Senja Asa Ormawa dan Kepanitiaan: Signifikansi dan Relevansi bagi Mahasiswa di Tengah Himpitan MBKM

Nazila Rahmaniah Mahasiswa Unair Surabaya. (Ist)
Nazila Rahmaniah Mahasiswa Unair Surabaya. (Ist)
b-news.id leaderboard

Senja asa ormawa dan kepanitiaan memiliki signifikansi dan relevansi yang sangat penting bagi mahasiswa di tengah himpitan program Kampus Merdeka-Magang yang dicanangkan pemerintah melalui Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Namun, dengan munculnya program MBKM justru memunculkan dinamika baru di dunia perkuliahan. Senja asa ormawa dan kepanitiaan, sebagai dua konsep yang terkait, memiliki signifikansi dan relevansi yang sangat penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan dan peluang yang datang dengan kampus merdeka dan magang.

Senja asa ormawa dan kepanitiaan dapat dilihat sebagai kekuatan organisasi yang dapat membantu pengembangan karakter, keterampilan, dan kesadaran mahasiswa.

Kekuatan ini dapat membantu organisasi menjadi lebih efektif dalam meningkatkan kualitas hidup mahasiswa dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam kegiatan sosial dan budaya.

Namun, senja asa ormawa dan kepanitiaan juga memiliki beberapa kelemahan. Salah satu kelemahan adalah keterbatasan sumber daya dan fasilitas yang dapat membatasi kemampuan organisasi dalam meningkatkan kualitas hidup mahasiswa.

Selain itu, kelemahan lainnya adalah keterbatasan kesadaran dan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan sosial dan budaya.

Dalam sintesis, senja asa ormawa dan kepanitiaan memiliki signifikansi dan relevansi yang sangat penting bagi mahasiswa di tengah himpitan MBKM. Jika kita menilik lebih dalam dan memandang dari sudut pandang yang berbeda, Kampus Merdeka-Magang atau lebih tepatnya MBKM digunakakan pemerintah untuk menyibukkan mahasiswa di bidang kegiatan akademik saja tanpa mengeksplorasi kegiatan eksternal.

Nazila Rahmaniah, mahasiswa Unair Surabaya. (Ist) 

Seperti halnya diskusi isu mengenai negara mengenai aksi dan propaganda serta keterlibatan pemerintah masa kini, sehingga pemerintah menjadi lebih bebas mengatur negara tanpa adanya keterlibatan mahasiswa sebagai agent of change. 

Keterlibatan mahasiswa dalam mengkritik keberlangsungan negara bukanlah suatu hal yang baru. Jika menengok sejarah, mahasiswa adalah pemegang peran vital untuk menentukan nasib negara.

Sebagai contoh Angkatan 66 yang tidak hanya beranggotakan sastrawan, namun juga aktivis yang mendominasi gerakan tersebut. Angkatan 66 juga yang begitu getol mendobrak penyelewengan besar yang dilakukan oleh negara, yang dianggap mendorong pada kehancuran.

Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Soe Hok Gie sang icon aktivis mahasiswa. Di mana Gie benar-benar lantang untuk mengkritik pemerintah orde lama yang banyak melakukan penyelewengan. Gie banyak mengkritik pemerintah melalui tulisan-tulisannya yang sangat berani menentang kekuasaan.

Kemudian di era yang bisa terbilang baru adalah aktivis 98, semua yang dilakukan aktivis 98 juga untuk kepentingan rakyat dan demi keberlangsungan negara sebagai garda terdepan untuk membela pilar keberlangsungan negara.

Maka sangat mubadzir sekali jika mahasiswa hanya bergelut dengan kehidupan akademiknya tanpa diimbangi dengan kegiatan aktivisme dan kegiatan lain yang bersifat organisatoris.

Melalui kepanitiaan, mahasiswa akan memperluas relasi dengan interaksi baik sesama mahasiswa ataupun pihak eksternal. Dengan adanya pengalaman ini, akan memperluas wawasan mahasiswa tentang dunia kampus. Juga menjadi wadah untuk mengeksplorasi ide dan daya kreatif mereka yang mungkin tidak terwujud di dalam lingkup akademis formal dan hanya bisa didapat di lingkup dunia eksternal.

Relevansi senja asa ormawa dan kepanitiaan bagi mahasiswa di tengah himpitan MBKM dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, senja asa ormawa dan kepanitiaan memberikan harapan dan motivasi bagi mahasiswa untuk terus berjuang dan berprestasi, walaupun dihadapkan dengan berbagai tantangan dan hambatan. Kedua, kepanitiaan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan, serta meningkatkan kesadaran dan kesadaran diri dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam era kampus merdeka dan magang, mahasiswa dihadapkan dengan berbagai tantangan dan peluang. Tantangan tersebut dapat berupa tekanan akademis, kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan, serta perluasan jaringan dan networking. Indeks-indeks yang harus dipenuhi menjadi beban dan hambatan bagi sebagain mahasiswa yang merasa sulit untuk menyeimbangkan antara dunia akademik atau organisasi.

Sementara itu, peluang yang datang dengan kampus merdeka dan magang dapat berupa kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan.
Senja asa ormawa menjadi simbol harapan dan motivasi bagi mahasiswa untuk terus berjuang dan berprestasi, walaupun dihadapkan dengan berbagai tantangan dan hambatan.

Jika kita sebagai mahasiswa dituntut untuk berprestasi, maka bisa dikatakan bahwa prestasi tidak hanya tentang prestasi yang memperoleh kejuaraan lomba akademik ataupun keolahragaan. Jangan merasa ciut jika kita tidak memiliki prestasi dibidang akademik, tetapi mampu membagi waktu antara kehidupan akademik dan organisasi adalah suatu prestasi bagi kita.

Oleh karena itu, senja asa ormawa dan kepanitiaan menjadi bagian integral dari kehidupan akademis dan profesional mahasiswa, serta memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan dan peluang yang datang dengan kampus merdeka dan magang.

(Penulis adalah mahasiswi UNAIR Surabaya)

b-news.id skyscraper

Berita Lainnya

b-news.id skyscraper