SURABAYA | B-news.id — Fenomena cyber bullying yang kian marak di dunia maya menginspirasi lahirnya film “Perlindungan Maya”, sebuah karya edukatif garapan Asosiasi Produser Film Indonesia (APFI).
Film ini tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga mengajak penonton muda untuk memahami pentingnya karakter, empati, dan ketahanan moral di era digital.
Baca juga: APBD Surabaya 2026 Disahkan, Mampukah Target Ambisius Pemkot Tercapai?
Ketua APFI, Bagus Hariyanto, mengatakan film ini merupakan bagian dari kampanye nasional untuk memperkuat pendidikan karakter generasi muda, sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.
“Cyber bullying bisa menghancurkan kepercayaan diri dan kesehatan mental anak. Melalui film ini, kami ingin melakukan semacam ‘vaksinasi moral’, agar anak-anak memiliki daya tahan karakter yang kuat menghadapi dunia digital,” ujarnya kepada B-NEWS.id, kamis (23/10/2025) di Surabaya.
Film “Perlindungan Maya” berkisah tentang Neira, gadis berusia 13 tahun yang duduk di bangku kelas dua SMP. Awalnya, Neira dikenal sebagai sosok teladan di sekolah. Namun hidupnya berubah ketika sebuah video perselisihannya dengan teman sebaya tersebar luas di media sosial dan menjadi viral. Tekanan mental yang berat membuat Neira terpuruk, menutup diri, dan kehilangan semangat menjalani hari-hari.
Demi kebaikan putrinya, keluarga memutuskan mengirim Neira tinggal bersama sang kakek di sebuah daerah kecil. Di tempat baru itu, Neira perlahan menemukan kembali arti harapan dan membangun fondasi hidup yang lebih kokoh — mulai dari kedekatan spiritual, kemandirian, hingga rasa cinta tanah air dan semangat gotong royong. Bersama teman-teman barunya, ia menginisiasi taman baca dan ruang latihan Spelling Bee bagi anak-anak kurang mampu.
Baca juga: Interupsi Setelah APBD Disahkan: Anggota DPRD Soroti Izin Rumah Kos dan Aset Pemkot yang Menganggur
Perjalanan Neira mencapai puncaknya ketika ia kembali ke sekolah lamanya untuk mengikuti lomba Spelling Bee. Di atas panggung, bukan hanya prestasi yang ia perjuangkan, tetapi juga keberanian menutup luka masa lalu dan membuka lembaran baru dengan hati yang lebih kuat.
Bagus menambahkan, film ini juga menghadirkan Amanda Putri Revina, siswi kelas 8 Stella Gracia School Makassar, yang memerankan tokoh Neira dengan penuh penghayatan.
“Peran Amanda sangat kuat. Ia berhasil menggambarkan sosok anak muda yang bangkit dari tekanan dunia maya dengan semangat baru. Ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu melalui ceramah, tapi juga lewat karya seni yang menyentuh,” jelas Bagus.
Baca juga: Pemkot Surabaya Alokasikan Rp50 Miliar untuk Pembinaan Generasi Muda
Ia berharap film “Perlindungan Maya” dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah dan komunitas pendidikan di seluruh Indonesia.
“Kami ingin film ini menjadi gerakan moral untuk menumbuhkan empati, tanggung jawab sosial, dan semangat gotong royong. Dunia maya seharusnya jadi ruang kebaikan, bukan luka,” pungkasnya.(rizal)
Editor : Zainul Arifin