Dinkes Kabupaten Blitar Luncurkan Empat Inovasi Yankes untuk Percepatan Stunting

Reporter : Sunyoto
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr. Christine Indrawati, M.Kes., (ist)

BLITAR | B-news.id - Dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar resmi meluncurkan empat inovasi layanan kesehatan (yankes) berbasis sinergi dan kolaborasi multisektor.

Keempat inovasi tersebut adalah Tali Centing (Kelompok Wanita Peduli Pencegahan Stunting), SIPENTING (Sistem Informasi Pemetaan Balita Stunting), NING SUKA AKU (Peningkatan Nafsu Makan Balita Bermasalah Gizi melalui Akupresur), dan SAT SET (Sadar Terjadwal Sedot Tinja).

Baca juga: HUT Korpri Ke-54, Pemkot Mojokerto Salurkan Berbagai Bantuan, Stunting Hingga Lansia Sebatang Kara

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr. Christine Indrawati, M.Kes., menjelaskan bahwa inovasi-inovasi ini dirancang untuk menekan prevalensi stunting secara signifikan dengan pendekatan lintas sektor, khususnya melalui peran aktif masyarakat, organisasi wanita, dan dukungan data berbasis teknologi informasi.

“Penurunan stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Kami menggandeng organisasi wanita seperti Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiyah, dan Nasyiyatul Aisyiyah untuk berperan aktif dalam program Tali Centing. Mereka menjadi motor penggerak balita untuk datang ke Posyandu serta memantau asupan makanan tambahan balita,” jelas dr. Christine saat peluncuran program.

Inovasi Tali Centing terbukti efektif dalam menjangkau komunitas ibu-ibu, terutama di pedesaan, dengan memberikan edukasi, pengawasan konsumsi PKMK (Pemberian Makanan Keluarga untuk Kesehatan) dan PMT lokal (Pemberian Makanan Tambahan), serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemantauan tumbuh kembang balita.

Sebagai pendukung teknis, Dinas Kesehatan juga mengembangkan SIPENTING yang memungkinkan pemetaan lokasi balita stunting di seluruh wilayah Kabupaten Blitar. Sistem ini menghadirkan data dasar penting untuk intervensi cepat dan tepat sasaran.

“Dengan SIPENTING, kami bisa mengetahui secara rinci titik-titik rumah balita stunting. Ini membantu kami menentukan prioritas intervensi dan memantau progresnya. Sistem ini juga kami integrasikan dengan kegiatan Posyandu dan pendataan kader di lapangan,” tambah dr. Christine.

Prorgam Inovasi yankes Dinas Kesehatan Kabupsten Blitar. (ist)

lainnya adalah NING SUKA AKU, yang melibatkan orang tua secara aktif dalam mengatasi masalah nafsu makan balita dengan metode akupresur. Metode ini mengajarkan teknik pijat di titik-titik tertentu untuk merangsang nafsu makan balita yang mengalami gangguan gizi.

Baca juga: Sukses Atasi Stunting, Kota Mojokerto Terima Dana Insentif Fiskal Rp 6 Miliar dari Kemenkeu

“Kami memberikan pelatihan kepada para ibu untuk memijat anaknya secara rutin pada titik-titik akupresur yang sudah ditentukan. Ini metode alami dan mudah dilakukan di rumah. Harapannya, nafsu makan meningkat, nutrisi terpenuhi, dan angka stunting menurun,” ungkap dr. Christine.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga memperkenalkan inovasi SAT SET yang fokus pada intervensi berbasis lingkungan, khususnya pada peningkatan kualitas sanitasi dan pengelolaan limbah. Program ini menyasar pola hidup bersih dan sehat dengan mendorong masyarakat untuk melakukan penyedotan tinja secara terjadwal.

“Stunting juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Melalui SAT SET, kami mendorong masyarakat untuk sadar pentingnya sanitasi yang layak dan aman. Air bersih dan fasilitas sanitasi yang sehat akan mencegah infeksi menular yang kerap menjadi akar masalah kekurangan gizi pada balita,” katanya.

Program SAT SET juga menyasar peningkatan akses air minum dan sanitasi layak di wilayah rawan stunting. Ketersediaan sanitasi yang aman turut berperan dalam menurunkan kejadian diare, disentri, hepatitis, dan infeksi kulit yang berulang pada anak-anak.

“Kami tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan jangka panjang. Penyakit infeksi yang berulang karena sanitasi buruk bisa menyebabkan gangguan gizi kronis. Maka dari itu, SAT SET menjadi program penting dalam mendukung target nasional penurunan stunting,” tegas dr. Christine.

Baca juga: Lagi, Bapenda Kabupaten Mojokerto Luncurkan 4 Inovasi Layanan Prima

Kepala Bappeda Litbang Kabupaten Blitar, Drs. Rully Wahyu Prasetyowanto, S.E., menyatakan dukungan penuhnya terhadap inovasi yang dilakukan Dinas Kesehatan. Menurutnya, sinergi antara data, masyarakat, dan intervensi lapangan adalah kunci keberhasilan program penurunan stunting di Kabupaten Blitar.

“Empat inovasi ini bukan hanya gagasan teknis, tetapi juga wujud nyata kepedulian dan kerja kolaboratif. Kami di Bappeda tentu akan memastikan sinergi perencanaan dan pendanaan lintas sektor demi keberlanjutan program ini,” ujar Rully.

Pemerintah Kabupaten Blitar menargetkan penurunan angka stunting yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan melalui pendekatan inovatif, berbasis data, dan pemberdayaan masyarakat. Seluruh inovasi tersebut diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah dengan karakteristik serupa.

Dengan peluncuran empat inovasi ini, Kabupaten Blitar menegaskan komitmennya untuk menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan unggul di masa depan. Kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat menjadi pondasi utama keberhasilan program ini.(*)

Editor : Zainul Arifin

Daerah
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru