GRESIK | B-news.id - Derita petani padi di sepanjang Kali Lamong semakin bertambah, rumah yang kebanjiran dan alat rumah tangga menjadi rusak, sumur yang tercemar, dan padi yang siap panen harga jualnya lebih rendah.
Sejumlah petani di sekitar Kali Lamong kawasan Kecamatan Benjeng, menuturkan padi yang rencana seminggu lagi di panen, terpaksa di panen lebih cepat, pasalnya padi yang terendam air banjir membuat kualitas beras menjadi jelek atau turun dan biasanya berwarna coklat.
Baca Juga: Matematika Jadi Pelajaran Menyenangkan, Peningkatan Guru Dalam Penyajian
Harga gabah basah hasil panen yang sudah di tetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 6.500,-/ kilogram, namun tengkulak hanya berani membeli berkisar Rp 6.200,- sampai Rp 6.300,- setiap kilo gramnya.
Baca Juga: Kawasan Kota Lama Gresik Menarik Wisatawan Mancanegara
"Dari pada padi saya terendam air banjir dan mutu berasnya nanti jelek, ya terpaksa saya panen lebih cepat dari rencana dan posisi batang padi masih tenggelam karena banjir, tengkulak hanya berani membeli Rp 6.200,- setiap kilo gramnya," jelas Mat Soleh, salah satu petani di Benjeng. Jumat (7/3)
Sogol, salah satu petani di Balongpanggang mengaku hal yang serupa, tanaman padinya yang sempat terendam air banjir selama 36 jam dan baru dipanen, di beli tengkulak dibawah harga.
Baca Juga: Sekda Gresik Dorong Industrialisasi Pertanian Berbasis Teknologi
"Gabah hasil panen saya setelah tanaman padi terendam air selama 36 jam, begitu saya panen dan menjadi gabah di beli tengkulak Rp 6.300,- setiap kilo gramnya," ujar Sogol. (*)
Editor : Zainul Arifin