Paguyuban Reog Pawargo Gresik Setia dan Khidmat untuk Sesama

Warga Ponogoro yang berada di Gresik saat merayakan lebaran. (Ist)
Warga Ponogoro yang berada di Gresik saat merayakan lebaran. (Ist)
b-news.id leaderboard

GRESIK | B-news.id - Bagi warga yang tinggal di perantauan, maka begitu ketemu yang seasal daerah langsung merasa seperti saudara , bahkan lebih dari saudara kandung, demikian disampaikan ketua paguyuban warga Ponorogo (Pawargo), Edi Purnomo, Selasa (23/4). 

"Paguyuban warga Ponorogo di Gresik ini sudah memasuki generasi ke lima, dan puncaknya adalah saat pabrik Semen Gresik masih ber operasi serta beberapa pabrik kayu yang sering eksport, saat ini jumlah warga Ponorogo di Gresik mencapai puluhan keluarga, bahkan mencapai ratusan, " terang Edi. 

Bermula tahun 1981 beberapa keluarga Ponorogo di kota Gresik sering bertemu dan kangen dengan budaya asal, maka disepakati membentuk perkumpulan keluarga yang berasal dari Ponorogo. 

Seiring perjalanan waktu dan saat itu PT Semen Gresik ketika turun ke masyarakat yang jauh dari pabrik dengan menggandeng tim kesenian setempat, maka reog dari Pawargo ini yang sering diajak untuk tampil di masyarakat atau di ajang kesenian. 

"Saat ini kita sudah mempunyai 3 Dadak Merak, dan perangkat musik pengiring, sehingga kalau ada undangan untuk tampil atau mengisi acara, kita dengan senang hati menerimanya, " jelasnya. 

Humas Pawargo, Slamet Kurniadi menjelaskan setiap tahun selalu rutin di gelar silaturahim keluarga besar Pawargo Gresik dengan mengundang dari beberapa wilayah Kabupaten lain, seperti : Lamongan, Tuban, Bojonegoro ,Surabaya, Sidoarjo, dan Bangkalan. 

"Silaturahim dan sekaligus halal bihalal selalu di gelar tiap tahun dan ber urutan, juga ber giliran, yang dari Gresik mengundang dari luar Gresik, di minggu berikut ganti mereka yang mengundang," jelas Slamet. 

Lebih lanjut dikatakan perkumpulan ini bersifat terbuka dan lebih banyak untuk menolong warga Ponorogo yang baru merantau di Gresik, bagi mereka yang merantau dan tidak punya sanak saudara di tampung dan diarahkan kerja di pabrik atau salah satu rumah kenalan. 

"Bagi perantau yang tidak punya jujugan saudara, dari perkumpulan ini membantu menyalurkan agar mereka tidak sampai terlantar, untuk biaya makan dan minum selama mereka belum mendapat penghasilan di tanggung oleh anggota Pawargo yang sudah sukses," papar Slamet. 

Silaturohim sekaligus halal bi halal bagi paguyuban warga Ponorogo ( Pawargo) di gelar di Galery Pudak, pada Minggu (21/4) dengan di hadiri hampir seluruh anggota, sesepuh, serta pertunjukan reog. (ali)

b-news.id skyscraper

Berita Lainnya

b-news.id skyscraper