KOTA BATU | B-news.id– Setelah meningkatnya kasus gagal ginjal pada anak-anak, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu, cekal peredaran obat sirup di apotek.
Langkah pencekalan ini diambil oleh Dinkes Batu berdasarkan Surat Edaran Kemenkes RI nomor SR.01.05/III/3461/2022 tentang kewajiban penyelidikan epidemiologi dan pelaporan kasus gangguan ginjal akut atipikal (atypical progressive acute kidney injury).
Inspeksi mendadak (Sidak) juga dilakukan pada beberapa apotek, untuk memastikan instruksi itu dijalankan. Salah satunya Apotek Alesha Farma yang berada di Desa Sumberejo Kecamatan Batu.
Menindaklanjuti surat edaran tersebut, Dinkes Kota Batu meminta seluruh apotek yang ada di Kota Batu menghentikan sementara penjulan obat sirup.
Dikatakan oleh Kabid Pelayanan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Batu, dr Icang Sarrazin, dihentikannya penjualan obat sirup, karena Kemenkes masih melakukan penelitian.
“Penelitian itu terkait dengan kandungan dietilen glikol dan etilen glikol. Dari cairan yang berfungi sebagai pelarut obat sirup itu, diduga menjadi penyebab gangguan fungsi ginjal,” imbuh Icang.
Sembari menunggu hasil penelitian, Icang menganjurkan orang tua menggunakan cara konvensional apabila anaknya sakit.
"Semisal mengompres dengan air hangat. Bisa juga dengan menggunakan ramuan atau cara tradisional," imbuh dia.
Lebih lanjut, saat disinggung perihal dampak apotek yang tidak bisa menjual obat, pasti mengalami kerugian, Icang mengatakan jika pihak apotek pasti memahami.
Sekadar informasi, total di Kota Batu ada 28 apotek. Untuk bisa mengedarkan obat sirup lagi mereka harus bersabar. Kemudian untuk pengawasan agar tidak ada apotek yang nakal. Pihaknya akan rutin melakukan peninjauan.
“Ini tentang keamanan bersama dan konsekuensi tentang akibat yang akan terjadi dikemudian hari. Saya rasa apotek di Kota Batu akan memahami,” katanya.
Penanggungjawab Apoteker Apotek Alesha Farma, Junaedi Sandiko mengatakan, dengan adanya imbauan tersebut. Pihaknya akan menyimpan obat-obatan sirup terlebih dahulu.
Penarikan obat tersebut pihaknya lakukan mulai beberapa hari lalu. Itu setelah turunnya surat edaran dari Dinkes Batu.
Junaedi mengaku, sebenarnya obat sirup anak paling banyak dicari. Apalagi di musim penghujan seperti saat ini.
“Memang obat ini sirup paling banyak dicai karena lebih mudah mengkonsumsi. Saat ini kami simpan dan peredarannya dihentikan sampai diperbolehkan kembali,” ujar dia.
Dia mengungkapkan, sejak munculnya penyakit gagal ginjal akut yang diduga karena obat sirup. Omset penjualan obat sirup untuk anak-anak turun hingga 40 persen.
Dengan adanya imbauan tersebut pihaknya juga mengedukasi masyarakat. Bertujuan agar masyarakat tak bersikukuh membeli obat sirup.
“Kami edukasi masyarakat. Jangan sampai karena ingin membeli obat namun malah dapat penyakit yang lain. Jadi untuk sementara waktu, masyarakat kami sarankan ke dokter dan minta resep obat,” tandasnya.
Meskipun kasus gagal ginjal pada anak di Kota Batu masih nihil, Koordinator Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Batu (Pemkot Batu), Dokter Susana Indahwati, gencar melakukan sosialisasi.
Senyampang tindakan dari Kemenkes dalam menghadapi permasalahan tersebut, pihaknya menyosialisasikan ancaman penyakit ini kepada warga masyarakat. Lewat pengetahuan ini, diharapkan ada pencegahan.
"Kasus gagal ginjal akut misterius pada anak di Kota Batu hingga kini masih nihil, tapi kita perlu melakukan langkah-langkah antisipasi," ujar dokter Susan. (inu)
Editor : Zainul Arifin