BANYUWANGI | B-News.id - Carnaval atau Carnival adalah salah satu kegiatan tahunan yang selalu dilakukan demi memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia, dari tingkat Desa, tingkat Kecamatan maupun Kabupaten.
Seperti halnya yang digelar oleh Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, saat rangkaian acara pemuncak Carnaval umum Kecamatan Genteng dengan Tema "The Magic Of Ijen Geopark", Minggu (03/09/2023) pagi.
Antusiasme puluhan ribu penonton tumpah ruah di sepanjang pinggiran jalan protokol Kecamatan Genteng, dengan setia sejak pagi menanti Defile Carnaval melintas dihadapan mereka.
Dari catatan panitia pelaksana, sedikitnya 2000 (Dua ribu) peserta dari 5 Desa turut ambil bagian dalam acara akbar tersebut, yakni Desa Gentengwetan, Desa Stail, Desa Kaligondo, Desa Gentengkulon, dan tak mau ketinggalan Desa Kembiritan menambah kemeriahan.
Namun sayang, event besar yang seharusnya jadi ajang pengenalan keberagaman budaya Indonesia bagi masyarakat Genteng, mulai dari kostum, tarian dan lagu, hingga kesenian, khususnya budaya Banyuwangi, terkesan acak-acakan dan nampak tak terkoordinasi dengan baik.
Tentu saja Panitia Pelaksana Kecamatan yang pada akhirnya menjadi sorotan publik, baik itu dari penonton, pengamat, maupun peserta sekalipun mengeluhkan ketimpangan jumlah peserta bahkan terdapat aksi yang kurang patut (seronok) untuk dipertontonkan pun lolos hingga ke garis finish.
Bagaimana tidak, untuk start barisan peserta pertama yaitu Defile dari Desa Gentengwetan saja hingga makan waktu nyaris 3 jam bahkan lebih, barulah peserta kedua yakni Defile dari Desa Stail dapat mengekor di belakang Defile peserta pertama tersebut.
Parahnya lagi, di barisan paling akhir dari Defile Desa Gentengwetan terdapat pemandangan yang kurang patut di pertontonkan mengingat di sepanjang rute terdapat banyak anak dibawah umur.
Rangkaian Defile Carnaval dari Gentengwetan menampilkan ragam budaya dan kesenian daerah harus di kotori dengan tontonan yang tak layak diakhir barisan.(irw)
Nampak 2 gadis belia berambut pirang bercelana setinggi lipatan paha, kaos dipotong setinggi diatas pusar bertuliskan nama sebuah bisnis kuliner, bergoyang erotis diiringi musik Dj Remix di ikuti sekumpulan anak muda berjajar turut berjoget di belakang mereka.
Kepala Desa (Kades) Genteng Wetan, H. M Syukri, saat di konfirmasi mengatakan rombongan yang menampilkan goyangan erotis itu hanyalah sekumpulan anak muda yang ikut nimbrung ke barisan defile carnaval Pemdes Genteng wetan.
"Kita sudah melakukan pendataan dari tiap Dusun akan mengeluarkan barisan carnaval dengan tema apa, kalau saya tahu ada yang seperti itu jelas saya larang," ucap Kades Genteng wetan.
Lebih lanjut Syukri mengatakan akan memanggil pihak sponsor dalam hal ini adalah pelaku bisnis kuliner di Desa Genteng wetan tersebut untuk diberikan teguran keras dan guna memohon maaf atas kejadian tersebut.
"Adinda Cathering mungkin besok akan saya panggil dan saya tegur, jangan sampai hal yang tidak pantas di pertontonkan mengingat disana banyak anak-anak kecil," tegas Syukri.
Dilain pihak Kapolsek Genteng saat dikonfirmasi via telepon mengatakan, pihaknya telah banyak memberikan masukan agar partisipan carnaval dapat menyesuaikan dengan tema kegiatan dan juga norma-norma di masyarakat.
"Terkait hal yang tidak patut dipertontonkan itu sementara ini kita serahkan dulu ke pihak Panitia Pelaksana sebagai penanggung jawab kegiatan tersebut," ujar Kapolsek Genteng, Kompol Agung Setyo Budi.
Sementara Camat Genteng, Satriyo, S.Sos dan Ketua Panitia Pelaksana kegiatan Carnaval umum Kecamatan Genteng, Agus Salim belum dapat memberikan jawaban berkaitan dengan pertanyaan publik terkait bagaimana bisa kegiatan tidak pantas tersebut bisa lolos dari start hingga finish.
Tindakan tegas apa yang akan dilakukan oleh Camat beserta Panitia Pelaksana jika menurut penilaian Panitia Pelaksana hal itu adalah tidak patut dipertontonkan, mengapa ada pembiaran, atau malah sebaliknya justru dianggap patut tontonan gratis daun muda pakaian minim meliuk-liuk goyang pargoy. (irawan)
Editor : Zainul Arifin