SURABAYA | B-news.id — Kinerja satu tahun kepemimpinan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Armuji dinilai telah melahirkan banyak program baik. Namun demikian, program-program yang tengah berjalan masih memerlukan pembenahan agar dapat dituntaskan dan berjalan konsisten sesuai perencanaan awal.
Penilaian tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Setahun Kepemimpinan Eri–Armuji, Apa Kabar Surabaya” yang diselenggarakan Forum Wartawan (Forwan) Surabaya, Kamis (5/2/2026).
Salah satu pembicara menegaskan bahwa tantangan utama bukan pada perumusan kebijakan, melainkan pada tahap implementasi. “Programnya bagus, tinggal bagaimana pembenahan dilakukan agar pelaksanaannya tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni. Politikus Partai Golkar ini menilai Eri Cahyadi sebagai pemimpin dengan gaya teknokratik yang kuat dan detail dalam perencanaan. Bahkan, alur berpikir Eri dalam merancang masa depan Surabaya melalui RPJMD disebutnya sebagai sebuah geniusitas berpikir.
Namun demikian, Fathoni juga menyoroti masih adanya hambatan di level pelaksana. Ia menilai sebagian birokrasi di lingkungan Pemkot Surabaya belum sepenuhnya memahami kehendak wali kota. “Gerakan mereka masih lambat, terutama dalam koordinasi lintas OPD,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Fathoni juga menyinggung dinamika media sosial yang sempat memanas dan berpotensi memicu konflik komunal berbasis kesukuan. Ia mengakui langkahnya yang sempat “mengambinghitamkan” Kepala Bakesbangpol sebagai upaya menjaga stabilitas kota, karena saat itu Bakesbangpol dinilai pasif dalam memitigasi potensi konflik.
Langkah tegas tersebut, menurutnya, membuahkan hasil. Setelah Komisi A DPRD melakukan interupsi, koordinasi antarinstansi berjalan lebih cepat dan berhasil mereduksi ketegangan di media sosial.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko—akrab disapa Cak YeBe—menyoroti sisi lain pembangunan, khususnya terkait terabaikannya situs cagar budaya. Ia mencontohkan rumah Bung Tomo, tempat dikobarkannya semangat perlawanan arek-arek Suroboyo pada November 1945.
“Banyak orang mengira pidato Bung Tomo disiarkan dari RRI, padahal seruan takbir dan pembakar semangat itu justru dikumandangkan dari rumah Bung Tomo, yang di belakangnya ada gambar sarang laba-laba,” ujarnya.
Menurut Cak YeBe, rumah bersejarah tersebut kini entah tergusur ke mana dan tidak jelas bentuk bangunannya, padahal nilainya setara dengan rumah HOS Cokroaminoto atau rumah di kawasan Peneleh yang telah dilestarikan.
Sebelumnya, Kepala Bappeda Litbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, memaparkan capaian satu tahun kepemimpinan Eri–Armuji. Ia menjelaskan arah pembangunan 2025 difokuskan pada penguatan kapasitas Surabaya menuju pertumbuhan ekonomi inklusif melalui peningkatan sumber daya manusia dan kerja sama strategis.
Visi besar yang diusung adalah Transformasi Kota Surabaya Menuju Kota Dunia yang Maju, Humanis, dan Berkelanjutan.
Dari sisi pembangunan manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya pada 2025 mencapai 85,65, naik dari 84,69 pada 2024. Angka kemiskinan turun menjadi 4,84 persen, sementara Indeks Gini menurun ke 0,369. Tingkat Pengangguran Terbuka terkendali di angka 5,76 persen, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 3,56 persen dan nilai investasi mencapai Rp43,6 triliun.
Kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada 2025 mencapai 75,6 persen dari total APBD. Pengelolaan keuangan daerah pun kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK untuk ke-13 kalinya secara berturut-turut.
Dalam reformasi birokrasi, Pemkot Surabaya mempercepat transformasi digital melalui aplikasi Sayang Warga, Surabaya Single Window (SSW), serta layanan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang diklaim hanya membutuhkan waktu 15 menit di MPP Siola. Surabaya juga meraih Terbaik I Satu Data Awards kategori kabupaten/kota.
Pendekatan pelayanan berbasis komunitas diperkuat melalui pembangunan 1.190 Balai RW hingga 2025, meski masih terdapat 171 RW yang belum memiliki fasilitas serupa.
Dalam aspek sosial, Surabaya mempertahankan predikat Kota Layak Anak tingkat Utama dan menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang tergabung dalam jaringan global Child Friendly Cities Initiative (CFCI) UNICEF. Program kesehatan seperti 1 RW 1 Nakes, 1 Kelurahan 1 Ambulans, penguatan Posyandu Keluarga, hingga pembangunan RSUD baru terus digencarkan.
Di sektor ekonomi, penguatan UMKM dilakukan melalui pelatihan, kurasi produk, akses permodalan, dan digitalisasi lewat E-Peken. Sebanyak 114.759 produk tercatat aktif dengan transaksi mencapai Rp223,2 miliar. Surabaya juga mencatat 25,4 juta kunjungan wisata, menempatkannya dalam 10 besar destinasi wisata singkat di ASEAN.
Sementara di bidang infrastruktur dan lingkungan, pembangunan dan perbaikan jalan, drainase, pengelolaan sampah, serta perluasan ruang terbuka hijau terus dilakukan. Surabaya bahkan masuk dalam Top 50 dari 630 kota di 33 negara dalam inisiatif global lingkungan, sebagai satu-satunya wakil Indonesia.
Irvan menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi pentahelix antara pemerintah, masyarakat, swasta, akademisi, komunitas, dan media. Dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa, Pemkot Surabaya menegaskan komitmennya menjaga arah pembangunan yang inklusif.
Setahun kepemimpinan Eri–Armuji bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan fondasi awal menuju Surabaya sebagai kota dunia yang maju, humanis, dan berkelanjutan, dengan tata kelola kuat, ekonomi tumbuh, dan warga yang semakin berdaya.(*)
Editor : Redaksi