BLITAR | B-news.id - Senyum bangga tak henti-hentinya terpancar dari wajah pasangan suami istri Dikdik Suwendi dan Heni Kristina Eka Puspita.
Buah hati mereka, Rafardan Azaqi Danendra Suwendi, baru saja menorehkan prestasi gemilang: meraih medali emas dalam ajang bergengsi Indonesia Celenge Taekwondo Championship Piala Menpora 2025.
Baca Juga: Ormas BIDIK Demo Soroti Ketimpangan Wilayah di Kabupaten Blitar
Perhelatan yang digelar di GOR Brawijaya Kediri pada Jumat (4/7/2025) itu mempertemukan para atlet muda terbaik dari berbagai penjuru tanah air.
Namun siapa sangka, dari desa kecil di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, muncul seorang bocah kelas IV Madrasah Ibtidaiyah yang mampu berdiri di podium tertinggi.
Rafardan turun di kategori Under 42 kg perseorangan dan dengan penuh ketenangan serta teknik yang matang, ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya yang tak kalah tangguh.
“Rafa anak yang sangat disiplin, bahkan saat latihan, ia sering datang lebih awal dari pelatihnya,” ujar salah satu pelatih di club tempat Rafardan berlatih di Kota Blitar.
Dikenal pendiam tapi gigih, Rafardan tidak hanya unggul dalam bela diri. Bocah kelahiran 8 September 2014 ini juga mencatatkan prestasi membanggakan di bidang akademik.
Ia pernah meraih Juara 1 Olimpiade IPA tingkat Kabupaten Blitar, sebuah bukti bahwa Rafa adalah anak dengan kemampuan lengkap: otak encer dan fisik tangguh.
Di rumahnya di Desa Plumpungrejo, Kademangan, suasana bahagia masih terasa. Warga desa bangga sekaligus terinspirasi oleh semangat juang anak yang sehari-hari terlihat seperti anak-anak lainnya itu.
“Kami tidak menyangka, anak desa bisa bersaing dan menang di level nasional,” ujar seorang tetangga.
Rafardan saat berlaga di ajang Nadmsional Taekwondo kejuaraan Menpora 2025. (ist)
Baca Juga: ADD 2026 Menurun, Kades dan Perangkat Desa se-Blitar Gelar Hearing dengan DPRD
Rafardan mulai mengenal dunia taekwondo sejak usia 7 tahun. Awalnya hanya sebagai cara untuk melatih kedisiplinan dan kesehatan tubuh.
Namun lama kelamaan, bakat dan kecintaannya pada olahraga bela diri ini tumbuh pesat. Ia bahkan sudah mengoleksi medali emas, perak, hingga perunggu dari berbagai kejuaraan sebelumnya.
“Setiap pulang sekolah, Rafa selalu menyempatkan diri latihan. Kalau hari libur, dia bisa latihan pagi dan sore,” kata sang ibu, Heni Kristina.
Ia mengaku tidak pernah memaksa, semua dilakukan atas kemauan dan kecintaan Rafa sendiri.
Bagi Rafa, setiap pertandingan bukan sekadar ajang unjuk gigi, melainkan kesempatan untuk menguji diri. Ia sudah paham pentingnya sportivitas dan kerja keras sejak dini. “Kalau kalah, aku jadikan pelajaran. Tapi tetap harus semangat latihan lagi,” ucapnya polos namun penuh makna.
Prestasi Rafardan bukan hanya kebanggaan keluarga, tapi juga menjadi motivasi bagi anak-anak Blitar lainnya.
Baca Juga: Lansia Tewas Tertabrak KA di Garum Blitar
Menurut pelatihnya, Rafa memiliki potensi untuk melangkah lebih jauh, bahkan ke ajang internasional. “Kalau terus konsisten, tidak menutup kemungkinan bisa mewakili Indonesia di SEA Games atau Olimpiade nanti,” ujar sang pelatih penuh harap.
Namun, semua itu tentu membutuhkan dukungan. Selain semangat dari keluarga dan pelatih, perhatian dari pemerintah dan dunia olahraga sangat dibutuhkan agar bakat seperti Rafardan tidak terhenti di tengah jalan.
Kini, dengan medali emas tergantung di lehernya, Rafa tetap menjadi anak yang sederhana. Ia masih suka bermain layangan dan sesekali membantu ibunya di rumah. Tapi tekadnya untuk terus berprestasi tak pernah surut.
“Saya ingin jadi atlet nasional. Kalau bisa sampai ke luar negeri, ikut kejuaraan dunia. Biar bisa bikin bangga orang tua dan Blitar,” ucap Rafa, menatap langit sore di halaman rumahnya yang sederhana.
Bagi Rafardan Azaqi Danendra, setiap tendangan bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi tentang mimpi yang terus dikejar – dari desa kecil, untuk Indonesia.(*)
Editor : Zainul Arifin