng para kuli tinta.

Servant Leadership hakikatnya adalah gaya kepemimpinan yang dikembangkan untuk mengatasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh suatu kaum atau wilayah, maka tak salah jika Kapolri mengutus Nanang Haryono, pasalnya, B-News sempat terhipnotis menyaksikan Kapolresta tengah memberikan motivasi pada anggota berpangkat Kompol, seolah menjadi mentor dan fasilitator untuk sang adik.

Tapi jangan salah, meski Servant Leadership sempat hantarkan dirinya menjadi sosok pemimpin paling sukses dan gemilang selama 2 tahun menjabat sebagai Kapolres Tuban (2018-2020), namun tak menghapuskan jiwa reserse pada dirinya yang sekali waktu harus memberikan tindakan tegas terukur.

Baca Juga : Dirlantas Polda Jatim Raih Penghargaan "Best Innovator" Level Asia: Sukses Tekan Angka Kecelakaan

Tindakan tegas terukur tersebut sempat menghiasi headline pemberitaan media lokal maupun nasional pada awal April 2024 lalu, 

Nanang Haryono seolah tanpa ampun lagi terhadap anggota polri yang kedapatan terlibat kriminalitas, penyalahgunaan narkoba dan indisiplinner, jawabannya adalah PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat) terhadap 2 anggota nakal Polresta Banyuwangi.

Seolah tak cukup hanya dengan kisah di internal Polresta saja, disaat Pemda Kabupaten Banyuwangi tengah kebingungan, lantaran dikejar deadline rencana revitalisasi pasar besar Banyuwangi terkendala oleh penolakan dari ratusan pedagang pasar yang menolak saat hendak dilakukan relokasi ke pasar sementara yang telah dipersiapkan oleh pihak Pemda.

Meski bukan teritori kewenangannya, penulis menduga, hati kecil Kapolresta Banyuwangi bergejolak ingin menampung jerit aspirasi pedagang pasar yang notabene pendapatan hariannya tak menentu, sedang kebutuhan hidup sehari-hari mereka bergantung pada kegiatan jual-beli di pasar besar Banyuwangi yang akan dibongkar rata dengan tanah dan didirikan kembali dengan konsep yang lebih modern. 

Entah apa yang disampaikan oleh Pria kelahiran Bojonegoro ini kepada pihak-pihak yang mewakili pedagang pasar, bahkan hingga hari ini pengurus paguyuban yang mengakomodir keperluan pedagang, satupun tak ada yang buka suara, tapi yang jelas, usai pertemuan mereka bersama langsung deklarasikan pindah ke pasar relokasi.

Baca Juga : Pj. Gubernur Jatim Terima Piagam dan Pin Emas dari Kapolri di Hari Bhayangkara ke-78

Lantas, mengapa banyak pihak menjadi cemas, sejauh ini gaya kepemimpinan ini efektif merangkul banyak pihak, mendongkrak empati jajarannya, akuntabilitas, dan yang terpenting adalah keterlibatan masyarakat, apa lagi yang dicemaskan..?

Ngemper atau duduk dilantai bersama warga telah menjadi hal yang mudah kita temui di keseharian Kapolresta Banyuwangi.( irw/B-news) 

Bagaimana tidak, gaya kepemimpinan yang diterapkan Kombes pol Nanang Haryono, nampaknya akan mengulang kembali sukses pertamanya kala menjabat Kapolres Tuban, Nanang berhasil merangkul banyak pihak guna memberikan dukungan pada program-program yang digelarnya dan dapat dirasakan nilai positifnya oleh banyak kalangan warga masyarakat di Kabupaten Tuban.

Dan kini gaya kepemimpinan tersebut, diterapkan kembali di Banyuwangi, baru saja memasuki semester pertama kepemimpinannya, beberapa kasus dan permasalahan lama berhasil Ia tuntaskan, dan kini pihaknya dengan menggandeng berbagai pihak, tengah menggodok formula khusus guna mewujudkan keinginan masyarakat menuju "Pakel Damai dan Sejahtera,"

Tak ayal mengundang kecemasan bagi beberapa pihak, terlebih mendengar derasnya dukungan elemen masyarakat dan Pemda Banyuwangi, terhadap kebijakan-kebijakan yang di inisiasi olehnya, bahkan diakui oleh pihak Pemda bahwa ini adalah Lagecy dari Kapolresta Banyuwangi. 

Salah satu yang menjadi tugas besar baginya saat ini adalah menuntaskan program yang telah diinisiasinya, guna menyelesaikan konflik agraria di Desa Pakel, Kecamatan Licin, Banyuwangi, yang tak lebih mencengangkan lagi, Nanang Haryono tak segan turun langsung ke wilayah konflik tersebut meski di malam hari.

Bukan perkara mudah memang meredakan gejolak konflik sosial berlatar belakang agraria, tak hanya perlawan bahkan hoax atau berita bohong pun tak jarang dijadikan alat untuk melemahkan upaya Kapolresta Banyuwangi dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan tersebut.

Artikel berita ini ditulis berdasarkan pengalaman langsung yang di alami Sdr R. Irawan Jurnalis B-News koresponden Banyuwangi sehingga isi berita ini dapat dipertanggungjawabkan secara hukum maupun secara moral kepada semua pihak. Terima kasih dan Dirgahayu Polri ku.. Dirgahayu Bhayangkara.. (Irawan B-news)

b-news.id skyscraper

Berita Lainnya

b-news.id skyscraper