SIDOARJO - B-news.id - Senin Pagi itu (2/5) sejak pukul 05.00 WIB, masyarakat dari berbagai penjuru Sidoarjo antusias dan berbondong- bondong menuju pelataran halaman SMA Muhammadiyah 2 Sidorjo untuk menunaikan ibadah sholat Ied berjamaah.
Ada yang berjalan kaki, ada pula yang naik motor serta ada pula yang mengendarai mobil Setelah menempati shaff dengan rapi, jamaah sholat di imami oleh ustad Bakhtiar, Mpd , kemudian dilanjutkan khutbah yang di sampaikan oleh Profesor Ahmad Zainuri, MA, Phd.
Dalam khutbahnya beliau menyampakaian, saat ini ada opini yang aneh yang didengung- dengungkan oleh sebagain elite yakni bahwa kata kafir dianggap sudah tidak relevan lagi.
Maka sebaiknya di ganti dengan non muslim saja. Ini jelas berbahaya kafir itu tidak hanya bisa di sematkan atau di labeli pada non muslim saja. Orang- orang Islam yang ingkar, menentang aturan Allah itu juga bisa dilabeli kafir.
"Pasca perang Sifin, kelompok yang kalah karena menentang ajaran Islam juga dilabeli sebagai kafir. Dan yang paling penting untuk kita ketahui bersama bahwa kata- kata kafir itu tercantum, itu sebenarnya dalam kitab suci Al Qur’an. Apa kita mau merubah surat itu?.Tentu tidak mungkin, "katanya.
Islam itu lanjutnya, mengajarkan tentang segala hal secara sempurna. Dalam perspektif hukum ada istilah praduga tak bersalah. Itu adalah merupakan dari ajaran Islam. Karena Islam mengajarkan prinsip bahwa manusia sejak lahir maka itu suci, tidak punya dosa.
"Nah lingkunganlah yang mempengaruhi ke arahbyang baik dan buruk. Fenomena menarik yang terjadi adalah Islam phobia. Umat Islam ditakut- takuti dengan ajarannya sendiri. Gebug dulu baru bicara hukumnya. Ini khan nggak benar. Yang kritis langsung dianggap sebagai radikalis. Saya khawatir, jangan- jangan sholat ied di tanah lapang seperti ini di cap sebagai kaum radikalis.” pungkasnya. (sukoco)
Editor : Redaksi