Ramai Guru Ditekan Pilih Paslon Tertentu, Pendidik Serukan Independensi

Beragam organisasi profesi keguruan nonton bareng debat calon presiden kelima di Deep Space, Jakarta Selatan. (Ist)
Beragam organisasi profesi keguruan nonton bareng debat calon presiden kelima di Deep Space, Jakarta Selatan. (Ist)
b-news.id leaderboard

JAKARTA | B-news.id - Yayasan Guru Belajar bersama tujuh organisasi profesi keguruan menyerukan agar partai politik dan tim sukses menghargai independensi kredibilitas intelektual guru. Seruan tersebut terangkum dalam Petisi Pendidikan Kita yang diterbitkan pada, Senin (5/2).

Tujuh organisasi keguruan yang turut menginisiasi dan mendukung yakni Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Komunitas Pengawas Belajar Nusantara (KPBN), Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI).

Dalam petisi itu disebutkan, peran pendidik diuji saat masa pemilu. Sebagian pendidik dihadapkan pada upaya yang mempengaruhi independensi dengan menggiring pilihan pada pasangan calon tertentu.

“Guru pada dasarnya menemani anak-anak, anak beranjak remaja, yang juga mungkin baru belajar tentang pemilu, tentang demokrasi. Apa yang mereka hadapi saat ini, imbasnya akan sangat luas sekali, baik untuk saat ini atau kehidupan demokrasi yang akan datang,” terang Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar.

Petisi tersebut juga ditujukan untuk sesama pendidik agar mendidik murid tentang demokrasi, menjaga independensi, dan mewujudkan iklim sekolah yang demokratis. Selain itu juga mengajak orangtua serta masyarakat berkolaborasi mewujudkan ini.

“Agar memanfaatkan kesempatan percakapan dalam keluarga dan masyarakat untuk menjadi teladan serta memberikan pendidikan politik secara informal sesuai peran masing-masing pada pemilih pemula di sekitar kita,” jelas Bukik.

Guru Masih Jadi Sapi Perahan

Sebelumnya, Bukik Setiawan mengatakan, guru masih jadi sapi perahan. Hal tersebut dia sampaikan saat ditanya oleh Najwa Shihab di Layar Tancap Mata Najwa, Nobar Debat Capres Ronde Kelima pada Minggu (4/2).

“(Permasalahan) yang mendasar apa? Per hari ini yang namanya guru itu seperti sapi perahan. Ketika pilkada jadi sapi perahan. Bahkan di pilpres ini pun sudah ada kasus pengerahan, intimidasi pada guru untuk memilih pasangan tertentu,” ungkap Bukik.

“Belum nanti kalau mau naik pangkat, naik pangkat jadi lagi, sapi perahan lagi, harus setor sana sini. Artinya apa? Artinya martabat guru belum sepenuhnya dihargai oleh ketiga kandidat,” lanjut Bukik.

Dia juga menyayangkan ketiga kandidat yang mengatakan terbuka untuk mendengarkan berbagai pihak; budayawan, pelaku industri telekomunikasi, hingga kaum disabilitas. Namun, ketiganya tidak ada menyebut untuk siap mengundang dan mendengar guru.

Dukungan Organisasi Profesi Terhadap Independensi Keguruan

Adapun masing-masing perwakilan dari tujuh organisasi profesi menyebutkan alasannya mendukung Petisi Pendidikan Kita.

“Guru perlu menjalankan tugasnya secara beretika ke murid. Murid sebagai pemilih awal perlu mendapat dukungan dari guru dengan cara memberikan pendidikan politik yg baik, yaitu bertindak secara Independen. Terlepas dari apapun pilihan pribadi guru itu sendiri. Setia pada etika,” Nunuk Riza Puji, KGBN

“Guru memiliki peran dan tugas yang mulia. Tidak hanya mengajarkan ilmu tetapi juga mendidik dan menguatkan karakter melalui keteladanan. Sebagai pendidik, guru harus setia pada etika, termasuk etika politik atau etika berdemokrasi. Oleh karena itu guru perlu mendapatkan ruang dan dukungan untuk bersikap independen sebagai pribadi yang bermartabat,” Danang Hidayatullah, IGI

“Mungkin semua orang berpandangan bahwa peran guru sangat penting dalam mencerdaskan bangsa, tetapi seringkali menjadi sekadar alat didalam banyak hal, dan bahkan direndahkan dengan tekanan, ancaman dan diperas untuk menyokong kekuasaan yang setelah itu terlupakan. Guru butuh dukungan agar bisa menjalankan peran pendidikan dengan independen sebagai benteng untuk menjaga etika.” Muhammad Niamil Hilda, JSMB

“Guru ujung tombak pencerdasan anak bangsa maka guru harus lebih tajam (profesional) dan lebih bermartabat dan keluarganya harus lebih sejahtera agar guru dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal,”  Halimson Redis, FGII

“Pendidik sebagai teladan murid, hendaknya suci hati menuntun murid. Biarkan pendidik menjalankan amanah bangsa tanpa provokasi. Jangan pemimpin pendidikan yang berpolitik karena kepentingan pribadi. Demi jabatan, rela menggunakan berbagai cara untuk membelokkan marwah pendidikan dan menggadaikan masa depan bangsa,” ujar Wahyu Ekawati, KPBN

“Guru adalah obor, pelita dalam kegelapan. Guru merupakan sumber keteladanan, untuk itu kami menyerukan agar guru-guru seluruh Nusantara bergerak menjadi guru pemersatu bangsa ditengah iklim demokrasi yang rentan terhadap konflik kepentingan. Mari saling menghargai dan menghormati kebebasan berpolitik tanpa saling merendahkan dan menghina, bersama kita ciptakan iklim yang kondusif. Jadikan momentum pemilu sebagai upaya untuk mendorong keberpihakan politik pada kesejahteraan dan perlindungan profesi pendidik.” - Achmad Zuchri, Pergunu.

“Menyayangkan oknum guru yang menyampaikan kampanye memihak paslon tertentu di kelas. Hal ini mencederai esensi pendidikan politik.” Sumarni, PGSI.

Yayasan Guru Belajar adalah lembaga philanthropic intermediary yang memberdayakan guru menjadi penggerak perubahan melalui kolaborasi beragam organisasi penggerak: keguruan, kepemimpinan, jaringan sekolah/madrasah. Yayasan Guru Belajar bergerak melalui Kampus Guru Cikal, Kampus Pemimpin Merdeka, dan Cerita Guru Belajar, serta berkolaborasi aktif dengan Teach First Indonesia. (ril/za) 

b-news.id skyscraper

Berita Lainnya

b-news.id skyscraper