Bersih Kelurahan Sukorejo: Napak Tilas Tradisi, Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Arus Modernisasi

avatar Sunyoto
Bersih Desa Sukorejo, menjada tradisivwarisan leluhur di tengah arus modernisasi. (ist)
Bersih Desa Sukorejo, menjada tradisivwarisan leluhur di tengah arus modernisasi. (ist)

BLITAR | B-news.id - Di tengah derasnya arus modernisasi dan derasnya kemajuan teknologi informasi, masyarakat Kelurahan Sukorejo, Kota Blitar, tetap teguh menjaga akar budayanya melalui pelestarian tradisi tahunan Bersih Desa.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni adat, melainkan menjadi refleksi spiritual, sosial, dan kultural yang memperkuat identitas lokal masyarakat.

Baca Juga: Ormas BIDIK Demo Soroti Ketimpangan Wilayah di  Kabupaten Blitar 

“Tradisi Bersih Desa bukan hanya ritual rutin, tapi juga bentuk syukur kami kepada Tuhan atas rezeki dan keselamatan yang diberikan sepanjang tahun,” ujar Mastur Hudi, Lurah Sukorejo.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana doa agar warga dijauhkan dari berbagai bencana dan kesusahan.

Kegiatan Bersih Desa Balapan Sukorejo ini digelar pada Kamis Lwgi, 29 Mei 2025, dengan agenda utama Kirab Budaya atau Jodang. Iring-iringan budaya ini dimulai pukul 13.00 WIB dari Jalan Jati Gang 13, dan menampilkan berbagai kesenian lokal serta hasil bumi sebagai simbol syukur masyarakat.

“Kirab ini menjadi bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur. Simbul hasil bumi yang kami arak dalam jodang adalah wujud nyata rasa terima kasih atas panen dan kerja keras warga selama setahun,” jelas Mastur.

Ia menambahkan bahwa tradisi tersebut telah ada sejak masa nenek moyang dan diwariskan secara turun-temurun.

Dalam prosesi kirab, tampak kebersamaan warga begitu kuat. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia bahu-membahu mempersiapkan dan mengikuti acara.

Semangat gotong royong dan kekeluargaan begitu terasa, mencerminkan nilai-nilai luhur budaya Jawa yang terus dijaga.

“Mikul Duwur Mendem Jero,” kata Mastur menyebut pepatah Jawa kuno. “Ajaran baik dari para leluhur harus kita junjung tinggi, sementara yang kurang baik cukup jadi pelajaran dan kita simpan dalam-dalam. Itu filosofi yang kami pegang dalam menjaga tradisi ini,"tambahnya.

Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pemerintah Kota Blitar, termasuk Sekretaris Camat Sukorejo Tri Yuni yang mewakili Walikota Blitar Syauqul Muhibin, serta sejumlah anggota DPRD dari Fraksi PAN dan PDIP, serta Forkompimcam setempat.

Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.

Baca Juga: ADD 2026 Menurun, Kades dan Perangkat Desa se-Blitar Gelar Hearing dengan DPRD

Dalam sambutannya, Walikota Blitar H.Sauqul Muhibin yang dibacakan oleh Tri Yuni menyampaikan bahwa kegiatan Bersih Desa adalah momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, kerukunan, serta upaya menggali potensi seni dan budaya masyarakat.

“Kami akan terus memberikan ruang positif bagi para seniman lokal agar terus berkembang,” ujarnya.

Lebih jauh, pemerintah kota menegaskan bahwa kegiatan seperti Kirab Budaya merupakan benteng penting menghadapi derasnya arus globalisasi.

“Jika tidak ada kegiatan seperti ini, generasi muda bisa makin jauh dari akar budaya dan sejarah masyarakatnya,” lanjut Tri Yuni dalam sambutan tersebut.

Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk mendukung rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno yang berlangsung di Blitar, mulai dari Kirab Pancasila, Hari Lahir Pancasila, hingga Brokohan Harla Bung Karno, Soekarno Coffee Festival, dan Bazaar Blitar Djadoel. Semua acara ini, menurutnya, penting untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan budaya.

Bagi masyarakat Balapan, Bersih Desa bukan hanya tradisi spiritual, tetapi juga sarana untuk mengenang jasa para leluhur yang telah berkontribusi besar dalam membentuk Kelurahan Sukorejo.

Baca Juga: Lansia Tewas Tertabrak KA di Garum Blitar

“Kami selalu mendoakan para pendahulu, terutama cikal bakal wilayah ini, agar jasa mereka tetap dikenang,” ucap Mastur.

Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan acara, dari persiapan hingga pelaksanaan, menjadi bukti bahwa tradisi ini masih sangat hidup dan relevan.

Tidak hanya mempererat tali silaturahmi, Bersih Desa juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda.

Pemerintah Kelurahan Sukorejo berharap Bersih Desa tidak berhenti sebagai acara tahunan semata. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi titik tolak kesadaran kolektif untuk terus menjaga dan mengembangkan budaya lokal sebagai kekuatan sosial yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

“Dengan dukungan dan doa seluruh warga, kami berharap kegiatan Bersih Desa tahun ini membawa keberkahan, mempererat kebersamaan, dan menanamkan cinta budaya pada generasi muda,” pungkas Mastur penuh harap.

Di tengah zaman yang terus berubah, tradisi ini adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Sukorejo. (sun/adv)

Berita Terbaru