BLITAR | B-news.id - Di tengah riuh suasana pusat perbelanjaan Blitar Town Square pada Minggu, 23 November 2025, seorang siswa kelas 5D terlihat berdiri dengan senyum tipis di wajahnya. Namanya Rafardan Azzaky Danendra Suwandi.
Di usia yang baru menginjak 11 tahun, ia berhasil menorehkan prestasi membanggakan sebagai Juara 1 Lomba Berhitung Cepat Metode AHA Tingkat Kabupaten Blitar.
Baca juga: Ormas BIDIK Demo Soroti Ketimpangan Wilayah di Kabupaten Blitar
Prestasi itu bukan hadir secara tiba–tiba. Rafardan, siswa MIN 11 Blitar yang berlokasi di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, dikenal tekun dan memiliki ketertarikan kuat pada dunia angka.
Bagi teman-temannya, ia bukan hanya siswa cerdas, tetapi juga sosok yang tak segan membagi ilmu kepada siapapun yang kesulitan mengikuti pelajaran matematika.
Di lomba berhitung cepat itu, para peserta diminta menunjukkan kecermatan, konsentrasi, dan kecepatan memecahkan persoalan numerik menggunakan Metode AHA—sebuah pendekatan berhitung modern yang menekankan daya hafal, pola, dan ritme. Rafardan tampil menonjol sejak babak awal, menjawab soal demi soal dengan tenang namun presisi.
Suasana kompetisi yang berlangsung di area publik justru membuat tantangan semakin berat. Suara musik pusat perbelanjaan dan lalu-lalang pengunjung menguji fokus para peserta. Namun Rafardan tetap stabil.
“Anak ini kalau sudah mengerjakan hitungan, seperti punya dunianya sendiri,” ujar salah satu guru pendamping yang menyaksikan langsung kegigihannya.
Kemenangan tersebut segera menjadi perhatian jajaran Kementerian Agama Kabupaten Blitar. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Blitar, Farmadi, S.Ag., M.Hi, memberikan ucapan selamat dan apresiasi tinggi atas prestasi Rafardan.
Menurutnya, capaian ini menunjukkan bahwa madrasah memiliki potensi besar dalam mengembangkan literasi numerasi siswa.
Hal senada disampaikan oleh Kepala MIN 11 Blitar, Aceng Sutrisno, S.Pd., M.Pd. Ia menyebut kemenangan Rafardan sebagai bukti bahwa pendidikan dasar yang menekankan disiplin, pembiasaan, dan pendampingan intensif mampu menghasilkan siswa yang unggul di bidang akademik.
Aceng juga menuturkan bahwa Rafardan bukan hanya anak yang cerdas, tetapi juga rendah hati dan suka belajar.
Baca juga: ADD 2026 Menurun, Kades dan Perangkat Desa se-Blitar Gelar Hearing dengan DPRD
“Ia termasuk siswa yang tidak mudah menyerah. Jika ada materi yang belum ia kuasai, ia akan mencari tambahan latihan sendiri di luar jam pelajaran,” ungkapnya.
Di rumah, Rafardan tumbuh dalam suasana yang penuh dukungan. Ayahnya, Dik Dik Suwandi, dan ibunya, Heni Kristina E Puspita, mengaku selalu berusaha menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian pada putra mereka. Mereka mendampingi bukan dengan tekanan, tetapi dengan motivasi dan ruang untuk berkembang.
Saat prestasi itu diumumkan, keduanya tak mampu menahan rasa haru. “Kami bangga sekali. Yang penting bukan hanya juaranya, tetapi proses dan usaha yang ia jalani,” kata Dik Dik, dengan mata berbinar. Ia berharap keahlian berhitung cepat yang kini dimiliki Rafardan dapat menjadi modal penting untuk masa depannya.
Bagi keluarga kecil itu, prestasi Rafardan bukan sekadar kemenangan dalam perlombaan. Mereka memaknainya sebagai bukti bahwa ketekunan—betapapun kecilnya—akan membawa hasil ketika dijalani dengan sungguh-sungguh.
Di mata sang ibu, Heni, prestasi Rafardan merupakan hadiah terbaik karena menunjukkan karakter disiplin dan semangat belajar yang terus tumbuh.
Baca juga: Lansia Tewas Tertabrak KA di Garum Blitar
Rafardan sendiri justru tampil sederhana. Ia lebih senang bercerita tentang bagaimana ia menyiapkan diri menghadapi lomba, daripada membahas kemenangan.
“Saya hanya ingin bisa lebih cepat lagi,” ujarnya singkat, sembari tertawa kecil. Baginya, berhitung adalah permainan yang membuatnya nyaman, bukan sesuatu yang membebani.
Dengan prestasi yang diraih, banyak harapan yang kini menyertai langkah Rafardan. Orang tuanya berharap ia tumbuh menjadi anak yang sholeh, bermanfaat bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat.
Pihak madrasah pun berharap kemenangan ini mampu menginspirasi siswa lainnya agar terus berani berkompetisi dan mengeksplorasi potensi diri.
Perjalanan Rafardan tentu masih panjang. Namun satu hal menjadi jelas: di sebuah madrasah di sudut Kabupaten Blitar, tumbuh seorang anak yang diam-diam membangun masa depan lewat angka—dengan ketenangan, ketekunan, dan semangat yang tak mengenal lelah. (*)
Editor : Redaksi