MALANG | B-news.id - Sabtu sore itu, sebut saja Ny Sartini mendapat telepon GSM dari nomer yang belum di catat, dalam telepon tersebut si pria penelepon mengabarkan bahwa anak kandung yang kuliah di kota Malang kedapatan membawa narkoba, tertangkap saat ada operasi.
"Selamat sore, dalam operasi sore tadi anak saudara kedapatan membawa narkoba, mumpung belum di bawa ke kantor, kami bisa bantu, keputusan mesti diambil secara cepat dan jangan hubungi siapapun," begitu telepon dengan suara yang cukup ber wibawa.
Baca juga: Trauma Healing Polri, Dukungan Psikologis bagi Anak Korban Banjir Bandang di Padang Pariaman
Ny Sartini seketika lemas, dan untung saja suaminya yang anggota TNI baru saja masuk rumah, mendapati istrinya pucat dan gemetar, sontak HP ditangan istrinya diambil alih, dan mencoba dialog dengan penelpon di seberang dengan suara yang di buat seolah olah sedang ketakutan.
"Iya pak Ndan, anak saya jangan dipukul, jangan di bawa ke markas, saya harus bagaimana?," jawab Tedy berpangkat sersan dan suara dibuat seolah menuruti penelepon.
Mendapati calon korban panik dan seperti menyerah, selanjutnya penelepon yang mengaku anggota Polri ini menyuruh untuk segera mengirimkan uang sebesar Rp 50 juta pada nomor rekening yang sudah disebutkan.
Tedy yang ingin mengerjai penipu ini sengaja mengulur dan mengajak ngobrol selama mungkin, dan sekaligus untuk menguak identitas penelepon yang mengaku anggota polri.
Baca juga: Polri Bantu Kuras Air Yang Merendam Kompi Senapan A Yonif 111 / Aceh Tamiang
"Waduh pak Ndan, kami tidak punya ATM, kalau uangnya saya antar secara langsung, saya bisa ketemu di mana, di warung kopi atau di ruangan kerja pak Ndan?," nego Tedy untuk menguak identitas.
"Kalau mau ditolong ini anak, jangan serahkan secara langsung, minta tolong saudara atau tetangga yang punya ATM, kalau terlambat anak saudara ini segera saya bawa untuk di proses," penelepon semakin menekan korban.
Karena anaknya baru sekolah ditingkat SD dan dari keluarga besarnya tidak ada yang kuliah di kota Malang, sementara telepon GSM ini sudah berlangsung hingga hampir 2 jam, dan penelepon sudah mulai kurang sabar menanyakan berapa lama bisa kirim uang lewat rekening.
Baca juga: RSUD Syamrabu Bangkalan Pecat 3 Karyawan Terlibat Narkoba
"Sudah pak polisi gadungan, anak itu di bawa saja dan segera dimasukkan bui, kebetulan anakku masih SD, belum ada yang kuliyah", ucap Tedy dengan intonasi tegas setengah mengejek.
Si penelepon marah dan mengeluarkan kata-kata kotor, serta segera menutup telepon. (Penipu yang apes) *
Editor : Zainul Arifin