Aksi Demo Pamong Majapahit Kepada Bupati Mojokerto, Picu Kemarahan Kiai Asep 

avatar Eko Purbo
KH. Asep Saifuddin Chalim Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah yang juga ayah kandung Bupati Mojokerto Gus Barra. (eko)
KH. Asep Saifuddin Chalim Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah yang juga ayah kandung Bupati Mojokerto Gus Barra. (eko)

KABUPATEN MOJOKERTO | B-news.id - Aksi demo yang dilakukan oleh sekelompok Kepala Desa dan Perangkat Desa yang menamakan dirinya Pamong Majapahit membuat Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim yang juga ayah kandung dari Bupati Mojokerto Gus Barra marah.

Pasalnya demo terkait penuruan Alokasi Dana Desa (ADD) itu sebenarnya sudah ada surat edaran dari Sekretaris Daerah untuk menyiasati hal tersebut.

Baca Juga: KemenHAM dan Pemkab Mojokerto Pastikan Evaluasi Total Pasca Insiden Dugaan Keracunan

Buntut dari kemarahan Kiai Asep, gelar doa bersama dan Istighosah serta sholat malam berjamaah pada Sabtu (17/12) malam. Usai pelaksanaan doa bersama tersebut Kiai Asep menjelaskan bahwa tuntutan mereka adalah siltap tidak boleh dikurangi.

“Dan itu manusiawi, oleh karena itu diperjuangkan oleh Pemerintah Kabupaten Mojokerto untuk memenuhi itu meskipun ADD dikurangi oleh Pemerintah Pusat. Siltap itu tidak dikurangi, ADDnya dikurangi tapi Siltapnya tidak dikurangi. Sementara di Pasuruan itu jelas Siltapnya dikurangi,” ungkapnya di Rumah Dinas Bupati Mojokerto.

Ditambahkannya, sebelum demo, sudah ada perundingan dan menyepakati sudah damai. Namun saat keluar bicara lain, ngajak demo.

“Hal ini yang kurang ajar. Ya saya balas dengan hizib nashor malam ini. Tapi mereka bodoh, demo kemarin kan terdokumentasi. Presiden Prabowo, Menteri Keuangan, dan Menkopolhukam juga tau siapa saja yang demo. Tidak usah dilaporkan tau semua,” tegasnya.

Selanjutnya Kiai Asep menjelaskan supaya Kepala Desa dan Perangkat Desa tahu upaya Pemerintah Kabupaten Mojokerto agar Siltap jangan sampai dikurangi karena menyangkut masalah perut.

Baca Juga: Resmi Lantik Tiga Pejabat Tinggi Pratama, Gus Bupati : Hindari Pola Kerja Sektoral Perkuat Sinergitas 

“Saya sebagai orang tua Bupati Mojokerto tersinggunglah. Sangat tersinggung. Makanya perlindungan saya malam ini saya bacakan hizib nashor, beristighosah, dan membacakan tarmihim untuk mereka,” pesannya.

Dijelaskannya, sebab kalau ia tidak tersinggung maka ia adalah keledai.

“Tau tidak keledai. Dokar itu ditarik oleh kuda. Keledai itu semacam kuda. Kuda itu dipecuti oleh kusirnya tapi masih memberikan makan kepada kusirnya. Saya bukan keledai, makanya saya tersinggung,” cetusnya.

Lebih jauh dikatakannya, kalau mereka orang muslim, banyak baca istighfar.

Baca Juga: Apel Penerimaan KKN-BBK Unair, Gus Bupati Harap Mahasiswa Bawa Program Inovatif dan Berkelanjutan

“Barang siapa yang banyak membaca istighfar, Allah menjadikan susah dan gundahnya segera berubah menjadi kebahagiaan. Kesulitannya diberikan jalan keluar, Allah memberikan rezeki dari arah yang tak diduga-duga,” tuturnya.

Ditegaskannya, anaknya ini cucunya Pahlawan Nasional dan ia ini memperoleh gelar Bintang Mahaputera.

“Jadi, kalau gelar Pahlawan Nasional itu syaratnya harus meninggal dulu. Saya juga mempunyai gelar sebagai satu-satunya tokoh penggerak ekonomi syariah untuk Indonesia. Saya juga mendapatkan gelar sebagai satu-satunya tokoh peduli anak di Indonesia,” tutup Kyai Asep. (*)

Berita Terbaru