BANYUWANGI | B-news.id - Masih ramai menjadi perbincangan berkenaan manfaat dan tujuan penggunaan toga di wisuda sekolah hingga memunculkan kontroversi di kalangan masyarakat Banyuwangi.
Kontroversi dan silang pendapat itu santer di kalangan masyarakat khususnya yang memahami esensi penggunaan toga wisuda sebagaimana mestinya.
Dirangkum dari berbagai sumber, banyak kalangan menilai bahwa penggunaan toga wisuda selain pada saat wisuda perguruan tinggi dianggap kurang etis dan kurang tepat.
Bahkan, bermunculan opini publik maupun stigma buruk bahwa kegiatan itu hanyalah bentuk eksploitasi pihak sekolah kepada anak didik yang sudah pasti masih akan melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya.
Menilik esensi penggunaan toga wisuda dalam acara ceremonial wisuda perguruan tinggi jika kita tinjau dari nilai historis sejarahnya sendiri, kata toga berasal dari kata "Tego" dan memiliki makna "Penutup".
Dari situ dapat kita tarik kesimpulan bahwa penggunaan toga diluar acara kelulusan perguruan tinggi dirasa kurang tepat mengingat meski lulus dari TK, SD, SMP, dan SMA, anak-anak tersebut masih akan melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Fenomena yang memunculkan pro dan kontra itu membuat Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi, Abdul Konik, angkat bicara.
Dirinya menyayangkan adanya tradisi baru wisuda kelulusan sekolah tersebut yang menjadi trend, menurutnya kurang tepat justru malah menambah beban bagi wali murid.
Abdul Konik, Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi. (Irw)
"Kami sangat menyayangkan hal itu, karena terlebih kegiatan itu akan menambah beban bagi wali murid yang kurang mampu," ujar demisioner wakil presiden mahasiswa UBI itu.
Mahasiswa yang akrab disapa Konik itu juga menambahkan, bahwa banyak temuan di lapangan, yang seharusnya menjadi moment bahagia malah sebaliknya bilamana wali murid tidak mampu mengikuti trend tersebut
Terlebih, pihak sekolah seolah tidak mau tahu. malahan, banyak sekali kasus para wali murid hingga berhutang atau menjual barang berharganya demi agar si anaknya dapat mengikuti kegiatan wisuda kelulusan tersebut.
"Bahkan pernah kami temui beberapa kasus, seorang murid rela datang ke acara wisuda meski tak mengenakan toga. nah, apakah itu tidak merusak mental dan karakter anak namanya," ungkap Konik.
Mendapati kenyataan tersebut, Konik melalu GMNI UBI mengkampanyekan agar marwah penggunaan toga dikembalikan sebagaimana mestinya yaitu untuk wisuda mahasiswa, sesuai dengan esensi dan sejarah toga itu sendiri bukan untuk siswa.
Seperti diketahui, ceremonial wisuda untuk siswa-siswi TK, SD, SMP, SMA tidaklah murah, terlebih wali murid masih harus memikirkan biaya untuk masuk ke jenjang sekolah lanjutan.
Lebih lanjut, konik menduga, kegiatan itu hanyalah dalih dari segelintir oknum guru sekolah untuk meraup keuntungan dengan alibi memanfaatkan moment kelulusan.
Untuk itu, melalui GMNI bersama organisasi kemahasiswaan lainnya, Konik akan menemui dan mendesak agar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Suratno, S.Pd, MM untuk melarang bahkan menindak tegas oknum yang melanggar.
"Karena ini sangat merugikan warga yang tidak mampu, dan acara seperti ini tidak memiliki esensi apapun bagi kelulusan siswa sekolah, hanya hura hura semata," tandasnya. (irw)
Editor : Zainul Arifin