BLITAR | B-news.id - Malam itu, langit Tuliskriyo tampak berkilau diterangi rembulan yang menggantung di atas persawahan. Udara desa yang sejuk di iringin sumilirnya angin malam seolah memberi restu bagi masyarakat Tuliskriyo yang tengah bersiap menyelenggarakan sebuah tradisi agung: pagelaran wayang kulit semalam suntuk pada Jum'at malam (5/9/2025).
Panggung besar telah berdiri di halaman balai desa, dihias dengan janur kuning, bunga setaman, menambah semaraknya suana Desa Tuliskriyo.
Baca Juga: Ormas BIDIK Demo Soroti Ketimpangan Wilayah di Kabupaten Blitar
Kegiatan ini bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan. Malam itu, Dalang Dani Degleng dari Kelurahan Bence, Kecamatan Garum, dipercaya memimpin jalannya pertunjukan dengan lakon “Wahyu Katentreman” atau yang juga dikenal dengan Wahyu Makuthoromo.
Cerita yang dipilih sarat makna, tentang perjalanan manusia mencari kedamaian, keseimbangan, dan restu kehidupan.
Kehadiran pelawak Cak Bajul dan Jo Ambon pun menambah suasana meriah, menghadirkan tawa di sela-sela kisah penuh falsafah.
Sejak sore, warga berduyun-duyun datang. Anak-anak berlari kecil bermain ceria, remaja membawa jajanan pasar, sementara para sesepuh berjalan perlahan dengan penuh makna, duduk di kursi yang telah disediakan panitia.
Denting gamelan mulai mengalun, seolah menjadi tanda bahwa ritual budaya yang ditunggu telah dimulai. Bagi masyarakat Tuliskriyo, malam Bersih Desa adalah puncak perayaan, sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen para petani, serta keselamatan, dan keberkahan yang dianugerahkan Tuhan.
Kepala Desa Tuliskriyo, Mashuriono, berdiri di hadapan warganya sebelum pertunjukan dimulai. Dengan suara yang tegas namun penuh kebapakan, ia menyampaikan bahwa acara malam ini adalah puncak dari rangkaian kegiatan Bersih Desa yang diwariskan turun-temurun.
Sebelumnya telah digelar seni jaranan yang membakar semangat, dilanjutkan dengan pengajian akbar yang menyejukkan hati.
Kini, sebagai penutup, digelar wayang kulit semalam suntuk yang dilanjutkan ruwatan atau murwokolo, sebuah ritual sakral untuk menolak balak dan menjauhkan masyarakat dari marabahaya.
Mashuriono menekankan bahwa ruwatan bukan sekadar simbol. Ia mengandung doa dan harapan agar warga Tuliskriyo selalu dijauhkan dari bencana, kerusuhan, maupun penyakit.
“Semoga kita semua bisa hidup tenteram, damai, dan sejahtera,” ujarnya. Kata-katanya disambut warga yang larut dalam suasana haru dan bahagia.
Baca Juga: ADD 2026 Menurun, Kades dan Perangkat Desa se-Blitar Gelar Hearing dengan DPRD
Namun, di balik kemeriahan itu, Kepala Desa juga mengingatkan warganya akan kondisi bangsa yang sedang tidak menentu. Dalam beberapa hari terakhir, banyak terjadi kerusuhan, penjarahan, bahkan pembakaran kantor-kantor pemerintahan.
Gelombang aksi massa sering kali dipicu oleh isu-isu yang tak jelas asal-usulnya, menyebar cepat di media sosial, dan berakhir dengan tindakan anarkis.
Mashuriono menekankan agar masyarakat Tuliskriyo tidak mudah terprovokasi. “Jangan sampai karena hoaks, kita ikut-ikutan turun ke jalan, merusak, menjarah, atau membakar. Itu bukan jalan kita. Desa ini harus tetap kondusif, aman, dan damai,” pesannya.
Ucapan itu membuat sebagian warga mengangguk, seolah menyadari betapa pentingnya menjaga persatuan di tengah badai isu nasional.
Sementara itu, wayang kulit terus bergulir. Dalang Dani Degleng dengan suara tegasnya membawa penonton ke dalam dunia pewayangan. Kisah Wahyu Katentreman menjadi cermin perjalanan masyarakat Tuliskriyo sendiri: bagaimana di tengah kekacauan, manusia selalu mencari pencerahan, ketenangan, dan harmoni. Sesekali, gelak tawa pecah saat Cak Bajul dan Jo Ambon melontarkan guyonan khas Jawa Timuran, mengingatkan bahwa hidup bukan hanya perjuangan, tapi juga keceriaan.
Jam demi jam bergulir, namun semangat warga tak luntur. Anak-anak yang semula berlarian kini mulai terlelap di pangkuan ibu mereka, sementara para pemuda masih setia duduk di barisan depan. Sesepuh desa tampak khusyuk, menyimak jalannya cerita dalam pemetasan wayang. Bagi mereka, malam ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga momen sakral yang menautkan manusia dengan leluhur dan alam semesta.
Baca Juga: Lansia Tewas Tertabrak KA di Garum Blitar
Ruwatan pun digelar dengan penuh khidmat. Sesajen ditata rapi, air kembang disiapkan, dan doa-doa dilantunkan. Warga yang dipercaya perlu diruwat ikut dalam prosesi, dengan harapan hidup mereka akan terbebas dari sukerta dan terhindar dari nasib buruk. Suasana menjadi hening, hanya suara doa yang terdengar, seakan seluruh desa ikut merunduk dalam kebersahajaan.
Ketika fajar mulai menyingsing, pertunjukan pun usai. Dalang menutup lakon dengan pesan moral: manusia harus selalu mencari jalan damai, menjauh dari keserakahan, dan mengedepankan gotong royong. Pagi itu, sinar matahari menyapu wajah-wajah lelah namun bahagia. Desa Tuliskriyo kembali bersih, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.
Bersih Desa di Tuliskriyo bukan hanya perayaan budaya, melainkan juga simbol perlawanan terhadap zaman yang penuh gejolak. Di tengah isu hoaks, kerusuhan, dan ketidakpastian, masyarakat memilih untuk kembali pada akar tradisi: menjaga harmoni, memperkuat doa, dan merawat persaudaraan.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa sebuah desa kecil bisa tetap teguh berdiri dengan kearifan lokalnya. Di Tuliskriyo, sejarah, budaya, dan doa bertemu dalam satu panggung, membentuk benteng moral yang melindungi warga dari terpaan zaman.
Dan dengan demikian, pagelaran wayang kulit serta ruwatan di Tuliskriyo pada tahun 2025 ini tak sekadar dikenang sebagai pesta tahunan, melainkan juga sebagai sebuah catatan sejarah: tentang bagaimana sebuah desa menjaga jati dirinya di tengah badai, dengan keteguhan, doa, dan harapan akan kedamaian.(*)
Editor : Zainul Arifin