Semangat Hari Pahlawan di Kota Pahlawan

Dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes: Dari Pasar Turi yang Terbakar hingga Jadi ‘Spesialis Gelandangan’ & 'Dokter Rakyat

avatar Moh. Rizal Alzahari
Dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M. Kes. Dokter Rakyat. (Ist)
Dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M. Kes. Dokter Rakyat. (Ist)

SURABAYA | B-news.id  - Di tengah peringatan Hari Pahlawan 10 November, berbagai kegiatan digelar Pemerintah Kota dan DPRD Surabaya untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan. Namun di balik semarak upacara dan tabur bunga, ada sosok yang menghidupkan semangat kepahlawanan dalam bentuk paling sederhana: menolong sesama tanpa pamrih.

Dia adalah Dr. Michael Leksodimulyo, MBA., M.Kes, seorang dokter yang dikenal masyarakat sebagai spesialis gelandangan karena pengabdiannya melayani kaum dhuafa tanpa imbalan. Kini, setelah duduk di legislatif, ia menjelma menjadi “dokter rakyat” yang memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil.

Baca Juga: Kasus Anak di Bawah Umur di Cafe Black Owl, Ketua Komisi D DPRD Surabaya Minta Dibentuk Tim Gabungan

Dari Pasar Turi ke Jalan Pengabdian

Kepedulian terhadap kaum lemah itu tak muncul tiba-tiba. Semuanya berawal dari pengalaman pahit masa kecil, ketika keluarganya kehilangan segalanya setelah Pasar Turi Surabaya terbakar dua kali. Orang tuanya, yang sehari-hari berjualan barang kelontong, jatuh miskin seketika.

“Sejak kebakaran itu, kami benar-benar jatuh. Orang tua tak lagi mampu membiayai sekolah,” kenangnya.

Namun, di tengah keterbatasan itu, tekad Michael kecil untuk menjadi dokter tak pernah padam. Sejak SMA, ia sudah terbiasa berbagi bekal makannya dengan gelandangan yang mengais rezeki dari tumpukan sampah.

“Hati saya terenyuh, masak manusia makan dari tempat sampah,” kenangnya. Ketika ibunya mengetahui hal itu, sang ibu hanya tersenyum dan berkata, “Kamu memang berjiwa penolong, cocok jadi dokter.”

Sejak saat itu, cita-cita menjadi dokter semakin kuat. Ia yakin, Tuhan pasti membuka jalan bagi siapa pun yang tulus menolong sesama.

“Mungkin karena niat menolong itu tulus, saya bisa kuliah kedokteran tanpa biaya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Pengabdian yang Tak Pernah Padam

Kini ketiga anaknya juga mengikuti jejaknya menjadi dokter — semuanya menempuh pendidikan kedokteran tanpa mengeluarkan biaya.

Setelah lulus dan hidup berkecukupan, Michael justru memilih meninggalkan “zona nyaman”. Padahal, ia pernah menjabat sebagai manajer di rumah sakit swasta ternama di Surabaya, dosen di universitas swasta, dan kerap menjadi penguji pascasarjana.

Namun, semua jabatan itu ia tinggalkan. Ia memilih mengabdi untuk kaum dhuafa.

Selama lebih dari 15 tahun, ia aktif di Yayasan Pondok Kasih, mendirikan Klinik Keliling Pondok Kasih sejak tahun 2009. Melalui klinik keliling itu, ia memberikan layanan kesehatan gratis, penyuluhan, dan pendampingan di kantong-kantong kemiskinan Surabaya.

“Saya malah senang disebut spesialis gelandangan,” ujarnya sambil tersenyum. “Karena dari merekalah saya belajar arti kemanusiaan yang sesungguhnya.”

Terinspirasi Pahlawan dan Panutan Hidup

Baca Juga: Dua Proyek Mangkrak Diputus Kontrak, Komisi D Tekankan BPJS Ketenagakerjaan

Sebagai putra daerah yang lahir di Surabaya, dr. Michael mengaku ingin meneladani semangat Pahlawan Budi Utomo, yang memperjuangkan kebangkitan bangsa melalui pendidikan. Ia pun bertekad mengentaskan kemiskinan di kota kelahirannya — Surabaya, Kota Pahlawan.

Semasa menempuh pendidikan di Universitas Sam Ratulangi Manado, ia juga terinspirasi oleh pesan Dr. Sam Ratulangi:

“Sitou Timou Tumou Tou” — Manusia hidup untuk menghidupkan orang lain.

Tak hanya itu, Bunda Teresa menjadi panutan spiritualnya. “Beliau sampai akhir hayat melayani kaum papa dan menderita tanpa pamrih. Itu yang saya pelajari — kasih sejati tidak mengenal batas,” katanya lembut.

Dari inspirasi para pahlawan itulah dr. Michael tumbuh menjadi sosok dokter yang rendah hati dan bekerja bagi mereka yang sering dilupakan. Maka, julukan ‘Dokter Spesialis Gelandangan’ melekat padanya.

Berjuang Lewat Kebijakan Publik

Kini, dr. Michael mengemban amanah baru sebagai anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, yang membidangi Sosial, Kesehatan, Pendidikan, Tenaga Kerja, serta Perlindungan Anak dan Perempuan.

Melalui peran legislatifnya, ia terus mengawal kebijakan Pemerintah Kota agar berpihak kepada masyarakat kurang mampu.

Baca Juga: APBD Surabaya 2026 Disahkan, Mampukah Target Ambisius Pemkot Tercapai?

Masyarakat mengenalnya sebagai “Dokter Rakyat”, karena selalu membuka pintu dan telinga untuk mendengar aspirasi warga miskin, dari lorong kampung hingga rumah-rumah warga di pinggiran.

“Kasih itu nyata. Kasih itu ada sukacita di dalam-Nya. Kasih mampu menembus tembok perbedaan,” ujarnya penuh keyakinan.

Refleksi Hari Pahlawan

Di momen Hari Pahlawan ini, kisah Dr. Michael Leksodimulyo, MBA., M.Kes menjadi pengingat bahwa kepahlawanan tidak selalu diwujudkan dengan seragam dan senjata, tetapi dengan ketulusan hati untuk berbuat bagi sesama.

Tanpa pedang dan peluru, ia berjuang di garis depan kemiskinan — menolong yang lemah, memulihkan yang terluka, dan menyalakan kembali harapan bagi mereka yang nyaris putus asa.

“Pahlawan itu bukan soal nama besar,” katanya pelan. “Tapi soal seberapa besar kita mau berbuat untuk orang lain.”

Dengan pengabdian dan kasih yang konsisten, dr. Michael Leksodimulyo membuktikan bahwa semangat kepahlawanan sejati masih hidup di Kota Pahlawan, Surabaya.(*)

Berita Terbaru